Ruang Kelas VI SDN 4 Nabuhan Rusak Parah

Empat Tahun Belum Diperbaiki

GROBOGAN-Sudah sekitar empat tahun ruang kelas VI, SDN 4 Nambuhan, Kecamatan Purwodadi rusak dan hingga kini belum diperbaiki.

Kondisi ruang kelas di sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Danyang-Kuwu itu memprihatinkan. Dinding kayu dan tiang penyangga sekolah Inpres SD 1979 itu dimakan rayap. Sisa plafon dan genting nampak berserakan di lantai yang sudah mengelupas. ”Kami sudah tidak menggunakannya sejak empat tahun lalu. Kami tak mau anak-anak menjadi korban, karena sewaktu-waktu ruangan itu bisa roboh,” jelas guru kelas VI, Kusno, belum lama ini.

Tak hanya ruang kelas VI, ruangan yang semula untuk ruang guru juga rusak. Dua ruangan tersebut kini tak digunakan lagi. Untuk pembelajaran siswa kelas VI, mereka menempati ruang dengan kelas V. Kedua kelas itu dipisahkan dengan sekat papan kayu, sementara ruang guru dipindah ke perpustakaan. Ruang kelas VI kini digunakan untuk gudang barang-barang sekolah yang rusak. Sementara ruang guru kini dikosongkan. Pihak sekolah bahkan membuat pagar agar kedua ruangan tersebut tidak sembarangan dimasuki. Sementara itu, menempatkan siswa kelas VI dan kelas V dalam satu ruangan dengan sekat papan itu dinilai dapat mengganggu konsentrasi belajar para siswa.

Terlebih siswa kelas VI akan mengikuti UN. Dia mengatakan, keputusan menyekat kelas V dan VI tersebut diambil karena siswa di dua kelas itu sedikit. Siswa kelas Vhanya 13 anak dan kelas VI ada 10 siswa.

Prioritas

”Tidak ada pilihan lain selain menyekat kelas V. Sebelumnya, kami mencoba tak menggabungkan, dengan cara kelas I dan II belajar bergantian. Ternyata, itu berdampak kepada siswa kelas I dan II,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat menyatakan, pihaknya telah mengalokasikan Rp 7,8 miliar dari Dana Alokasi Khusus 2018 untuk perbaikan ruang kelas yang rusak. Anggaran tersebut disiapkan untuk perbaikan 105 ruang kelas di 34 SD yang tersebar di 14 kecamatan. ”Sebanyak 105 ruang kelas itu masuk dalam skala super prioritas untuk ditangani. Sebab, tingkat kerusakannya sangat parah, sehingga tidak representatif untuk kegiatan pembelajaran,” jelas mantan Kepala SMA1 Purwodadi itu. (zul-22)