Munawir Aziz:

Pesantren Amalkan Islam Cinta Sesama

Pesantren, baik sebagai sistem maupun lembaga pendidikan, menyumbang besar pada negeri dan bangsa ini. Pesantren menguarkan pula semangat merawat kebinekaan dalam konteks keindonesiaan. Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto dengan wakil sekretaris Lembaga Taílif wan Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Munawir Aziz MA.

Bagaimana sekilas sejarah pendidikan di pesantren?

Sejarah pendidikan di pesantren tak bisa dilepaskan dari kiprah Walisanga dalam penyebaran Islam di Nusantara. Terutama, ketika Sunan Ampel membangun padepokan sebagai model awal pesantren. Itu secara historis terlacak oleh beberapa peneliti. Setelah itu, Perang Jawa (1825-1830) menjadi penanda penting. Betapa para pemimpin dan pejuang pasca-Perang Jawa membangun jaringan komando dengan membangun pesantren di beberapa kawasan, terutama Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten.

Apa keunggulan sistem pendidikan di pesantren?

Keunggulan sistem pendidikan di pesantren terletak pada pembangunan dimensi karakter atau akhlak. Bagi santri, adab lebih penting, di atas pengetahuan. Orang yang berpengetahuan tinggi tetapi tidak berakhlak dianggap nista. Itulah karakter dasar yang dibalut spiritualitas. Selain itu, sanad (alur pengetahuan) sangat penting. Semua ilmu yang dipelajari di pesantren memiliki jaringan sanad hingga Nabi Muhammad. Karena itulah, hubungan guru-murid penting. Alur pengetahuan itu membuat kesahihan ilmu di pesantren terjaga di tengah kemelimpahruahan pengetahuan dan informasi pada era digital, yang terkadang tak memiliki sumber dan referensi jelas.

Bagaimana penghargaan terhadap keragaman dan perbedaan di pesantren?

Di kalangan pesantren sejak awal terbangun cara pandang dan sikap yang relatif lentur terhadap perbedaan. Teologi yang dibangun mengamalkan teks-teks Alquran dan hadis yang mendasari relasi antaragama, antarkultur: wa ja’alnakum syu’uban waqabaaila lita’arafu. Jadi keberadaan etnis dan bangsa-bangsa ini untuk saling mengenal. Komunitas pesantren lebih terbuka terhadap komunitas lintas agama dan budaya, karena dasar ilmu ushul dan fikih yang diamalkan secara bijaksana untuk kehidupan. Bisa kita saksikan, kiaikiai pesantren di berbagai tempat berhubungan akrab dengan komunitas lintas etnis dan agama. Hubungan akrab kiai pesantren dan warga Tionghoa di beberapa tempat menjadi contoh.

Apa peran pesantren dalam membangun dan menumbuhkan kesadaran kebangsaan?

Kiai-kiai pesantren berjuang bersama tokoh-tokoh bangsa dalam perjuangan kemerdekaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, kiaikiai pesantren melalui jaringan tarekat melawan di beberapa kawasan. Kita bisa melacak, jaringan tarekat sangat efektif merepotkan barisan pertahanan kolonial. Snouck Hurgronje menyadari hal itu, ketika ditugasi pemerintah kolonial Belanda di Nusantara. Pada masa awal kemerdekaan, seruan jihad yang dikumandangkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mampu menggerakkan santri dan warga Jawa bagian timur untuk berjuang mempertahankan Indonesia. Fatwa Jihad 22 Oktober 1945 menginspirasi peristiwa di Surabaya, 10 November 1945, yang semangatnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Bagaimana pesantren berperan serta mengadang radikalisasi dan intoleransi dalam kehidupan keberagamaan dan kebangsaan?

Di pesantren ada sebuah makalah penting: hubbul wathan minal iman, cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Itu bukan teks hadis, melainkan prinsip yang digemakan Kiai Hasyim Asy’ari. Pesan itu diterjemahkan komunitas pesantren dalam semangat membela bangsa dan negara serta melawan radikalisasi dan intoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwa dengan cinta tanah air, yang muncul adalah semangat membela bangsa, bukan meruntuhkan negara. Itulah prinsip kaum santri dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia. Jika ada orang secara radikal berupaya meruntuhkan Indonesia berarti tidak cinta tanah air. Kaum santri berislam dengan Islam moderat, Islam rahmatan lil’alamin. Islam cinta yang menebarkan kasih sayang.

Bagaimana posisi strategis pesantren dalam sistem pendidikan di negeri ini?

Pesantren menjadi tulang punggung sistem pendidikan nasional. Di pesantren diajarkan ilmu secara komprehensif. Relasi antara pengetahuan, akhlak, dan spiritualitas terjalin seimbang. Itulah sumbangsih bagi pengetahuan nasional. Sistem pendidikan di Indonesia dewasa ini mengupayakan pendidikan karakter, yang dapat menggali dari khazanah pesantren dan nilai-nilai kearifan lokal di Nusantara. Di sisi lain, dengan jumlah santri yang besar, model pendidikan pesantren memberi sumbangsih bagi pengembangan pendidikan di negeri ini. Dalam 20 tahun terakhir, ketika pintu kesempatan yang sama terbuka untuk semua warga, banyak sekali santri kuliah dan mengakses beasiswa di Amerika, Eropa, Australia, dan beberapa negara Asia.

Bagaimana prospek pendidikan di pesantren kelak?

Komunitas pesantren mengamalkan prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadimi as-shalih wal akhdzu bil jadidi al-ashlah, menjaga nilai-nilai lama yang bagus, seraya mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Itu prinsip moderasi sekaligus nilai dinamis di kalangan santri. Kiai Ma’ruf Amin menambahkan, wal-ishlah ila ma huwa alashlah tsummal ashlhah fal-ashlah, memperbaiki apa yang belum menjadi baik, untuk menjadi lebih baik, dan perbaikan terus-menerus. Santri harus berperan dalam perbaikan kehidupan berbangsa bernegara. Kontribusi itu di lintas bidang dan saling mengisi. Nah, prospek pendidikan pesantren di tengah era digital menjadi sangat relevan.

Di tengah kegalauan manusia modern, pendidikan pesantren yang menekankan pada keseimbangan pengetahuan, akhlak, dan spiritualitas memberi sumbangsih berarti. Sekarang, Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI), yang dikomando Gus Rozien (KH Abdul Ghaffar Rozien), sangat peduli terhadap pengembangan pesantren pada pelbagai aspek: pendidikan, ekonomi, sumber daya manusia, hingga akses teknologi.

RMI NU peduli terhadap pertumbuhan kelas menengah muslim; pesantren harus mampu menjadi bagian dari pertumbuhan itu. Tentu dengan pelbagai perubahan dari sistem, sumber daya, hingga infastruktur yang terkoneksi dengan kelas menengah muslim, seraya tetap menjaga nilainilai pesantren. Saya optimistis, para santri memberi sumbangsih pada moderatisme Islam, peradaban muslim, serta kemajuan ilmu pengetahuan.

Semangat itu terkoneksi dengan prinsip dasar komunitas pesantren dalam menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Komunitas santri mengamalkan Islam moderat yang menebarkan kasih sayang bagi seluruh alam, Islam cinta bagi sesama.(44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar