UII Melawan Radikalisme dan Terorisme

Gerakkan Netizen Laporkan Akun Provokatif

SM/Agung PW : Yudi Prayudi
SM/Agung PW : Yudi Prayudi

Aksi pengeboman oleh teroris di Surabaya membuat semua pihak prihatin. Di tengah suasana duka seluruh bangsa, ternyata masih ada yang malah menertawakan dan mendukung aksi teroris tersebut. Bahkan tidak sedikit yang terang-terangan menyatakannya di media sosial.

KONDISI miris di media sosial tersebut membuat Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta semakin prihatin. Namun keprihatinan itu, bukan berarti menyerah dan pasrah. UII langsung bergerak, mengambil langkah nyata. Para aktivis Pusfid bergerak melawan melalui kampanye ‘’Think Before

Click atau berpikir sebelum melakukan klik di media sosial. ‘’Lebih dari itu, kami meminta warganet berani melaporkan akun-akun media sosial yang sangat banyak menyebarkan aliran-aliran radikal atau mendukung gerakan radikal tersebut. Sangat mudah karena banyak akun pemerintah, polisi, TNI, Kominfo yang siap menerima pengaduan,’’ tandas Direktur Pusfid Yudi Prayudi MKom.

Lembaganya selama ini dikenal sering membantu aparat membongkar berbagai kejahatan siber. Pusfid yang didirikan pada 2014 itu berada di bawah Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri. Pusat studi ini berfungsi sebagai unit yang memfasilitasi pengembangan bidang ilmu forensika digital. Tiga misi utama, mengembangkan kajian keilmuan dalam bentuk penelitian maupun kurikulum pendidikan bidang digital forensics, cybercrime, digital evidence, steganography and watermarking, serta computer security. Tujuannya, memberikan edukasi penyiapan SDM dengan kompetensi forensika/investigator/analis digital serta memberikan layanan jasa investigasi kasus yang melibatkan aktivitas dan penanganan bukti digital serta penyediaan tenaga ahli untuk memberikan klarifikasi temuan dan uji barang bukti digital.

Melawan Bayangan

Dosen Magister Teknik Informatika itu menuturkan, upaya menentang terorisme yang bergerak dalam ruang siber dapat diibaratkan seperti berperang melawan bayangan karena pergerakan, strategi, sasaran tidak jelas, serba menduga dan menebak. Ruang siber yang begitu luas, membuat upaya itu tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknologi. Tim juga harus melibatkan secara aktif para penggiat di ruang siber. Kerusuhan di LP Cipinang Cabang Kelapa Dua (Mako Brimob) serta serangan bom di Surabaya dari pemberitaan media, terungkap satu informasi penting. Ternyata kedua peristiwa itu didukung oleh aktivitas nyata dari para pelaku dan jaringannya di media sosial. ‘’Untuk mengantisipasi korban nyawa tak berdosa akibat serangan teroris, harus disinergikan solusi berbasis teknologi dan pengamatan cermat secara manual. Upaya itu harus melibatkan dukungan dari komunitas yang juga turut aktif melaporkan konten yang dianggap membahayakan masyarakat dan negara,’’ tegasnya.

Menurut data We are Social, pengguna terbesar media sosial di Indonesia, yakni Youtube, Facebook, Whatssapp, Instagram, Line, BBM, dan Twitter. Walaupun belum ada penelitian secara khusus tentang korelasi penyebaran paham terorisme dalam ruang siber dan media sosial di Indonesia, namun kesesuaian data tersebut menunjukkan Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter berpotensi besar sebagai media sosial yang banyak digunakan untuk penyebaran konten terorisme di Indonesia. Karena itu, perlu keterlibatan warganet di mediamedia sosial tersebut untuk berperan aktif memerangi radikalisme dan terorisme. Caranya, jangan ragu untuk melaporkan akun atau aktivitas di media sosial yang bisa menyuburkan terorisme dan membahayakan keselamatan seluruh rakyat Indonesia. (Agung PW-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar