Bank Berdampak Sistemik Bertambah Jadi 15

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan jumlah bank yang berdampak sistemik meningkat menjadi 15 bank per April 2018, dari sebelumnya hanya 11 bank pada September 2017.

Namun, OJK menyatakan 15 bank berdampak sistemik itu saat ini semuanya dalam kondisi sehat dan aman. Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo menjelaskan, penetapan bank berdampak sistemik merupakan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK).

Adapun bank yang masuk dalam daftar tersebut merupakan bank yang dengan ukuran tertentu antara lain peningkatan total aset, jumlah kredit dan/atau dana pihak ketiga (DPK), dan aspek risiko lainnya. "Bank ini (berdampak sistemik-Red) wajib membuat recovery plan yang dikenal dengan istilah bail-in.

Pemilik dan manajemen memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan usaha dari bank, sehingga hal ini menghindarkan sejauh mungkin penggunaan dana publik," kata Anto melalui siaran pers yang dirilis di Jakarta, Jumat (4/5).

Menurut dia, saat ini bank-bank yang tercantum sebagai bank sistemik merupakan bank yang dapat berkontribusi dalam perekonomian nasional. Penilaian bank sistemik itu dilakukan oleh OJK berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI).

Kondisi Sehat

OJK menetapkan jumlah bank berdampak sistemik setiap Maret-April dan September. Adapun jumlah bank berdampak sistemik sejak diberlakukan UU PPKSK pada 2016, yakni sebanyak 12 bank (Maret 2016), 12 bank (September 2016), 12 bank (Maret 2017), 11 bank (September 2017), dan 15 bank (April 2018).

Sayangnya, OJK tidak menyebut empat bank mana saja yang kini masuk ke dalam daftar bank berdampak sistemik itu. Adapun bank-bank yang sebelumnya masuk kelompok bank berdampak sistemik, antara lain Bank Mandiri Tbk, PTBank Rakyat Indonesia Tbk, PTBank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk.

Kemudian PTBank Panin Tbk, PT Bank Danamon Tbk, PTBank Tabungan Negara Tbk (BTN), PT Bank Permata Tbk, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, dan PTBank OCBC NISPTbk. Anto menjelaskan, kondisi Industri perbankan saat ini secara keseluruhan, termasuk 15 bank berdampak sistemik tersebut dalam kondisi sehat dan aman.

Sementara itu, terkait volatilitas indeks harga saham yang terjadi di Indonesia, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus melemah, Anto menyatakan OJK akan terus memonitor dampak eksternal. "Saat ini rentangnya masih dalam batasan normal dan penurunan ini juga terjadi di pasar saham kawasan ASEAN," jelas dia. (bn-46)


Tirto.ID
Loading...
Komentar