• KANAL BERITA

Literasi Plus Produktivitas

Oleh Asep Purwo YU

GERAKAN literasi sekolah dan dunia pendidikan serta masyarakat memberikan harapan baru bagi generasi penerus untuk melek informasi dan pengetahuan. Harapan untuk tidak buta akan informasi, mengembangkan diri, berkarya, dan tidak mudah terpengaruh dari hal-hal negatif membuat gerakan literasi dianggap solusi jangka panjang pendidikan. Walaupun demikian, tentu saja gerakan literasi ini harus terus kita kawal dengan segala kelemahan dan kelebihannya.

Dari segala hal yang telah dicanangkan dalam gerakan literasi, tidak semua hal sesuai dengan rencana. Masih banyak kekurangan dan kelemahan yang muncul sebagai bagian tantangan dalam proses implementasi.

Selain itu, peluang-peluang untuk terus mengembangkan merupakan poin penting yang perlu diperhatikan. Dengan berpikir jangka panjang dan aspek kemenarikan dalam gerakan literasi dimungkinkan membuat gairah yang lebih besar dan memberi dampak positif dalam pendidikan.

Beberapa temuan yang sampai saat ini masih belum terselesaikan adalah tingkat literasi di Indonesia yang masih kalah dari negara lain. Jika kita telusuri, ada fakta yang memprihatinkan terkait dengan literasi di Indonesia. Salah satunya melalui pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World yang diterbitkan Central Connecticut State University.

Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke- 60 dari total 61 negara. Selain itu, bisa kita amati secara sederhana kondisi sebagian siswa yang seperti tidak memiliki gairah untuk membaca, berkarya, atau mengetahui informasi yang benar. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kesadaran berliterasi masih sangat terbatas karena berbagai macam aspek, terutama alasan-alasan sederhana.

Fakta tersebut tentu akan membuat orang yang peduli literasi dan pendidikan mengerutkan dahi dan merasa bahwa harus ada yang dibenahi dalam iklim akademik masyarakat Indonesia. Jika ditelusuri, salah satu penyebab rendahnya budaya literasi Indonesia adalah pengawalan terhadap sumber daya manusia (SDM). Salah satu SDM yang harus terus dikawal adalah siswa dan mahasiswa yang kelak menjadi aktor intelektual di masyarakat.

Meningkatkan Produktivitas

Kepuasan seseorang dalam berliterasi bisa didapatkan dengan menghasilkan sesuatu atau menghasilkan produk. Salah satu contohnya, jika ada siswa yang suka membaca, akan lebih bersemangat jika ia mampu membuat tulisan atas apa yang telah ia baca. Kepuasan itu akan membangkitkan dan meningkatkan literasi dan mengembangkannya dalam bentuk yang lebih kreatif.

Hasil kreativitas itulah yang akan terus dikembangkan sebagai salah satu soft skill yang dibutuhkan sebagai manusia yang mandiri. Pemerintah, masyarakat, pendidik, mahasiswa, dan siswa pasti menyadari konsekuensi perkembangan zaman yang begitu cepat.

Perkembangan zaman menuntut sesuatu yang baru dan terus berkembang sebagai sarana peningkatan SDM dan sumber daya yang lain. Jika sesuatu yang ingin dikembangkan berhenti pada tataran pemahaman atau program pemerintah, berhenti juga program tersebut pada tataran terlaksana. Karena itu, perlu konsep produktivitas dalam pelaksanaan program, termasuk literasi.

Di sekolah, hal tersebut sangat mungkin dilakukan karena sekolah merupakan salah satu wadah sumber daya yang luar biasa. Jika kita bisa memaksimalkan guru untuk menjadi teladan produktivitas maka akan menjadi pemicu bagi siswanya. Guru juga bisa dijadikan fasilitator alami yang secara sadar mengembangkan, membimbing, dan mengawal terciptanya suasana produktif dengan dimunculkannya karyakarya dari siswa. Jika ini bisa diimplementasikan secara masif, akan ada gerakan mencipta produk yang luar biasa. Di perguruan tinggi, menguatkan kompetensi literasi berbasis produk yang dihasilkan akan menjadi sarana hilirisasi keilmuan.

Hal tersebut sangat berkaitan dengan tri darma perguruan tinggi sebagai tugas utama perguruan tinggi. Banyak cara yang bisa dijadikan sarana untuk menciptakan suasana dan mengembangkan literasi plus produktivitas. Penguatan pengetahuan literasi berbasis produk bisa dikembangkan melalui konsep sekolah literasi yang terprogram. Kegiatan bisa dikonsep dengan memberikan bekal teoretis dan praktis tentang fungsi literasi dalam masyarakat dan pengembangannya dalam dunia kerja. Dengan pemahaman itu, literasi yang dilakukan adalah literasi yang terarah pada pengembangan kemampuan untuk siap bekerja atau siap menciptakan lapangan kerja.

Selain itu, sekolah literasi bisa dijadikan sarana menghasilkan produk-produk akademik dan kreatif. Produk-produk yang dihasilkan merupakan konsekuensi logis dari pengembangan keilmuan dan pelaksanaan kegiatan yang terarah.

—Asep Purwo Yudi Utomo SPd MPd, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.


Berita Terkait
Komentar