Bupati Kutuk Penyerangan Pos Polisi

PMII DIY: Ada Kelompok Berpakaian Hitam

SM/dok : BERSIHKAN POS POLISI: Sejumlah anggota Sekber Keistimewaan DIYmembersihkan pos polisi di simpang tiga UIN Sunan Kalijaga, Selasa (2/5).(26)
SM/dok : BERSIHKAN POS POLISI: Sejumlah anggota Sekber Keistimewaan DIYmembersihkan pos polisi di simpang tiga UIN Sunan Kalijaga, Selasa (2/5).(26)

SLEMAN - Bupati Sleman Sri Purnomo angkat bicara terkait aksi pembakaran pos polisi di simpang tiga UIN Yogyakarta. Dia sangat menyayangkan insiden pembakaran pos polisi saat berlangsung aksi demonstrasi memperingati Hari Buruh Internasional, Selasa (1/5) lalu.

Peristiwa itu tidak perlu terjadi karena Hari Buruh seharusnya dijadikan momentum untuk bersatunya kalangan tripartit yakni buruh, pengusaha, dan pemerintah. “Sebaiknya May Day dijadikan hari keluarga sebagaimana contohnya sebagaimana di (Pemkab) Sleman kemarin. Kita bisa bersatu padu antara tripartit lewat kegiatan gerak jalan,” katanya saat dimintai tanggapan, Rabu (2/5).

Dengan konsep kebersamaan semacam itu, sambung Sri, peringatan May Day akan berlangsung secara kondusif. Ditanya mengenai upaya hukum atas kasus tersebut, Sri mengaku tidak bisa mengomentari terlalu jauh. Alasannya karena hal itu merupakan ranah kepolisian. Dia hanya berharap kejadian itu tidak sampai terulang.

Aliansi Gabungan

Sementara itu, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang DIY angkat bicara terkait kericuhan. Lewat klarifikasi yang diterima Suara Merdeka, Ketua PC PMII DIY Faizi Zain mengatakan bahwa aksi pada 1 Mei lalu dilakukan aliansi gabungan dari lintas gerakan yang tidak hanya PMII saja yang tergabung dalam Gerakan Aksi Satu Mei (Geram).

Antara lain Aliansi Mahasiswa UJB, Aliansi Mahasiswa Mercu Buana, Aliansi Mahasiswa UIN dan aliansi atau gerakan mahasiswa lainnya. “Sejak awal kami sepakat aksi ini adalah aksi damai tanpa anarkistis. Karena aksi ini adalah aksi gabungan, masing-masing koordinator atau ketua organisasi bertanggung jawab terhadap masa aksi dari organisasinya masing-masing.

Saat massa aksi diwakili Kordum hendak melakukan pernyataan sikap sebagai bertanda akan berakhirnya aksi, tanpa sepengetahuan Kordum, masuk sekolompok orang berpakaian gelap atau hitam, memakai jaket, penutup kepala serta penutup wajah. Mereka tiba-tiba merusak dan membakar pos polisi menggunakan bom molotov, melakukan vandalisme serta tindakan-tindakan anarkis lainnya yang memancing keributan dan merugikan,” papar dia.

Setelah mengumpulkan serta berkoordinasi dengan kader-kader yang terlibat demontrasi, lanjut dia, maka PMII DIY menjamin bahwa pelaku tindakan anarkistis dan vandalisme bukan dilakukan oleh kader PMII. “Tindakan tersebut memprovokasi massa aksi lainnya dan menimbulkan reaksi keras masyarakat sekitar yang awalnya melihat jalannya aksi dengan damai, sehingga gesekan dengan masyarakat pun tidak bisa dihindari,” tandas Faizi.

Sebagaimana diberitakan, pada Selasa (1/5) sore, aksi kerusuhan pecah saat sejumlah orang merusak dan membakar pos polisi yang ada di simpang tiga UIN. Aksi unjuk rasa berujung kericuhan ini diikuti oleh berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aksi Satu Mei (Geram).(K15,J1- 26)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar