• KANAL BERITA

Tajuk Rencana

Mencipta Kedamaian dalam Situasi Apa pun

Hari Buruh 1 Mei diperingati berbagai elemen masyarakat di berbagai kota di Tanah Air. Aksi berlangsung damai. Buruh menyampaikan berbagai tuntutan seperti penolakan upah buruh murah, penghapusan sistem pekerja alih daya atau outsourcing, dan penolakan masuknya tenaga kerja kasar asing.

Sayangnya, aksi peringatan di Yogyakarta berakhir ricuh. Pos polisi di pertigaan UIN Kalijaga dibakar. Berbagai pihak menyesalkan adanya kericuhan di tengah aksi yang semula berjalan damai. Sontak aksi tersebut menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Apalagi pemungutan suara Pilkada Serentak 2018 tinggal hitungan hari dan Pilpres 2019 semakin dekat. Agustus pilpres telah memasuki tahapan pendaftaran calon pasangan presiden-wakil presiden.

Aksi diduga ditunggangi oleh kelompok tertentu yang ingin memperkeruh suasana damai di tahun politik. Provokator memanfaatkan aksi massa dengan tujuan merusak keamanan, bahkan dikendarai oleh kepentingan politik praktis. Aparat kepolisian bekerja cepat dengan menangkap sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku pembakaran. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka berasal dari mahasiswa. Turut diamankan beberapa bom molotov, botol, kain untuk sumbu, bambu, dan berbagai bendera maupun poster. Temuan bendabenda tersebut mengingatkan unjuk rasa pada awal reformasi, yang hampir setiap hari demo dengan meluapkan kekesalan pada simbol tertentu.

Apakah keamanan saat ini mengkhawatirkan? Terlalu dini untuk memberikan kesimpulan. Kita percayakan kepada kepolisian untuk mengusut para tersangka, termasuk motif perusakan pos polisi. Tentu yang perlu diusut adalah kebenaran sinyalemen aksi buruh ditunggangi oleh kelompok kepentingan politik praktis. Kita tidak ingin terjadi polarisasi masyarakat akibat berbeda afiliasi politik. Pilpres 2014 yang mengakibatkan gesekan tajam antarelite ataupun arus bawah tidak boleh kembali terjadi. Persatuan haruslah menjadi komitmen. Setajam apa pun gesekan politik, jangan merusak kerukunan umat.

Yang lebih diharapkan tentu manuvermanuver politik dari elite yang santun, dalam arti tidak menyulut emosi kalangan grassroot. Sebab, pernyataan elite kerap menjadi pijakan massa untuk bergerak. Masyarakat memerlukan keteladan pikir dan tindakan. Pernyataan keras elite politik yang cenderung menyudutkan satu pihak dan menjunjung pihak lain hanya akan menciptakan keretakan perdamaian dan persatuan yang telah dibangun bersama.

Pemerintah memegang peran penting untuk mengontrol situasi keamanan. Terkait dengan Hari Buruh misalnya, pemerintah perlu memperhatikan aspirasi kalangan buruh dengan mengeluarkan kebijakan yang prokesejahteraan buruh, mengontrol sikap perusahaan yang semena-mena, dan memastikan tidak ada pekerja yang diperlakukan secara tidak wajar oleh lembaga tempat bekerja. Untuk itu, perlu langkah berbagai pihak untuk bekerja bersama menciptakan keamanan dan kedamaian dalam situasi apa pun.


Berita Terkait
Komentar