Pembezuk Tahanan Dituntut Tujuh Tahun

Selundupkan Sabu-sabu lewat Ikan Goreng

SEMARANG-Terdakwa Sri Cahyani (31), pembezuk tahanan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang menyelundupkan sabu-sabu lewat ikan mujair goreng dituntut penuntut umum dari Kejari Semarang, Adiana Windawati, hukuman tujuh tahun penjara serta denda Rp 1 miliar setara dua bulan kurungan.

Dalam sidang di PN, Senin (30/4) lalu, jaksa Winda, panggilan akrab Adiana, itu menilai Sri bersalah tanpa hak menerima, menjadi perantara dalam jual beli atau menyerahkan narkotika golongan I sebagaimana diatur dalam Pasal 114 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 35/ 2009 tentang Narkotika. ”Menetapkan, terdakwa membayar biaya perkara Rp 2 ribu,” tandas Winda saat membacakan tuntutannya di hadapan majelis hakim yang diketuai Andi Risa Jaya.

Tindak pidana itu dilakukan terdakwa pada Selasa, 21 November 2017 sekitar pukul 11.30 di depan sel ruang tahanan PN Semarang. Terdakwa pada waktu itu, di tempat tersebut ditangkap, saksi Handoyo dan timnya, petugas Polrestabes Semarang. Petugas awalnya mendapatkan informasi masyarakat yang menyebutkan, Sri terlibat dalam penyalahgunaan narkotika.

Digeledah

Saat digeledah petugas, ditemukan satu ponsel Samsung tab 4, satu handphone Samsung Galaxy Grand 2 putih, satu ponsel Polytron hitam, satu kantong plastik klip kecil berisi sabu-sabu dalam bungkusan permen, serta satu bungkus sabusabu di dalam plastik mika tempat membungkus ikan mujair goreng. Sabu-sabu itu merupakan pesanan, Enrico Kiko Maylano, terdakwa lain dalam berkas terpisah. Selama Erico menjalani proses hukum sidang di PN Semarang, terdakwa sering datang di sel tahanan untuk membezuk. Usai mendengarkan tuntutan jaksa tersebut, Sri didampingi kuasa hukumnya, Dwi Apriyanto, akan mengajukan pleidoi atau pembelaan. ”Kami akan mengajukan pembelaan Yang Mulia,” jelas Dwi.

Selanjutnya, hakim menunda sidang pekan depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi. (J17-22)