Korut-Korsel Bongkar Pelantang Suara Propaganda

SEOUL - Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) mulai membongkar pelantang suara yang selama ini digunakan untuk menyiarkan propaganda masing-masing di perbatasan kedua negara, Selasa (1/5).

Ini merupakan langkah praktis pertama menuju rekonsiliasi yang dijanjikan dalam pertemuan puncak bersejarah antara Pemimpin Korut Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in pada Jumat lalu.

Melalui percakapan telepon dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, Presiden Moon meminta PBB membantu memverifikasi rencana penutupan lokasi uji coba nuklir Korut di Punggye-ri.

Guterres mengatakan, permintaan semacam itu memerlukan persetjuan dari Dewan Keamanan PBB. Namun, dia menambahkan akan bekerja sama membangun perdamaian di Semenanjung Korea dan menunjuk pejabat PBB untuk mengurus pengawasan senjata.

Beberapa hari sebelum pertemuan puncak antar-Korea, Korut secara mengejutkan menyatakan akan membongkar lokasi uji coba untuk menjamin komitmennya secara transparan terhadap penghapusan semua uji coba nuklir dan rudal.

Lokasi uji coba di Punggye-ri, tempat Korut meluncurkan enam uji coba nuklirnya, terdiri atas sistem terowongan yang digali di bawah Gunung Mantap di wilayah timur laut negara itu.

Sementara itu, zona waktu di Korut saat ini lebih lambat dibanding di Korsel akan disamakan mulai 5 Mei mendatang. Korut akan menyamakan pembagian zona waktu mereka dengan Korsel setelah diubah pada 2015.

Dampak Positif

Kala itu, Korut memutuskan untuk memakai zona waktu yang 30 menit lebih lambat dari zona waktu Korsel guna menandai peringatan 70 tahun pembebasan mereka dari pemerintahan Jepang.

Zona waktu sama yang akan dipakai adalah zona waktu yang ditetapkan oleh Kolonial Jepang saat menjajah Semenanjung Korea pada 1910-1945 silam.

Keputusan untuk menyamakan waktu itu juga merupakan salah satu simbol dampak positif dari pertemuan bersejarah antara pemimpin Kim Jong-un dan Moon Jae-in.

Kantor berita resmi Korut, KCNA, melaporkan Kim Jong-un merasa ”sangat sedih” ketika melihat dua jam dinding di ruang perundingan di Desa Panmunjom, yang menjadi lokasi pertemuan, menunjukkan dua zona waktu yang berbeda. ”Ini merupakan langkah praktis untuk rekonsiliasi nasional dan persatuan,” ujar Kim Jong-un seperti dikutip KCNA.

Dalam kesempatan lain, Moon Jae-in disebutkan berhasil meyakinkan Kim Jong-un untuk bertemu Presiden AS Donald Trump di zona demiliterisasi (DMZ) di perbatasan kedua Korea.

Berdasarkan sumber CNN, ada kemungkinan kuat pertemuan Trump dan Kim bakal digelar di tempat yang sama dengan pertemuan antara Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada Jumat (27/4) lalu. Beberapa kegiatan kemungkinan bakal digelar di sisi utara garis demarkasi yang memisahkan kedua negara Korea.

Salah satu pertimbangannya karena fasilitas media dan peralatan telah siap, yang memungkinkan KTT AS-Korut itu digelar pada akhir Mei. (rtr,cnn-sep-25)


Baca Juga
Komentar