Mengatur Asupan ala Vegetarian

Sophia Latjuba, salah satu artis yang melakukan diet vegan.(49)
Sophia Latjuba, salah satu artis yang melakukan diet vegan.(49)

Ketika orang mendengar ”diet vegetarian”, yang ada dalam bayangan mereka adalah jenis diet yang tidak mengonsumsi daging hewan berkaki empat, daging unggas ataupun ikan. Padahal jenis diet vegetarian itu ada berbagai macam.

Banyak alasan mengapa seseorang menjalani diet vegetarian. Mulai dari keinginan menurunkan berat badan hingga menghindari berbagai penyakit. Untuk menjalani diet dengan benar, cara paling baik tentu saja berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli gizi.

Supaya kita benarbenar mendapatkan manfaat dari diet yang dijalani, yang sesuai dengan kondisi tubuh kita. Beberapa macam diet vegetarian adalah lacto-vegetarian, ovovegetarian, lacto-ovo vegetarian, pescatarian, pollotarian, dan vegan.

Lacto-vegetararian diet tidak mengonsumsi daging, seafood, unggas, dan telur, termasuk jenis makanan olahan yang mengandung produk tersebut. Tetapi boleh mengonsumsi dairy product seperti susu, keju, yoghurt, dan mentega.

Adapun ovo-vegetarian diet tidak mengonsumsi daging, unggas, dan seafood, tapi boleh mengonsumsi telur dan produk dairy. Pescatarian diet tidak mengonsumsi daging, unggas, produk dairy dan telur, tapi boleh mengonsumsi ikan. Pollotarian diet tidak mengonsumsi daging, produk dairy dan ikan, tapi boleh mengonsumsi unggas.

Sementara diet vegan tidak mengonsumsi daging, unggas, seafood, telur, produk dairy dan makanan apa pun yang mengandung produkproduk tersebut. Menjadi vegetarian secara umum, yang hanya mengonsumsi gizi nabati bisa membuat umur lebih panjang, jauh dari penyakit diabetes, stroke, dan obesitas.

”Kandungan mineral dan antioksidan dalam sayuran dapat melancarkan sirkulasi darah dan menjaga pigmen kulit, sehingga kulit menjadi lebih sehat. Asam amino pada sayuran bagus untuk melancarkan metabolisme, menurunkan berat badan atau membuat berat badan tetap terjaga,” jelas Prof dr Siti Fatimah Muis MSc SpGK.

Namun yang namanya diet, selain memiliki kelebihan, juga memiliki kekurangan. Fatimah menjelaskan, orang yang menjalani jenis diet vegetarian yang tidak mengonsumsi produk hewani sama sekali, biasanya mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin B12, zat besi, dan omega 3.

”Vitamin B12 yang banyak terdapat pada produk hewani, berfungsi menetralisir homosistein; asam amino esensial yang diproduksi tubuh. Fungsinya menyeimbangkan proses yang melibatkan kimiawi dalam tubuh, hormon, neurotransmitter, sekaligus sebagai anti-depresi, anti-arthritis, dan pelindung liver,” paparnya.

Ada Kekurangan dan Kelebihan

Jika tubuh kekurangan B12, jumlah homosistein dalam tubuh menjadi berlebihan, dan jika berlebihan ia akan berubah menjadi jahat. Homosisterin merupakan salah satu dari 20 asam amino, yang dibutuhkan tubuh untuk mensintesis semua protein tubuh. Bila jumlahnya berlebihan akan bersifat inflamasi atau peradangan.

Peningkatannya (sekitar 10 mikromoles liter) dalam darah, dapat dikaitkan dengan aterosklerosis atau penyempitan dan pengerasan pembuluh darah, yang meningkatkan risiko serangan jantung.

Meski tidak terlalu sering, tidak mengonsumsi protein hewani sama sekali juga bisa mengalami kekurangan sulfur atau zat besi yang diperlukan tubuh untuk kontraksi otot-otot, serta sistem kelistrikan pada jantung.

Omega 3 yang banyak terdapat pada ikan, juga berfungsi sebagai anti-inflamasi. Banyak mengonsumsi kacangkacangan, di mana mengandung minyak tidak jenuh, kalau jumlahnya berlebihan dalam tubuh, akan menjadi pro peradangan.

Yang harus dipahami, ada faktor pendukung lain yang berkaitan dengan gaya hidup yang bisa membuat seseorang berumur lebih panjang atau tidak mudah terkena penyakit. Tak hanya berdasarkan menjalani pola makan vegetarian, yakni gaya hidup yang less stress seperti rutin melakukan yoga, meditasi, atau berolahraga kardio.

”Gaya hidup seperti rajin yoga atau bermeditasi seperti yang dilakukan orang India, itu yang juga menjadi faktor mereka lebih sehat dibandingkan dengan pemakan daging, bukan semata-mata karena mereka vegetarian,” ungkap Fatimah.

Tak kalah penting, diet vegetarian yang non protein hewani memiliki risiko terhadap penyakit jantung, bukan penyebab penyakit jantung. Jadi, bukan berarti menjadi vegetarian adalah pilihan menjalani pola makan yang buruk. Karena setiap pola makan atau pola diet memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kekurangan asupan yang baik tentu tidak bagus bagi tubuh, namun jika berlebihan juga memiliki dampak tidak bagus. Jadi, tergantung bagaimana kita menyeimbangkan asupan yang masuk, karena you are what you eat. (Irma Mutiara Manggia-49)


Baca Juga
Loading...
Komentar