TAJUK RENCANA

Refleksi dan Tantangan Dunia Pendidikan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei menjadi refleksi seluruh elemen terkait dengan dunia pendidikan. Memang sejatinya perbaikan pendidikan tidak terbatas oleh waktu karena senantiasa terus berjalan secara kontinu, berkelanjutan dari masa ke masa. Seringkali kita melihat perkembangan dunia pendidikan dari sisi fenomena yang terlihat dipermukaan. Terutama kejadian yang menyita perhatian publik secara luas yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Seperti server rusak dan bobot soal higher order thingking skills (HOTS)/soal dengan kesulitan tinggi dalam UNBK SMA dan SMP, tingginya angka kekerasan pada anak, atau jembatan roboh sehingga pelajar harus melewati perjalanan membahayakan untuk mencapai sekolah. Padahal sejatinya berbagai persoalan setiap hari memerlukan perhatian lebih. Banyak sekolah belum memiliki fasilitas belajar dan mengajar memadai sebagai pendukung baku mutu pendidikan nasional.

Ranking pendidikan Indonesia berada di level bawah dalam pemeringkatan Program for International Studies Assessment (PISA) 2015. Indonesia berada di rangking ke-72, jauh di bawah Vietnam yang menempati rangking ke-8. Praktis kita hanya unggul dari Peru, Lebanon, Tunisia, dan Brazil. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempertanyakan metodologi terutama pengambilan survei, jangan-jangan penelitian dipusatkan di wilayah yang terbelakang.

Namun hasil tersebut hendaknya menjadi pelecut bahwa keluaran pendidikan tidak sekadar kegiatan bersekolah. Pendidikan didorong menjadi bagian dari proses kolaboratif yang terjalin terus menerus antara anak, orangtua, pendidik, dan lingkungan sosial. Karena itu persoalan pendidikan paling tidak terfokus pada tiga hal, yaitu akses, kualitas, dan pemerataan. Bagian pertama adalah menekan tingginya anak putus sekolah pada usia 7-15 tahun, untuk memenuhi wajib belajar 12 tahun.

Dari catatan anggota DPRD Jateng Muh Zen Adv, angka putus sekolah di Jateng tahun lalu menempati peringkat ke-24. Sebanyak 67 persen dari anak usia 16-18 tahun tidak sekolah. Ini menjadi catatan memprihatinkan bagi provinsi ini karena persentasi jumlah tenaga kerja di Jawa Tengah didominasi latar pendidikan sekolah dasar. Plt Gubernur Heru Sudjatmoko mengatakan angka statistik banyak orang terdidik, namun tumbuh kembang lebih banyak yang belum terdidik.

Kondisi tersebut memembutuhkan perhatian seluruh masyarakat sebagai bagian dari dunia pendidikan. Hadirnya revolusi industri 4.0 yag bertumpu pada kecerdasan buatan, internet, robotik, dan mesin-mesin cerdas memerlukan tenaga kerja tangguh yang mampu beradaptasi dengan gelombang perubahan. Dunia pendidikan kita tidak bisa lagi hanya berfokus pada paradigma peningkatan nilai ujian, namun lebih luas pada kesiapan menjawab kebutuhan SDM andal pada abad ini.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar