Lari Obor Tradisi Gajahmungkur

CAHAYA obor yang dibawa puluhan orang menghiasi Taman Gajahmungkur pada Senin (30/4) malam. Mereka bersiap mengikuti lomba Lari Obor 2018. Para peserta yang mengenakan kostum bernuansa warna merah dan putih itu Nampak antusias mengikuti lomba yang digelar di Kecamatan Gajahmungkur dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-471 Kota Semarang.

”Lari obor merupakan tradisi di Kecamatan Gajahmungkur. Obor memiliki nilai filosofis bagi wilayah setempat. Obor digunakan untuk sarana komunikasi di antara masyarakat pada zaman dulu, khususnya pada malam hari. Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi icon baru di Kota Semarang,” kata Camat Gajahmungkur, Bambang Pramusinto. Sebelumnya, kata dia, kegiatan itu digelar dengan skala kecil, yakni di tingkat kelurahan. ëíItu pun hanya ada di Kelurahan Gajahmungkur dan Petompon,íí katanya.

Sementara itu, sebanyak 43 tim dari masing-masing RWdi kecamatan setempat mengikuti lari estafet tersebut. Tiap tim terdiri atas tujuh pelari, yakni lima pelari utama, dan dua cadangan. Para pelari harus berpacu melewati lima pos yang merentang mengelilingi garis start dan finish. Adapun seorang pelari menempati masing-masing pos. Pelari pertama akan memberikan obornya kepada pelari di pos selanjutnya. Begitu seterusnya, hingga garis akhir.

Jarak yang Ditempuh

Pelari mulai start dari Taman Gajahmungkur menuju pos pertama di RS William Booth, pos kedua di dekat Pom Bensin Kaligarang, pos ketiga di Hotel UTC, pos keempat di Oasis Cafe and Resto, dan pos kelima ke Taman Gajahmungkur. Jarak yang harus ditempuh sejauh 4,71 kilometer. Hal itu menyesuaikan peringatan hari jadi Kota Semarang. Pada kesempatan itu ada dua jenis lomba yang dipertandingkan, yakni lomba yel-yel dan lari.

Penilaian yel-yel didasarkan pada obor mereka dengan bobot nilai sebesar 50 persen, yel-yel 25 persen, keunikan kostum 25 persen. Sementara untuk penilaian lari, dihitung dari kecepatan peserta mencapai garis finish. Peserta lari, Arrad Agung Fadli (21) menyatakan bersyukur karena timnya meraih posisi harapan dua dalam lomba tersebut. Ia mengatakan, medan terberat ada di rute terakhir menuju garis finish. Di sana ada tiga tanjakan yang yang harus dilalui peserta. ”Karena menguras stamina banyak,” paparnya.

Menurut Arrad, timnya sudah mempersiapkan diri dengan berlatih sesuai rute yang akan dilombakan. Ternyata rutenya diubah menjelang pelaksanaan lomba. ”Lari ini ditentukan pelari pertama dan terakhir. Untuk mendapat posisi terdepan setelah berangkat dari start. Sementara pelari terakhir harus bisa mencapai garis finish paling cepat,” kata warga RT4, RW 5, Lempongsari itu. (Muhammad Arif Prayoga-22)