Inggris Tunjuk Etnis Minoritas Jadi Mendagri

LONDON - Pemerintah Inggris menunjuk Sajid Javid sebagai menteri dalam negeri baru, menyusul pengunduran diri mendadak Amber Rudd di tengah skandal imigran ”generasi Windrush,” Senin (30/4).

Javid, seorang keturunan Pakistan, adalah anggota etnis minoritas pertama yang memegang jabatan tertinggi di kementerian tersebut. Sebelumnya, dia pernah menjabat menteri masyarakat, pemerintah lokal, dan perumahan.

Dia adalah politikus Partai Konservatif dan mantan direktur Deutsche Bank. Dia adalah orang Asia pertama yang memegang salah satu kementerian negara di Britania Raya.

Lahir di Littleborough, Lancashire, pada 5 Desember 1969, Javid belajar ilmu ekonomi dan politik di University of Exeter dan bergabung dengan Partai Konservatif. Dia terpilih sebagai anggota dewan untuk Bromsgrove pada 2010.

Generasi Windrush

Pada Juli 2014, majalah Forbes menyamakan Javid dengan Barack Obama dan memperkirakan dia bisa menjadi perdana menteri Inggris berikutnya.

Mantan Mendagri Amber Rudd mengundurkan diri dari jabatan tertinggi kabinet setelah mengakui ”tak sengaja salah mengarahkan” pemerintah soal target deportasi imigran ilegal.

Pengunduran diri dilakukan di tengah skandal perlakuan buruk pemerintah terhadap ”generasi Windrush” dari Karibia, yang tiba secara legal di tanah Inggris antara era 1950 hingga 1960-an tapi kesulitan membuktikan statusnya di tengah operasi pemberantasan imigran ilegal belakangan ini.

Rudd adalah menteri tingkat tinggi keempat yang mengundurkan diri dari pemerintahan Konservatif pimpinan PM May dalam enam bulan terakhir, di saat negara tersebut dilanda masalah negosiasi soal keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Generasi Windrush datang ke Inggris untuk membantu upaya pembangunan kembali negara tersebut usai dilanda Perang Dunia II.

Pemerintahan May beberapa waktu lalu menyatakan Kementerian Dalam Negeri menghancurkan dokumen kedatangan anggota generasi Windrush. Artinya, beberapa di antara mereka, dan anak-anak mereka, terancam dideportasi setelah tinggal di Inggris selama beberapa dekade. (cnn-25)


Baca Juga
Komentar