Masyarakat Daerah Rawan Bencana Dilatih Sibat

KAJEN-Tiga desa rawan bencana di Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, yakni Gembong, Klesem, dan Bodas dilatih kegiatan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (KBBM), Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat), oleh PMI setempat. Kegiatan yang dikawal langsung oleh Ketua PMI Kabupaten Pekalongan, Arini Harimurti itu bertujuan menggerakkan, memotivasi, dan memobilisasi masyarakat.

Hal itu dalam upaya kesiapsiagaan serta pengurangan risiko atau mitigasi tanggap darurat bencana. Menurut Wakil Bupati Pekalongan ini, tiga desa di daerah atas Kota Santri tersebut merupakan daerah dengan kerawanan bencana paling tinggi. Bahkan pada tahun ini telah beberapa kali terjadi bencana longsor di kawasan tersebut.

Kegiatan yang digelar di Balai Desa Gembong Kecamatan Kandangserang itu diisi pelatihan dengan diikuti 30 peserta dari masyarakat Desa Gembong, Klesem dan Bodas, berusia antara 17 hingga 35 tahun. Dari total peserta, 30 persen diantaranya adalah perempuan 30.

”Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat desa Gombong, Klesem dan Bodas memiliki pengetahuan tentang kepalangmerahan, dan mau bergabung menjadi sukarelawan PMI. Tidak kalah pentingnya agar mereka memiliki kapasitas pada bidang siaga bencana berbasis masyarakat,” beber Arini.

Lebih lanjut, Arini menegaskan, PMI Kabupaten Pekalongan memandang perlu untuk melatih masyarakat, khususnya di wilayah Kandangserang sebagai anggota Sibat, agar para sukarelawan tersebut dapat berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana yang terjadi ditengah masyarakat setempat. ”Kegiatan ini merupakan salah satu program prioritas PMI, untuk memberdayakan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Urusan PMI kini tidak lagi hanya urusan donor darah, tetapi juga permasalahan sosial dan kemanusiaan,” tegas Arini. Dalam menjalankan fungsinya untuk pelayanan kepada masyarakat, sambungnya, pihaknya membutuhkan sukarelawan yang sigap membantu program kerja PMI, khususnya dalam penanganan bencana alam. Karena belakangan ini sering terjadi bencana, seperti tanah longsor, banjir, kebakaran dan sebagainya.

”Saya berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas sukarelawan Sibat dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terintegrasi di dalam lingkungan tempat tinggal masingmasing,” jelas dia. (H52-58)