TAJUK RENCANA

Jangan Hanya Sekadar Perang Tagar

Kemunculan tagar #2019Ganti- Presiden memancing reaksi dari kubu yang berseberangan. Pihak yang mendukung dua periode masa jabatan Presiden Joko Widodo, yang menggunakan tagar #DiaSibuk- Kerja, berusaha mengimbangi kemarakan tagar yang pertama. Dan, sebagaimana gampang diperkirakan, perang tagar ini akhirnya memanas dan menimbulkan gesekan. Pada momen Car Free Day di Jakarta, Ahad lalu, muncul intimidasi di antara dua kelompok itu.

Sejatinya, perang tagar ini wajar di tahun politik. Konstitusi kita juga menjamin kebebasan berekspresi dan menyuarakan aspirasi atau afiliasi politik bagi setiap warga negara. Era demokrasi memungkinkan terjadi pengelompokan aspirasi dan masing-masing kelompok berusaha memengaruhi kelompok yang lain. Hanya saja, masing-masing kelompok yang berseberangan perlu mengendalikan diri. Jangan sampai lepas emosi dan membiarkan sentimen meluas.

Setiap orang boleh saja menyuarakan aspirasi lewat berbagai sarana, baik yang tertutup maupun yang terbuka di ruang publik. Tagar merupakan sarana sosialisasi politik di media sosial yang sedang populer. Tagar adalah bagian dari semiotika yang mengekspresikan tanda, simbol, dan makna tertentu. Kita semua tahu apa yang terkandung dalam tagar #2019GantiPresiden. Simbol ini telah mengalami komodifikasi ketika ditampilkan di kaus atau produk lain.

Ada hal yang kita sayangkan dari perang tagar tersebut. Perang ini masih sebatas pertarungan semiotika yang cenderung mengadu sentimen antarkelompok dan mempertajam polarisasi politik. Ada pihak-pihak yang terlihat bersemangat dan senang dengan pembelahan sosial ini. Agenda kontestasi Pilpres 2014 sengaja dikibarkan kembali, sehingga publik diarahkan dan dipaksa untuk hanya berkiblat pada salah satu dari dua kubu, Jokowi atau Prabowo Subianto.

Alangkah lebih elegan jika perang simbol itu tampil lebih dewasa. Ada peningkatan makna, lebih dari sekadar perang tagar. Dua kelompok besar yang berseteru diarahkan untuk saling berkomunikasi dan terlibat diskursus yang mencerahkan. Mereka perlu lebih intens berdiskusi dan berdialog membahas substansi dan alternatif solusinya. Misalnya, apa saja target dan hambatan untuk Jokowi dua periode. Jika ganti presiden, akankah masalah bangsa ini otomatis teratasi.

Pengusung dan pendukung masing-masing tagar perlu lebih mengedepankan esensi pesannya. Di sinilah perlunya dialog yang mencerahkan agar kita tidak terjebak pada penokohan. Fokusnya adalah masalah dan masa depan bangsa ini. Karena itu, jika masalah bangsa diperkirakan tidak akan selesai lewat perang tagar dan polarisasi saat ini, kita bisa mencoba berpikir out of the box, keluar dari arus utama. Kita bisa bersama memikirkan dan mencari capres alternatif.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar