CEN KONDHANG

Arti Kerja Keras

SM/dok  -  Widiastuti
SM/dok - Widiastuti

BUKAN perkara mudah untuk dapat menguasai seni gerakan tarian klasik. Tapi, bukan sesuatu yang sulit untuk bisa menguasainya. Hal itu dapat terwujud hanya dengan giat latihan dan tentunya memiliki rasa senang dengan seni tari itu sendiri. Itulah yang dialami Widiastuti(19) ketika harus berlatih keras agar dapat menguasai tari klasik.

Apalagi waktu yang tersedia relatif sempit, karena dikejar untuk dapat mengikuti sebuah kompetisi tari klasik tingkat Kota Magelang. “Ketika itu persiapan kurang dari satu minggu.

Saya harus bisa menguasai gerakan tari klasik dan ikut lomba. Setiap hari saya latihan dan akhirnya bisa,” ujar siswi SMK 3 Magelang itu kepada Suara Merdeka di sekolahnya. Dara kelahiran Magelang, 20 Desember 1999 itu tidak hanya bisa menarikan tarian klasik.

Tapi, dia juga berhasil membawa pulang juara pertama Lomba Tari Klasik tingkat SMA/SMK se-Kota Magelang, November 2017. “Rasanya senang. Sempat tidak percaya bisa juara, karena persiapannya mepet banget,” katanya.

Mengulik ke belakang, keberhasilan Widi, panggilan akrabnya dapat menguasai tari klasik dengan cepat ini tidak lepas dari kecintaannya pada tari sejak kecil. Pada usia sekolah dasar sudah belajar menari dan ikut dalam sanggar seni tari.

Di usia inilah ia ditempa keterampilan olah gerak hingga tubuhnya lentur dan luwes dalam menari. Sejumlah pementasan dan lomba diikuti dengan prestasi yang tidak sedikit.

Kecintaannya ini berlanjut sampai di bangku SMK, meski sempat tidak aktif saat usia SMP/MTs. Anak bungsu dari empat bersaudara pernah pentas tari di Malaysia ini. Perempuan yang mengambil jurusan jasa boga ini lebih fokus dalam berlatih tari.

Tidak kurang dari 20 jenis tarian dapat dikuasainya, salah satunya tari klasik. “Paling susah tari Gambir Anom dan Klono Topeng, karena itu tarian untuk pria,” jelas Widi yang memfavoritkan penari Didik Nini Thowok ini. (Asef F Amani-26)


Berita Terkait
Komentar