Kimchi, Makanan Pemersatu

MESKI secara teknis terpisah akibat perang, namun ada satu hal yang mampu menyatukan warga kedua Korea itu yaitu kecintaan mereka akan kimchi. Seperti dikutip dari Wikipedia, kimchi adalah makanan tradisional Korea yaitu salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe dan bubuk cabai merah.

Sayuran yang paling umum dibuat kimchi adalah sawi putih, kubis, dan lobak. Bakteri laktobasilus yang berperan dalam proses fermentasi kimchi menghasilkan asam laktat dengan kadar yang lebih tinggi daripada yogurt. Makanan ini memang sangat digemari warga di seluruh daratan Korea. Awalnya, kimchi hanya dikonsumsi pada musim dingin saat sayur sulit ditemukan. Namun, sekarang kimchi sudah sangat bervariasi, mulai rasanya yang ringan hingga mencolok. Menurut kantor berita AFP, kimchi juga menjadi penganan pendamping wajib di setiap makanan di daratan Korea.

Statistik PBB menyebut, sekitar 40 persen orang Korut krisis gizi dengan kimchi hanya mendampingi nasi sebagai makanan pokok. Sementara di Korsel, kimchi berkembang menjadi pendamping berbagai masakan mulai makanan Amerika Serikat hingga Vietnam. Meski pernah tercetus komitmen untuk bersatu kembali, perbedaan mencolok antara Korut dan Korsel setelah pemisahan lebih dari 70 tahun lalu tidak dapat dihindari. Bahkan, perbedaan itu juga menyebabkan perbedaan pada kimchi mereka.

Warisan Budaya

Terdaftar secara terpisah dalam warisan budaya tak benda UNESCO dengan Korsel yang pertama mendaftar, anggota keluarga elite Korut, Song Song Hui menawarkan kimchi tempo dulu. ”Saya tidak pernah mencoba kimchi dari selatan tapi saya pikir kimchi Pyongyang jauh lebih baik daripada kimchi dari selatan,” kata Song di flat miliknya. ”Orang Korea bisa makan nasi hanya dengan kimchi. Empat keluarga bisa menghabiskan satu kilogram per hari,” lanjut Song.

Park Chae-Rin, peneliti di World Institute of Kimchi (Wikim) di Seoul, membenarkan perbedaan kimchi kedua negara itu. Iklim yang lebih hangat di Korsel membuat kubis sulit disimpan sehingga kimchi dibuat dengan rasa lebih asin dan lebih kuat. Rasa kimchi Korsel yang kuat juga dipengaruhi akses terhadap bumbu yang lebih besar serta penyimpanan istimewa di lemari es khusus kimchi. ”Kimchi Korut mirip dengan kimchi yang dimakan sebelum modernisasi saat tidak ada kulkas dan kekurangan bahan. Di Korsel, jenis kimchi itu benar-benar lenyap,” tutur Park. Kendati demikian, Park percaya perdebatan rasa dan kualitas kimchi tidak akan menjadi masalah. ”Kimchi yang paling terasa seperti kimchi buatan ibu mereka, yang mereka makan saat tumbuh besar, yang dianggap paling lezat,” sahut Park.

Menurut majalah Health Magazine, kimchi disebut sebagai salah satu dari lima makanan tersehat di dunia. Kimchi kaya dengan vitamin, membantu pencernaan, dan kemungkinan dapat mencegah kanker. Sayuran yang sudah lama diketahui baik untuk kesehatan, apalagi ditambah kultur bakteri hidup pada kimchi yang lebih banyak dari yogurt.

Pemakaian cabai merah dalam jumlah banyak pada kimchi juga sering disebut-sebut baik untuk kesehatan. Kimjang adalah tradisi orang Korea membuat kimchi, ggakdugi, dan dongchimi dalam jumlah besar di hari-hari musim dingin. Tradisi ini dilakukan pada hari cerah ketika angin dingin bertiup, awal November hingga pertengahan Desember. Setelah hari kimjang ditentukan oleh anggota keluarga, kerabat, dan tetangga, mereka berkumpul di satu tempat untuk beramai-ramai membuat kimchi. Satu keluarga yang terdiri dari empat orang biasanya memerlukan sawi berukuran besar antara 40-50 buah. Setelah dicuci, ditaburi garam, dan direndam di dalam air pada hari sebelumnya, lembar demi lembar daun sawi diolesi dengan bumbu kimchi hingga merata oleh para wanita dalam keluarga. Kimjang juga merupakan kesempatan untuk meneruskan resep keluarga, dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak perempuan, dan dari mertua ke menantu.

Kimchi yang dibuat diperkirakan cukup untuk dimakan hingga musim semi tahun berikutnya (sekitar Mei- April). Tradisi ini tidak hanya berarti menyiapkan makanan untuk musim dingin, melainkan juga ucapan bersyukur orang Korea telah melewatkan satu tahun dengan selamat, dan awal memulai kehidupan pada tahun yang baru. Orang Korea sering mengucapkan ”kimchi” sewaktu berfoto agar terlihat sedang tersenyum sebagai pengganti kata ”cheese” yang sering diucapkan penutur bahasa Inggris. (Dwi Ani Retnowulan-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar