BACA BUKU

Ketika Penyincing Daster Berbagi

Vika Aditya, Galuh Sitra, Geriel Farah, Gusti Hasta, Irza Khurun’in, Susi Haryani, dan Endro Gusmoro telah menulis. Siapa mereka, yang mendaku diri eksponen Nyincing Daster Club (NDC) ini? Apa pula yang mereka tulis? Sebagaimana diperikan (atau mereka memerikan diri) di biodata penulis (halaman 261- 2620), Vika ibu dari dua anak dan istri dari seorang suami.

Dia bekerja paruh waktu sebagai model, MC, host yang bisa membaca dan menulis. Dia paling suka membaca sambil minum kopi dan paling sebal makan tanpa sambal. Vika paling senang melihat lelaki duduk sendirian di kedai kopi ditemani secangkir kopi, menunduk, sibuk membaca buku.

Dia ”sering ngaku brengsek, tapi ngangenin”. Galuh lahir di Malang, Jawa Timur, 27 tahun lalu. Dia menyatakan tak punya rasa takut, kecuali terhadap perasaan tidak bahagia.

Dia sedang belajar menggambar, mewarna, menulis, menggunting, mencocok, dan menempel. Bagi dia, kembali ke masa taman kanakkanak adalah cara paling tepat menolak tua. Dia lebih suka disapa Sitra karena Galuh telah binasa ”ditikam cinta-seorang-diri”.

Geriel merasa sebagai gadis lugu kesayangan ibu. Acap hidupnya dianggap ”drama”, tetapi lebih suka mengakhiri setiap kisahnya dengan tawa. Dia selalu berupaya mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan sayang dengan bekerja dan jatuh cinta.

Kini, dia terus mereduksi benci, menikmati kopi, dan belajar tulus mengasihi. Gusti, yang masih kerap dikira lelaki, merasa harus banyak mencatat karena ingat betul: dia pelupa. Dia gemar membobol tabungan untuk beli buku, tetapi tak tahu kapan membaca buku itu.

Dia tak takut hantu, apalagi begal, saat ke pasar pukul 03.00. Dia hanya takut mengantuk dan lupa mengisikan bensin ke tangki motor, apalagi jika sampai ”lupa sayang sama kamu”. Dia ingin segera merampungkan skripsi, lulus, dan ”mencintaimu”.

Irza memilih Irzabelle sebagai nama beken. Arek Malang ini menyukai kelayapan, puisi, dan petrichor. Sehari-hari dia mengajar, memasak dengan bumbu sekadarnya, dan bercerita diamdiam pada langit malam dan buku harian.

Dia menyukai kutipan dari Murakami: ”Ö akhirnya, bagaimanapun juga, kenyataan hanya satu.” Bagi dia, kutipan itu mengajari untuk selalu berdamai dengan keadaan karena betapapun satu persen dari keadaan adalah mutlak hak veto Tuhan. Susi adalah penyuka hujan, warna hitam, lemon tea, dan Ekalaya.

Pekerja kantor ini selalu merasa tak sempat menyaksikan senja dari luar jendela. Dia mengisi waktu luang dengan menangis dan menulis, sedangkan kemampuan terbesarnya memendam cinta dalam-dalam. Terakhir, Endro.

Satu-satunya pria nyincing daster ini ñ entah daster perempuan atau memang dia berdaster ñ mengaku lajang. Ketika guru TK (1989) bertanya apa cita-citanya, dia menjawab ingin jadi pembalap GP 500. Ketika sang bapak bertanya soal rencana ke depan (2008), dia menjawab jadi pengusaha.

Jika ditanya pekerjaannya, dia menjawab, ”Audio-man.” Kini, ketika para mahasiswanya bertanya soal istri atau pacar, dia menjawab, ”Saya punya mantan.”

Berwarna

Keenam orang ini menulis segala apa yang tak hendak mereka lupakan. Mereka menulis tentang jatuh cinta tiba-tiba, lipstik, selingkuh, hujan, surat cinta, surat rindu, tiga perkara yang tak pernah mereka sesali dan mudah membuat mereka menangis.

Juga menulis soal jatuh cinta pada seseorang yang tak bisa mereka raih dan siapa diri mereka. Tulisan mereka beragam, macammacam: cerita, puisi, catatan, atau gabungan semuanya.

Mungkin tulisan mereka tak penting bagi orang lain. Mereka toh tidak berpretensi bermegah diri lewat tulisan. Mereka menulis dan berbagi untuk merawat ingatan, agar tak lupa, agar tak alpa.

Perkara-perkara ”remeh-temeh” yang mereka catat bisa menjadi ”lorong waktu” bagi kita untuk menjejaki kembali kenangan. Lalu, kita bisa tersenyum, meringis, atau pipi kita memerah jambu.

Geli, malu, geram, tersipu adalah sesuatu yang manusiawi ñ karena kita toh memang manusia dan masih manusia. Karena itulah, bagi saya, asyik-asyik saja membaca tulisan mereka. Ketika menikmati catatan mereka, saya merasa hidup ini memang berwarna dan tak tunggal makna. (Gunawan Budi Susanto-44)


Tirto.ID
Loading...
Komentar