Komunitas Kidul Gunung Digagas

PURWOKERTO- Komunitas penjelajah wisata, blogger, dan pegiat media sosial di wilayah Banyumas Raya (Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga dan Cilacap) menggagas komunitas Kidul Gunung.

Kelompok ini bersepakat untuk mengembangkan aktivitas pariwisata tanpa sekat kedaerahan. Pegiat Generasi Pesona Indonesia (Genpi) wilayah Banyumas, Wiwit Yuni mengatakan, komunitas ini dibentuk untuk membantu pemasaran produk-produk pariwisata yang belum terekspos secara meluas.

Diantaranya dengan menggandeng komunitas yang memiliki produk aktivitas wisata seperti free diving, kopi trip, canyoning, cliff jumping, Genpi, Paguyuban Kakang Mbekayu Banyumas (Pakemas), blogger, dan lain-lain. "Di Banyumas sendiri komunitas aktivitas wisata ini cukup banyak.

Mereka memiliki potensi yang layak dikembangkan untuk menarik wisatawan. Untuk sementara ini, nama yang disepakati adalah Komunitas Kidul Gunung," kata dia dalam rembug wisata Banyumas, di Baturraden Adventure Forest (BAF), akhir pekan lalu. Menurut Wiwit, selama ini komunitas tersebut jarang digandeng oleh pemerintah daerah.

Meski bergerak sendiri, mereka mampu membangun jejaring yang luas melalui sosial media. Hal ini merupakan tren yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI yaitu nomadic tourisme. Wisata jenis ini bersifat temporer secara akses maupun amenitasnya.

Tidak Terbatas

"Ini bisa diterapkan untuk menjangkau destinasi alam potensial di wilayah Banyumas Raya yang sulit dijangkau. Jadi tidak perlu terbatas dengan birokrasi pemerintahan yang berbelit untuk membangun akses transportasi yang baik dan membuat paket wisatanya," ujarnya.

Senada, pegiat Kopi Trip, Satrio Hapsoro menyebutkan, komunitas yang dibentuknya hanya mengemban misi untuk mengenalkan kopi nusantara. Metodenya dengan mengunggah foto saat sedang berjalan-jalan di suatu tempat wisata baru yang belum terjamah. "Sederhana saja, jalanjalan, seduh kopi lokal, lalu posting di medsos.

Itu saja sudah banyak yang tertarik," tuturnya. Menurut dia, kopi lokal, terutama dari Banyumas belum digarap serius oleh pemerintah. Padahal, daerah lereng Gunung Slamet sangat potensial untuk ditanami kopi. Pelaku wisata, Bilwan Feriyanto mengatakan, pertemuan tersebut harus berlanjut dengan kerja sama antar komunitas.

Pasalnya, potensi komunitas tersebut sangat mendukung pemasaran pariwisata. "Di sini ada komunitas yang memiliki produk, ada pula yang bertugas menjadi endorser dan para penulis atau reviewer dan pegiat medsos atau yang memiliki kemampuan untuk mempopulerkan suatu aktivitas wisata atau produk pariwisata. Ini perlu dibangun kerjasama yang baik," ujarnya.

Pengembangan wisata seharusnya tidak mengenal batas wilayah. Meski setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda, tapi kerjasama antar komunitas tetap bisa dilakukan.(K35-60)


Komentar