Soesilo Toer: Saya Sudah Banyak Mengalahkan Pram

SM/Gunawan Budi Susanto
SM/Gunawan Budi Susanto

Kini boleh dikatakan makin banyak kaum muda memasuki dunia tulis-menulis. Namun yang tua pun banyak yang tetap berkarya. Salah seorang di antara mereka adalah Soesilo Toer, adik kebanggaan Pramoedya Ananta Toer. Wartawan Suara Merdeka Gunawan Budi Susanto berbincang dengan pendiri dan pengelola perpustakaan dan penerbitan Pataba — singkatan dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa - itu mengenai dunia kepenulisan yang dia tekuni sampai kini.

Nyaris sepanjang hidup Pak Soes menulis. Apa yang membuat Anda menekuni dunia tulis-menulis?

Kalau saya telusuri kembali hidup saya, ternyata kakak tertua saya, Pramoedya Ananta Toer, adalah lakilaki yang keras, yang tak suka dikritik dan mudah berjanji mulukmuluk. Tahun 1950, sepeninggal Bapak, dia memboyong kami ke Jakarta untuk dia sekolahkan sampai jadi mister-mister, dokter-dokter. Padahal sore itu saya baru saja dia tempeleng karena melanggar perintahnya. Di Jakarta, sebulan dia memberi uang saku pada kami Rp 10.

Kami bersekolah di sekolah swasta (Taman Siswa) dan jalan kaki pulang-pergi lebih-kurang 6 kilometer. Uang sama sekali tak mencukupi. Dan, dia kasih instruksi baru: kekurangannya cari sendiri dan jangan minta.

La apa pekerjaan yang bisa dilakukan anak umur 13 tahun di Jakarta? Tukang jaga sepeda (waktu itu belum ada motor) sudah dikuasai, juga tukang jual rokok (asongan). Termasuk menjadi pembawa kembang ke kuburan Belanda dekat rumah. Satusatunya peluang ya menulis.

Maka kalau Pram menulis mulai umur 15 tahun, saya menulis mulai umur 13 tahun. Seingat saya tulisan pertama saya dimuat di Majalah Kunangkunang terbitan Balai Pustaka dengan judul “Aku Ingin Jadi Jenderal”.

Bedanya saya penulis, sedangkan Pram pengarang. Suatu kali tulisan saya dimuat di koran Mimbar Indonesia, yang dipimpin Jassin. Judulnya “Naik”. Pram baca. Dia memuji setinggi langit, dan dia akhiri dengan kata-kata, “Kamu ngritik saya ya! Kalau tak suka pergi saja dari sini!” Edan!

Apa saja jenis (genre) tulisan Anda?

Saya menulis apa saja, yang utama dapat uang. Misalnya, tentang nasihat perkawinan, tentang kecantikan, tentang bintang-bintang film terkenal, penyanyi dunia, bahkan peristiwa tewasnya Kennedy tahun 1963.

Semua bahan saya ambil dari majalah- majalah asing yang banyak dijual loakan di Jalan Surabaya, dekat kantor Interpress; saya bekerja sebagai korektor di sana. Juga menulis cerpen, cerita bersambung, dan novel.

Jenis tulisan apa yang membuat Anda merasa paling menikmati, paling merasa asyik, ketika menulis atau mengerjakannya? Kenapa?

Asyik jika menemukan hal luar biasa dalam tema tersebut, yang bisa menciptakan apologetik. Apa saja, termasuk novel-novel yang saya tulis tahun-tahun belakangan; saya meniru Pram, menggabungkan fakta dan fiksi. Tokoh yang saya buat saya bunuh atau saya siksa atau saya terjang, tergantung pada tema.

Kini, ketika berusia 81 tahun, masihkah Anda menulis?

Sampai hari ini saya masih menulis, baik artikel maupun novel. Saya ingin menulis autobiografi sebagai lelananging jagad dan sedang menyelesaikan “kearifan lokal” dari Republik Jalan Ketiga.

Bagaimana pandangan Anda tentang dunia tulis-menulis sekarang ini, terutama di kalangan generasi muda?

Perubahan gaya tulisan belakangan saya nilai hanya karena situasi, kondisi dan unsur-unsur spesifik lain. Setiap penulis melahirkan tokoh masing-masing. Pendek kata, satu karya sejuta analisis.

Anda optimistik terhadap mereka atau sebaliknya pesimistik?

Sebagai manusia saya seorang pesimis. Ketika Pram lahir, keluarga Toer sedang naik daun. Ketika saya lahir, keluarga sedang hancur lebur, sebabnya antara lain Belanda (Eropa) sedang dalam cengkeraman ketakutan atas kebangkitan Nazisme Jerman di bawah tokoh sang Heidler (Hitler), anak seorang jagoan dan ibu seorang babu (baca buku The Insane World of Hitler).

Karel Popper dari Austria saja mengungsi sampai ke Selandia Baru. Sekolah Instituut Boedi Oetomo (IBO) Blora bangkrut dan kehabisan murid akibat dari penerbitan Undang-undang Sekolah Liar tahun 1932. Lulusan sekolah partikelir tak bisa bekerja pada Gubernemen.

Bencana lain adalah Bapak Toer kejangkit hobi baru ñ jadi tukang (judi) ceki. Contoh nyata, adik saya Soesanti meninggal karena kelaparan. Jadi dari generasi muda sekarang saya pun bercermin pada diri sendiri.

Yang jelas minat baca mereka harus tetap dijaga untuk melahirkan minat menulis. Seperti moto Pataba: Indonesia membangun melalui Indonesia membaca, menuju Indonesia menulis. Moto itu ciptaan cantrik Pataba asal Jogja, sekarang tinggal di Cirebon. Dia seorang penulis yang tangguh.

Siapa (karya) penulis muda yang menarik bagi Anda? Kenapa?

Sayang saya belakangan asyik dengan diri sendiri. Namun ada pengarang muda yang saya kira punya harapan. Tulisannya indah. Dia bernama D Purnamadari Pontianak. Itu pun pendapat saya pribadi. Eka Kurniawan pun banyak penggemar, juga Ayu Utami, atau Djenar Maesa Ayu.

Anda adik kebanggaan Pramoedya Ananta Toer. Bagi Anda, bagaimana posisi kepenulisan Pram dalam kesusastraan Indonesia dan dunia?

Pram dalam kesusastraan Indonesia dan dunia punya posisi tersendiri. Max Lane, penerjemah pertama Bumi Manusia dari Australia, mengatakan Bumi Manusia sudah dicetak ulang 40 kali di Amerika dan jadi bacaan wajib anak SMA di Malaysia, Australia, Belanda, dan Amerika.

Apa sumbangan terbesar Pram bagi kita?

Semua tinggal pendapat pembaca masing-masing. Ada yang bilang buku Pram sampah, ada yang menganggap sebagai baca Bibel, makin diulang makin bermakna.

Apa pula obsesi Anda yang berhubungan dengan Pram?

Pram sudah banyak saya kalahkan, yang tak mungkin adalah karya-karyanya. Obsesi saya yang terakhir adalah mengalahkan dalam umur. Pram berumur 81 tahun 83 hari, Februari lalu saya umur 81 tahun, jadi kurang-lebih dua minggu lagi (saya menang)! (44)


Berita Terkait
Komentar