Penjaga Budaya Gombong

SM/dok
SM/dok

LELAKI murah senyum kelahiran 28 Maret 1969 bernama Sigit Asmodiwongso yang menjadi Manajer Operasional Roemah Martha Tilaar (RMT) itu kini layak disebut sebagai penjaga warisan budaya di Gombong. Betapa tidak, belakangan ini ayah tiga anak tamatan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma Yogyakarta itu begitu serius menggelar berbagai kegiatan seni budaya.

Dia pun rajin meneliti, memetakan dan merekonstruksi potensi warisan sejarah dan budaya di sekitar Gombong yang juga dikenal sebagai kota militer, pertahanan dan multikultural sejak era kolonial.

Menurut penuturan Sigit, RMT awalnya merupakan impian Martha Tilaar, pengusah jamu terkemuka Indonesia asal Gombong untuk berbakti bagi kampung halamannya. Obsesi itu diwujudkan oleh putrinya, Wulan Tilaar. Ketika ditawari bergabung untuk mewujudkan mimpi itu, tentu membanggakan sekaligus menantang. Sigit sebagai anak kolong yang tinggal di Klaten dan kuliah di Yogyakarta memang sempat menempuh pendidikan dasar di Gombong. Namun jujur pengetahuan soal Gombong pada waktu itu bisa dibilang masih nol. Untunglah banyak pribadi dan komunitas sangat terbuka terhadap uluran silaturahmi yang dia ajukan.

Dari situlah mantan peneliti FIB UGM itu banyak belajar tentang Kebumen dan khususnya Gombong. Tidak mudah mencari komunitas sebagai mitra untuk berkembang bersama. Kini dari hari ke hari, di Kebumen terus muncul gerakan-gerakan pemberdayaan, khususnya dari kalangan muda. Di sinilah RMT mengambil peran strategis yang menghubungkan komunitas-komunias itu untuk bersinergi. “Berpikirah dengan jernih dan memandang ke depan serta selalu berkehendak baik bagi siapa pun,”ujar pria yang pernah bergiat di Divisi Budaya Lembaga Persahabatn Indonesia-India itu.(Komper Wardopo-26)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar