Muhibah Korea

SM/Korea Summit Press Pool : BERJALAN BERIRINGAN : Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un (kanan) dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in berjalan beriringan setelah penanaman pohon di Desa Panmunjom, Jumat (27/4). (54)
SM/Korea Summit Press Pool : BERJALAN BERIRINGAN : Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un (kanan) dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in berjalan beriringan setelah penanaman pohon di Desa Panmunjom, Jumat (27/4). (54)

Pertemuan dramatis antara dua pemimpin bangsa Korea, Kim Jong-un dan Moon Jae-in, menjadi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Asia Timur.

Jumat (27/4), tepat di zona demiliterisasi batas dua negara Korea, Kim yang merupakan pemimpin tertinggi Korea Utara disambut Moon, Presiden Korea Selatan. Masih di wilayah negara masingmasing keduanya mengembangkan senyum lebar kemudian saling mengulurkan tangan. Sesaat kemudian sejarah tercipta. Kim melangkahkan kaki melewati perbatasan menuju selatan, sekaligus menjadi pemimpin Korut pertama yang menginjak tanah Korsel sejak akhir perang Korea 1950-1953. Setelah disambut Moon, mereka kemudian berjalan bersama sembari bergandengan tangan erat. Keduanya lantas berjalan di atas karpet merah menuju kompleks Plaza Rumah Perdamaian.

Sebuah pertemuan yang begitu dramatis guna meredakan ketegangan dan denuklirisasi dua negara satu bangsa sejak genjatan senjata 65 tahun silam. Setelah sesi dialog pertama, Kim dan Moon lantas makan siang secara terpisah sebelum bersua kembali dalam cara penanaman pohon pihun di garis demarkasi. Sebagai tanda perdamaian dan kemakmuran, pinus ditanam menggunakan tanah dari Gunung Paektu di Korut dan Gunung Halla di Korsel. Siraman air yang dibawa dari Sungai Taedong (Korut) dan Sungai Han (Korsel), seakan menyirami seluruh semenanjung Korea. ”Saya senang berjumpa dengan Anda,” ujar Moon kepada Kim saat berjabat tangan, sebagaimana dilansir media Korsel, Yonhap.

Adapun dalam buku tamu di Rumah Perdamaian, Kim menulis pesannya: ”Sejarah baru dimulai sekarang. Era kedamaian, dari titik awal sejarah.” Perdamaian kedua negara dan kemungkinan unifikasi diyakini masih membutuhkan jalan panjang. Bukan hanya tergantung kepada mereka, namun juga para sekutu Korut dan Korsel. Namun perjumpaan emosional yang tulus dan jujur pada musim semi ini merekahkan harapan besar. Pertemuan itu sesungguhnya telah dibangun jauh-jauh hari. Sebelum Moon dan Kim bertatap muka dengan berbinar-binar, upaya muhibah kedua negara Korea dirintis melalui jalur-jalur diplomasi di luar politik. Di antaranya keterlibatan Korut dalam Olimpiade Musim dingin di Pyeongchang, Korsel, 9-27 Februari lalu. Dalam Olimpiade itu, Korut dan Korsel bersepakat menampilkan tim bersama di bawah bendera ”Persatuan Korea” dalam upacara pembukaan. Mereka juga menurunkan tim hoki es putri gabungan.

Upaya-upaya yang dilanjutkan dalam Paralimpiade Musim Dingin tak berapa lama setelah Olimpiade tuntas. Sehari sebelum pembukaan Olimpiade, sebagaimana diberitakan laman Kemeterian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Korsel, untuk kali pertama dalam 15 tahun terakhir, rombongan artis Korut tampil di Korsel. Bertempat di Saimdang Hall, Gangneung Art Center, Kota Gangneung, Provinsi Gangwon-do, Orkestra Korut Samjiyon, menampilkan kebolehannya.

Seorang pembawa acara dari Korut dalam konser mengatakan, ”Ini sangat menyentuh dan membahagiakan. Rasanya seperti saya bertemu dengan orang tua dan saudara saya yang terpisah. Saya di atas panggung dengan emosi nyata yang mengingatkan bahwa kita semua adalah satu orang yang bersatu.” Sementara itu, setelah pertemuan bersejarah Moon dan Kim, Yonhap menuliskan, pertukaran budaya antar-Korea diperkirakan akan meningkat pesat.

Kantor Penghubung

”Karena kedua belah pihak sepakat untuk membentuk kantor penghubung permanen bersama untuk memastikan pertukaran dan kerja sama sipil yang lancar, kami berharap pertukaran budaya, seni dan olahraga sipil kemungkinan akan diaktifkan kembali, karena akan lebih mudah untuk memfasilitasi mereka,” kata seorang pejabat di Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korsel.

Untuk keperluan tersebut, mereka telah meluncurkan satuan tugas pejabat kementerian dengan tujuan membahas cara-cara guna melanjutkan proyek pertukaran budaya antar-Korea, setelah ditangguhkan lebih sedekade lalu. Di antaranya adalah publikasi kamus Korea terpadu. Penggalian peninggalan bersejarah di Kaesong (Korut), menggelar simposium internasional untuk penyatuan berbagai bentuk bahasa Korea yang diucapkan di bagian selatan dan utara.

Juga pameran barang-barang dokumenter, pertukaran komunitas media dan kelompok agama. Dari beberapa proyek tersebut, publikasi kamus Korea terpadu, serta penggalian peninggalan bersejarah di Kaesong telah diusulkan Menteri Kebudayaan Do Jongwhan ketika ia memimpin sekelompok musisi pop Korsel dan tim demonstrasi taekwondo dalam kunjungan ke Pyongyang, belum lama ini. Korsel dan Korut mulai bekerja tahun 2005 untuk menyusun kamus Korea terpadu, bernama ”Gyeoreomal-keunsajeon” (Kamus Korea Besar). Proyek antar-Korea untuk menggali peninggalan bersejarah di situs Manwoldae, sebuah istana Dinasti Goryeo (918-1392), dimulai pada tahun 2007. Namun proyek itu berhenti pada awal 2016 ketika hubungan mereka berubah dingin dengan uji coba rudal nuklir dan jarak jauh Korut. Pemerintah Seoul berencana memamerkan beberapa peninggalan yang digali dari situs tersebut selama pameran khusus yang akan dibuka pada bulan Desember di Museum Nasional Korea untuk merayakan ulang tahun ke-1.100 kerajaan Korea kuno. Tidak ada peninggalan dari situs Manwoldae yang dipajang di selatan. (Wahyu Wijayanto-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar