Tajuk Rencana

Islam Moderat Pemersatu Bangsa

Apa yang dipesankan Imam Besar Al-Azhar Mesir Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb kepada kaum muslim di Indonesia sesungguhnya adalah penegasan dan pembenaran atas nilai-nilai dan ajaran Islam yang dikembangkan selama ini.

Pandangan tentang toleransi dan sikap moderat sudah lama menjadi dasar dan falsafah bangsa. Sebagai negara yang mayoritas muslim tidak mungkin Indonesia tanpa pluralisme akan tegak berdiri. Sikap Islam yang moderat adalah kata kunci. Perkataan moderat berarti bisa menerima dan menghargai perbedaan. Termasuk perbedaan agama dan keyakinan. Bisa mengambil jalan tengah.

Bagaimana mungkin masyarakat kita hidup rukun dan damai dengan dilandasi semangat persatuan kalau tidak ada sikap menerima perbedaan sebagai rahmat. Sebaliknya sikap ekstrem dan merasa diri paling benar akan menjadi benihbenih perpecahan. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh Islam ataupun agama-agama lain. Itulah wujud fundamen kebangsaan. Indonesia patut bersyukur dan haruslah bersyukur karena memiliki dasar negara Pancasila yang menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama. Sementara di belahan dunia lain, pertentangan antaragama atau antarumat beragama memicu konflik dan kekerasan yang memakan korban jiwa hingga ribuan orang. Justru mereka patut dipertanyakan pemahaman agamanya.

Sebab, Islam dan agama-agama lain pasti tidak mengajarkan konflik apalagi kekerasan. Sungguh itu adalah korban kebodohan. Di Indonesia sikap moderat, toleran, dan saling menghargai adalah kunci persatuan dan kesatuan. Namun hendaknya tetap disadari bahaya laten tetap mengintai.

Sikap partisan dan intoleran bisa tumbuh dan merusak sendi-sendi dasar kehidupan. Hal itu bisa dipicu oleh faktor ekonomi, sosial, dan politik. Belakangan ini faktor politik tampak lebih krusial karena banyak kompetisi politik yang diwarnai oleh isu SARA. Bahkan isu itu sengaja diembuskan untuk kepentingan politik tertentu. Maka para pemuka agama di dunia, termasuk Syekh Ahmad Muhammad Ath-Thayeb, selalu wanti-wanti janganlah melakukan politisasi agama. Karena agama hanya menjadi alat elektoral yang justru menjauhkan dari nilai dan ajarannya. Politik dan kekuasaan mempunyai nilai yang berbeda.

Maka agama justru harus memberi arah atau roh dalam berpolitik. Sering kali potensi umat Islam yang sangat besar hanya dijadikan kekuatan pendorong atau pendongkrak. Setelah itu tak dihiraukan lagi. Kendati sikap moderat dan toleran adalah kekuatan, selalu saja ada kerawanan di sana. Bisa saja semua goyah karena dipicu oleh sesuatu yang sensitif bagi umat Islam, padahal itu direkayasa. Maka para pemimpin agama dan ulama selalu harus memberikan teladan dan arah bagi umatnya. Agar tidak mudah terprovokasi. Sebaliknya para politikus haruslah menjauhkan politik dari agama. Apalagi dengan memanfaatkan masjid, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan untuk propagandanya.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar