Manfaat Limbah Diaper Jadi Hydro Supplier

SM/dok : PERLIHATKAN TROFI : Nasikhin dan Anggi Nuryani memperlihatkan trofi usai berhasil meraih Juara I National Essay Competition 2017 Bidikmisi Scholarship Community Unnes, baru-baru ini.(*)
SM/dok : PERLIHATKAN TROFI : Nasikhin dan Anggi Nuryani memperlihatkan trofi usai berhasil meraih Juara I National Essay Competition 2017 Bidikmisi Scholarship Community Unnes, baru-baru ini.(*)

DUA mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yakni Nasikhin dan Anggi Nuryani berhasil meraih Juara I National Essay Competition 2017 Bidikmisi Scholarship Community Universitas Negeri Semarang (Unnes), baru-baru ini.

Mahasiswa semester awal Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) ini menjadi yang terbaik usai melakukan penelitian dengan judul esai “Bones (Boneka Toples) Pemanfaatan Limbah Diaper sebagai Hydro Supplier pada Tanaman Hias dalam Upaya Menanamkan Jiwa Peduli Lingkungan Masyarakat Desa Sangubanyu (Batang).” Nasikhin sebagai ketua mengatakan, esai ini dilatarbelakangi, banyak penelitian bahwa jumlah limbah diaper di lingkungan masyarakat sangat memprihatinkan. Kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungan dan minimnya pengetahuan tentang pemanfaatan limbah diaper menjadikannya dibuang di sembarang tempat termasuk di sungai.

Rusak Ekosistem

Ia menjelaskan, diaper sendiri merupakan popok sekali pakai berdaya serap tinggi yang terbuat dari plastik dan campuran untuk menampung sisa-sisa metabolisme seperti seni dan feses. Limbah jenis ini dapat merusak ekosistem lingkungan lantaran mengandung bakteri ecoli yang dapat membahayakan kehidupan ikan di sungai karena dapat menyababkan kelainan kelamin ganda.

Selain itu, juga dapat mencemari sungai yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat jika mengunakan air tersebut. “Penelitian ini kami lakukan karena perlu diketahui limbah diaper sangat bermanfaat yang sangat membantu pertumbuhan tanaman hias dalam upaya menanamkan jiwa peduli lingkungan masyarakat,”kata Nasikhin. Limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai media penyimpanan dan suplai air (hydro supplier) dan baik untuk tanaman. “Limbah ini kami bentuk menyerupai boneka dengan memanfaatkan barang-barnag bekas seperti limbah diaper, botol-botol dan stoples dan kami namakan Bones (Boneka Toples),”jelasnya.

Anggi Nuryani yang juga sebagai anggota tim esai menambahkan, penelitian yang dilakukan di Desa Sangubanyu Kabupaten Batang lantaran di desa tersebut memiliki tiga sungai besar dan masing-masing anak sungainya tercemar limbah diaper. Setelah dilakukan penelitian atau eksperimen, menunjukkan bones memiliki beberapa keungulan di antaranya dapat digunakan sebagai media pengenalan merawat tanaman, mengurangi limbah diaper dan toples bekas, membantu memperbaiki anakanak, meningkatkan kepekaan dan kecintaan anak terhadap lingkungan serta upaya mengurangi dampak pemanasan global. “Selain itu juga relatif lebih terjangkau dibanding boneka kapas, bila dibandingkan dengan pot tanaman biasa yang digunakan sebagai media tanam,”paparnya.

Adapun pembuatan bones ini ada empat langkah. Pertama, mengumpulkan stoples bekas lalu dipotong menjadi dua bagian. Kedua menggolah limbah diaper dengan mengambil bagian gelnya. Ketiga, membuat media tanaman dengan menggunakan botol bekas yang diisi dengan tanah dan bibit. Keempat, merangkai bones dengan memasukkan gelnya diaper ke dalam stoples yang telah dihias. Empat langkah singkat inilah bones bisa dibuat dan dapat bermanfaat untuk tanaman hias. Adapun untuk merangkai satu bones ini hanya kurang lebih Rp 5 ribu. Jadi benar-benar relatif murah namun banyak manfaat. (23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar