Potensi 400 Desa Wisata Dikaji

SEMARANG - Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng mengkaji terhadap desa-desa wisata yang ada di Jawa Tengah. Saat ini, ada 400 desa yang memiliki potensi menjadi desa wisata, 229 di antaranya telah ditetapkan menjadi desa wisata.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Disporapar Jateng, Prambudi mengatakan, kajian itu salah satunya untuk mengetahui sejauh mana potensi yang dimiliki desa tersebut. Selain itu, untuk mengetahui perkembangan desa yang telah ditetapkan menjadi desa wisata.

”Pariwisata itu terus berkembang. Jadi, tak bisa hanya monoton, karena jika objeknya itu-itu saja dan tak ada daya tarik yang baru, akan ditinggalkan. Semua harus ikut bergerak,” ungkap Prambudi, usai talkshow pengembangan desa wisata di Jateng bersama DPRD Jateng di Hotel Pandanaran Semarang, Senin (30/4).

Untuk pengembangan destinasi wisata, lanjutnya, memang diperlukan inovasi. Inovasi yang dimaksudkan harus sesuai dengan selera masyarakat yang menjadi calon konsumen. Atau menampilkan sesuatu yang baru dan unik. Untuk itu, bisa jadi, masyarakat tak akan bisa bekerja sendirian. Butuh semua lapisan masyarakat dan peran serta swasta. Lantaran dalam pengembangannya butuh dana.

Susun Perda

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Didiek Hardiana mengatakan, saat ini pihaknya tengah fokus menyusun perda tentang Pemberdayaan Wisata di wilayah perdesaan. Tujuannya, untuk melindungi masyarakat desa dan mendorong dampak ekonomi untuk masyarakat.

Didiek menginginkan, pengembangan desa wisata membuat perekonomian masyarakat setempat dan sekitarnya meningkat. Jangan sampai warga desa hanya sebagai penonton. Karena itu, langkah yang harus dilakukan selain membangun secara fisik potensi wisatanya adalah memberikan pendidikan tentang partiwisata pada masyarakat setempat.

Misalnya, memberikan pelatihan foto dan cara mengunggahnya di media sosial. ”Foto yang diunggah di medsos harus dari sudut yang tepat agar menarik perhatian. Jika itu bisa dilakukan, akan menekan biaya pemasaran objek wisata,” ujar Didiek. (H81-50)