LIPUTAN KHUSUS

Menunggu Kepastian Berlibur

SM/Antara  -  KENDARAAN MENGULAR : Antrean kendaraan wisatawan mengular menuju jalur Puncak, Gadog, Bogor, Jawa Barat, saat libur Isra Mikraj yang bertepatan pada akhir pekan, belum lama ini. Penambahan cuti bersama di antaranya untuk mengurangi kemacetan pada libur Idul Fitri, 15-16 Juni nanti. (54)
SM/Antara - KENDARAAN MENGULAR : Antrean kendaraan wisatawan mengular menuju jalur Puncak, Gadog, Bogor, Jawa Barat, saat libur Isra Mikraj yang bertepatan pada akhir pekan, belum lama ini. Penambahan cuti bersama di antaranya untuk mengurangi kemacetan pada libur Idul Fitri, 15-16 Juni nanti. (54)

Libur dan cuti bersama tahun ini tak sama dengan waktu-waktu sebelumnya. Tak seperti biasanya, cuti bersama menuai polemik. Pemerintah dianggap bimbang, sementara dunia usaha mengeluhkan liburan yang panjang.

NIAT dan keputusan sementara pemerintah menambah cuti bersama terkait Idul Fitri ternyata tak sepenuhnya diterima. Pelaku industri dan beberapa pemangku kebijakan lainnya khawatir, libur yang panjang akan merugikan, dunia usaha, industri, dan masyarakat itu sendiri.

Libur yang panjang, membuat distribusi logistik akan terhambat, sehingga mengganggu operasional industri, dan berpotensi mendorong peningkatan harga bahan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya itu, libur yang panjang dinilai memiliki dampak berantai.

Berdasarkan, keputusan bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur, tanggal 22 September 2017, mulanya cuti bersama jatuh pada tanggal 13-14 dan 18-19 Juni atau selama empat hari.

Ditambah libur bersama Idul Fitri tanggal 15-16 Juni dan tanggal 17 Juni yang jatuh hari Ahad, libur Lebaran tahun ini total mencapai delapan hari.

Namun keputusan tersebut direvisi tanggal 18 April lalu. Masa cuti bersama ditambah menjadi tujuh hari tanggal 11-14 Juni dan 18-20 Juni. Ditambah libur Idul Fitri dan dua Ahad, masa libur total akan mencapai 11 hari.

Masa libur yang dianggap panjang. Sehingga setelah menerima masukan banyak pihak termasuk dunia usaha, rencananya Senin (7/5) hari ini, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, berencana mengumumkan revisi kembali.

Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, sebaiknya pemerintah menghindari berbagai faktor yang menyebabkan ketidakpastian. Libur dan cuti bersama hampir selama dua minggu dianggap sebagai intervensi pasar yang menyebabkan ketidakpastian.

Karena itu ia meminta pemerintah untuk mempertimbangkan ulang kebijakan libur tersebut. ”Tolong perhatikan pasar, kalau bisa bursa jangan sampai masuk Guinnes Book World of Record dengan dua minggu tutup,” ujarnya.

Investasi Besar

Dikatakan, hari tutup perdagangan saham, patutnya ditentukan minimal setahun sebelumnya secara rapi. Karena hal ini menyangkut rencana investasi besar. Alasan lainnya, saat ini mata uang Indonesia sedang cukup volatile (berubah sangat cepat), tingkat bunga juga sedang berpotensi merangkak ke atas.

”Jadi bayangkan jika seorang pengusaha atau pebisnis punya investasi di negara yang jauh dari yang mereka tinggal, mendengar mata uangnya bergejolak, lalu bursanya mau tutup dua minggu, apa yang akan dilakukan,” lanjut Tito.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Rosan Perkasa Roeslani menyatakan, libur Lebaran 2018 kali ini terlampau lama. Ia sadar dibandingkan masa libur Idul Fitri di Indonesia yang paling panjang, tetapi penambahan masa vakansi akan menimbulkan persoalan lain.

Setidaknya akan timbul tiga masalah. Pertama, menyangkut soal produktivitas bisnis. Kedua, problem soal upah karyawan yang bakal melonjak bila dipekerjakan pada saat libur Lebaran. Ketiga terkait pasar modal.

Investor tak mau investasi yang ditanamnya stuck hampir dua pekan, karena investasi berubah cepat. Chairman Grup Recapital tersebut memperingatkan, banyak faktor yang harus dihitung dalam pembuatan keputusan masa libur.

Memang kebijakan penambahan liburan bisa mengurangi kemacetan arus mudik Lebaran, tapi di sisi lainnya sektor ekonomi akan terkena getahnya. Kadin berharap pemerintah segera merevisi aturan cuti Lebaran 2018 dan mengembalikan waktu libur seperti pada awalnya, dari tanggal 13-19 Juni.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani kecewa dengan keputusan pemerintah yang tak mengajak pengusaha berdiskusi mengenai penambahan cuti bersama Lebaran 2018. Secara sepihak, pemerintah menetapkan penambahan masa libur kali ini.

”Kebiasaan jelek, memutuskan nasib seseorang tapi orangnya tidak diajak mengomong. Ini kan konyol,” ucapnya. Sikap Apindo kini menunggu undangan pemerintah untuk berdiskusi mengenai hal tersebut.

Pihaknya bersikukuh agar libur Lebaran kembali kepada keputusan sebelumnya Termasuk mengirimkan surat usul cuti bersama Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya, dua hari sebelum dan dua hari sesudah Lebaran.

”Itu sudah cukup, karena kalau yang sekarang kepanjangan, totalnya sembilan hari (belum termasuk dua hari Minggu),” kata Hariyadi . Sementara itu pengamat transportasi dari Universitas Diponegoro Semarang, Bambang Riyanto mengatakan, upaya penambahan cuti Lebaran lebih banyak tiga hari merupakan upaya yang baik.

Dengan garis bawah, bila memang upaya itu atas dasar upaya mengurai kepadatan lalu-lintas musim arus mudik dan balik Lebaran. Namun ia menyoroti sosialisasi lebih awal yang minim, membuat membuat kebijakan tersebut menuai pro-kontra utamanya dari Apindo.

”Seharusnya kebijakan yang sudah diambil sudah beres tanpa ada pro-kontra lagi,” katanya. Dari sudut pandang transportasi, masa libur yang lebih lama akan memberi kesempatan para pemudik untuk mengatur waktu perjalanan.

Dengan adanya kontroversi kali ini, ke depan dia berharap keputusan pemerintah mesti hasil hasil musyawarah banyak pihak agar tidak akan membingungkan siapapun baik pengusaha ataupun masyarakat.

Sementara Tyo (26), karyawan perusahaan otomotif alat berat di Kabupaten Bekasi menuturkan dirinya masih bingung atas kebijakan yang dievaluasi. Hal ini berpengaruh pada rencana perjalanan mudiknya. ”Rencana pulang Selasa (12/5) pakai mobil pribadi.

Soal kebijakan pemerintah ini belum ada kepastian. Jadi perusahaan sepertinya belum menetapkan jadwal cuti Lebaran baru. Ini yang membuat kami bingung tentang rencana perjalanan,” kata pria asal Kabupaten Blora, tersebut. (Budi Nugraha, Diaz Abidin-54)


Berita Terkait
Loading...
Komentar