Marvel Gracia, Penerima Anugerah Nasional Kekayaan Intelektual

Miliki Hak Paten Empat Tarian

SM/Setyo Wiyono : MENARI : Marvel Gracia ketika menari bersama ayah di pendapa rumahnya, baru-baru ini. (55)
SM/Setyo Wiyono : MENARI : Marvel Gracia ketika menari bersama ayah di pendapa rumahnya, baru-baru ini. (55)

Marvel Gracia baru saja menerima Anugerah Nasional Kekayaan Intelektual sebagai Siswa yang Inovatif dan Kreatif di bidang Hak Cipta dan Hak Terkait. Inovasi dan kreativitas seperti apa yang membuat bocah berusia 12 tahun itu memeroleh penghargaan tersebut.

MARVEL Gracia terus saja menari. Membedah ruang tubuhnya yang mungil dengan penuh ekspresi. Otot-ototnya yang seringkali menonjol, sementara tatapan matanya menyorot tajam.

Masih dengan ekspresi yang penuh, badannya kemudian membungkuk, kakinya menekuk silang, dan kedua tangannya mengembang serupa burung yang sedang mengepakkan sayapnya. ”Itu tari Garuda,” demikian kata Marvel seusai menari. Di pendapa rumahnya yang asri, Jalan Dewa Ruci 3, Krapyak, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Marvel tak sedikitpun menunjukkan rasa lelah. Padahal siang itu ia baru saja pulang dari Jakarta. Namun ketika diminta menari dia dengan penuh semangat melakukannya. Tariannya yang indah kian menyegarkan suasana rumah yang dikelilingi kebun dengan banyak pohon dan tetumbuhan hijau. ”Ini salah satu tarian yang saya ciptakan,” tambah bocah kelahiran Solo 5 November 2006 itu.

Sangat mungkin banyak yang tidak akan menyangka jika tarian tersebut adalah ciptaan dari Marvel sendiri. Namun begitulah kenyataannya, bahkan tari Garuda itu barulah satu diantaranya. Sebab selain tari Garuda, bocah berusia 12 tahun itu masih memiliki 3 tari ciptaannya yang lain, yakni Tari Persahabatan, Tari Sepeda Santai, dan Tari Ingin Hujan- Hujanan. Nah karena kemampuannya yang bagai menembus batas usia itulah yang membuat Marvel Gracia diberi Anugerah Nasional Kekayaan Intelektual sebagai Siswa yang Inovatif dan Kreatif di bidang Hak Cipta dan Hak Terkait.

Anugerah dari Kementerian Hukum dan HAM RI itu diterima Marvel dalam sebuah upacara di istana Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis (26/4) lalu. Dalam kesempatan pemberian anugerah itu, Marvel menjadi penerima anugerah yang termuda.

Dari tujuh penerima penghargaan, hanya dialah satu-satunya yang masih bocah. Sementara yang lain mayoritas sudah berusia tua termasuk para kepala daerah penerima penghargaan. Yang paling mendekati umurnya hanya ada seorang, penerima anugerah School Children’s Trophy yang berstatus pelajar SMA. ”Jadi menarik juga ketika melihat acara penyerahan penghargaan. Sebab Marvel menjadi satu-satunya bocah di antara banyak orang tua yang sedang menerima penghargaan,” kata Nuri Aryati, ibunda Marvel.

Bakat dan Kemauan

Tapi bagaimana mungkin Marvel yang baru berusia 12 tahun bisa mencipta tari? Kesadaran apa yang membuat dia bisa melakukan itu sementara teman-teman sebayanya masih dalam tahap menjadi penari?

Dari perbincangan dengan dia dan juga kedua orang tuanya, semua itu bisa terjadi karena ada dua faktor yang dominan. Pertama karena bakat dan kedua karena kemauan. Tentang bakat, semua pasti sepakat karena Marvel adalah anak dari penari kondang asal Solo Mugiyono Kasido. Betapa pun semua tahu bagaimana kapasitas kesenimanan Mugi yang sudah mendunia. Dia yang memiliki tubuh sangat lentur seperti bola karet itu kini menjadi salah satu koreografer ternama di Indonesia. Nah dari darah seniman yang seperti itulah bakat Marvel bermula. ”Waktu dalam kandungan, saya juga sering mendengarkan musik-musik karya Mozart,” tambah Nuri.

Barangkali Nuri sedang ingin menegaskan bahwa selain bakat masih masih ada faktor lingkungan yang mendukung. Dan itu tidak hanya dari musik Mozart saja, tapi juga dari dunia Mugiyono Kasido yang kental dengan lingkungan seni. Sebagai manajer, Nuri memang selalu menemani ke mana pun suaminya pergi. Baik itu untuk pentas atau untuk yang lain. ”Nah saat harus menemani suami tentu saja anak-anak juga saya ajak. Hingga dari sanalah anak-anak saya termasuk juga Marvel begitu dekat dengan lingkungan kesenian,” terangnya. Lalu bagaimana dengan kemauan?

Menurut Mugiyono Kasido, bukti adanya kemauan yang kuat itu bahkan sudah ditunjukkan sejak Marvel masih balita. Sejak usianya masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, dia memang sudah menunjukkan bakat yang melampaui batas usianya. Bakat yang kemudian memberi tanda bahwa dia memang berbeda dengan anak sebayanya. ”Dia pernah dan sering secara tiba-tiba ingin menari. Keinginan itu keluar secara spontan dan mendadak. Sementara waktu dan tempatnya juga tak terduga karena bisa kapan saja dan di mana saja,” kata dia.

Mugiyono kemudian menceritakan tentang sebuah peristiwa unik ketika menonton sebuah acara di kawasan Pabrik Gula Colomadu Karanganyar. Ketika acara sudah selesai, tiba tiba Marvel menyatakan keinginannya untuk menari.

Sejurus kemudian tubuh mungil Marvel sudah meliak liuk di antara lorong-lorong pabrik dengan mesin-mesin penggiling tebu yang ”menghiasi” ruangan. ”Karena waktu itu masih ada banyak penonton yang bertahan, jadinya tarian Marvel malah disaksikan banyak orang,” tutur Mugi.

Bakat dan kemauan itu kemudian bertemu, menjadikan Marvel Gracia seperti bocah ajaib. Ketika teman-teman sebayanya masih dalam tahap menjadi penari (menghafal) dia sudah jauh berada di depan dengan menjadi pencipta tari. Artinya ketika menjadi pencipta tari, dia tidak hanya dituntut menghafal saja. Namun lebih dari itu dia juga harus mencari gerak lalu juga mencatatnya. Ada banyak hal unik dan menarik ketika mencari tahu bagaimana cara Marvel melakukan penciptaan tari. Baik itu menyangkut dengan ide dan gagasan, lalu juga prosesnya mulai dari pencarian gerak tubuh, musik pengiring, hingga pencatatan gerak.

Dari tahapan proses penciptaan itu kecerdasan Marvel kemudian berpadu dengan batas usianya yang masih anak-anak. Jika menyangkut dengan ide dan gagasan, Marvel biasanya mendapatkan dari apa yang dia lihat dan rasakan. Biasanya peristiwa- peristiwa besar dalam konteks kehidupan dia sebagai seorang anak.(Wisnu Kisawa-56)


Berita Terkait
Komentar