Membincangkan Kearifan Lokal

SM/Aristya Kuver  -  PENTAS TEATER : Kelompok Teater Surakarta (Tera) mementaskan lakon ‘’Bagong Gugat’’karya naskah dan sutradara ST Wiyono di Auditorium Kampus I UIN Walisongo, Kamis (3/5). (49)
SM/Aristya Kuver - PENTAS TEATER : Kelompok Teater Surakarta (Tera) mementaskan lakon ‘’Bagong Gugat’’karya naskah dan sutradara ST Wiyono di Auditorium Kampus I UIN Walisongo, Kamis (3/5). (49)

SEMARANG - Satu jam para pemain teater di Surakarta berpentas dengan panggung berbentuk tapal kuda di Auditorium Kampus I UIN Walisongo, Kamis (3/5). Lakon yang dipentaskan berjudul Bagong Gugat karya naskah dan sutradara ST Wiyono. Adegan pewayangan muncul sekitar 20 menit, selebihnya adalah eksplorasi isu yang mendasari improvisasi pemainnya.

Pementasan ini ditutup dengan diskusi yang membincangkan kearifan lokal. Panggung tapal kuda menyajikan pementasan yang dekat dengan penonton. Penikmat pertunjukan disediakan tempat duduk di sekitar penggung berbentuk huruf ”U” tersebut. Usai memerankan adegan, aktor tidak keluar panggung.

Melainkan duduk di bagian belakang panggung. Aktor pementasan ini antara lain ST Wiyono, Gigok Anurogo, Bambang Djody, Budi Bodot Rianto. Para pemusik di pementasan ini pun berada di dalam panggung. Penonton dapat pula melihat ekspresi pemusik saat mengiringi pementasan.

”Karya ini adalah karya lama, era Orde Baru,” kata ST Wiyono. Dia menjelaskan, karya tersebut dibuat untuk menjawab konsep pemerintah tentang demokrasi. Saat itu, demokrasi tetap tidak bisa membuat masyarakat berbicara banyak hal. ”Kami jawab dengan ‘Bagong Gugat’.

Nantikan pementasan episode kedua kami,” ungkapnya. Menolak Diintervensi Cerita yang diusung yakni tentang Abimanyu menjalin cinta dengan Gotri, anak Bagong. Hubungan mereka yang dinilai berbeda derajat itu menggelisahkan Bagong. Dia merasa dihinakan.

Adegan tersebut berada di dalam pementasan. Selebihnya adalah pembicaraan tentang banyak hal. Salah satunya adalah dalang yang menolak diintervensi membawakan lakon tertentu dalam kampanye pemilihan kepala daerah.

”Lihatlah, ternyata negeri kita selama ini dikuasai uang. Idealisme, keyakinan, semua rantas dengan ekonomi,” kata Dalang, yang diperankan ST Wiyono. Dalam diskusi, ST Wiyono membahas tentang tradisi Jawa. Salah satunya adalah kalimat ”Alon-alon Waton Kelakon”.

”Kalimat itu bisa dimaknakan tentang tahapan melakukan hal untuk mencapai sesuatu. Dilakukan dengan tenang, tetapi pasti hasilnya. Artinya hal itu bisa dilakukan juga dengan cepat. Bukan terburuburu. Masih banyak tersimpan kearifan lokal yang bisa kita eksplorasi,” ujarnya. (akv-49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar