Mengemas Tradisi Menjadi Atraksi Wisata

DI bawah terang sinar bulan purnama, satu persatu warga Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, menuruni dinding Sungai Cawang. Mereka hendak memulai tradisi kungkum (berendam) di sungai itu ketika bulan tepat berada di atas kepala.

Mereka berkumpul di tempuran (pertemuan) dua buah sungai, tepat di bawah pohon Seprih (ara atau beringin pencekik) yang dikeramatkan oleh para sesepuh setempat. Setelah berdoa bersama, peserta kungkum kali mulai diguyur dengan bunga tujuh rupa. Saat mandi bersama itu pula, seluruh lampu penerang dimatikan.

Peserta melakukan tapa bisu saat berendam bersama itu. Sesepuh adat Jagabudaya, Lamus (59) mengatakan, tradisi berendam di sungai tersebut sudah dilakukan secara turun temurun. Upacara adat itu sempat berhenti sekitar tahun 1980-an. "Sejak tahun lalu dihidupkan lagi, setiap tanggal 15 bulan Sya'ban atau Sadran.

Masyarakat, tua muda, anak-anak remaja, berkumpul di Kali Cawang untuk berendam bersama," ujar Lamus. Dalam kepercayaan masyarakat, membersihkan diri di sungai ini bakal mendapat kehidupan yang tenang dan rezeki yang melimpah. Selain itu, ada sebagian yang percaya air sungai ini membawa berkah awet muda.

Pada masa lalu, tempuran Sungai Cawang ini menjadi tempat bersemedi para pesohor dan penganut kepercayaan kejawen. Mereka mengheningkan cipta untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. "Konon di tempat ini bersemayam Ki Rantamsari atau Mbah Gendeng. Tapi saya kurang paham asal-usulnya, ini masih digali," ujarnya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Banjarpanepen, Turimin mengatakan, tradisi tersebut kini dikemas dalam bentuk atraksi wisata. Tidak hanya menyuguhkan tradisi kungkum kali, warga setempat juga menggarap pasar malam yang menyajikan kuliner khas desa, seperti aneka olahan oyek. Area Sungai Cawang pun dihias dengan obor sebagai penerang.

"Kami mengembalikan lagi nilai-nilai tradisi yang dilakukan oleh para tetua. Tentunya dikemas dengan lebih menarik, ada pertunjukan lengger, kidungan, pasar kuliner tradisional dan hiburan kesenian lainnya," kata dia. (Nugroho Pandhu Sukmono-60)


Komentar