TEMPO DOELOE

Ada Thomas Karsten dalam Jejak Sejarah Tata Kota

Kawasan Gladiool, Kota Magelang

SM/Tuhu Pr  -  RUMAH KUNO : Salah satu bangunan rumah kuno di kawasan Gladiool, Magelang. Kelestariannya terancam karena kawasan itu belum dinyatakan sebagai cagar budaya. (26)
SM/Tuhu Pr - RUMAH KUNO : Salah satu bangunan rumah kuno di kawasan Gladiool, Magelang. Kelestariannya terancam karena kawasan itu belum dinyatakan sebagai cagar budaya. (26)

KAWASAN Perumahan Gladiool terletak di sisi barat Kota Magelang, tepat di tepi barat Jalan Tentara Pelajar, Bayeman. Posisinya sangat strategis meski berada di lereng dengan kontur tanah miring ke barat. Di kawasan inilah masih dapat ditemui rumah-rumah tua yang dibangun di era tahun 1939-1940.

Lalu bagaimana cerita awal mula Kawasan Gladiool ini? Menurut Bagus Priyana, Koordinator Kota Toea di Magelang, pada era Burgemeester (wali kota) Stadsgemeente Magelang saat itu yaitu Nessel Van Lisa, dilakukanlah pembangunan besar-besaran di sisi barat daya Kota Magelang.

Seperti pengeringan rawa di selatan Kampung Jambon untuk dijadikan lapangan Kepanduan (Pramuka, kini menjadi kolam renang Gladiool dan Perumahan Gladiool Baru).

Berikutnya adalah membongkar dan memindahkan kompleks permakaman Tionghoa (bong) ke Bukit Tidar. ”Termasuk memindahkan Kampung Singoranom (Bayeman) untuk dijadikan perumahan untuk orang Belanda,” katanya, kemarin.

Ia menyebut perancang penataan kawasan perumahan Gladiool, dilakukan oleh arsitek dan planner permukiman terkenal dari Belanda, Herman Thomas Karsten yang juga merancang kawasan perumahan Kwarasan di Cacaban. Dalam catatan Komoenitas Petjinta dan Pelestari Bangoenan Toea (Kota Toea) di Magelang, saat awal proses pengerjaannya, diadakan acara seremonial yang di lakukan oleh Burgemeester Nessel Van Lisa yang dihadiri oleh pejabat teras di Magelang yaitu Residen Kedu.

Mengingat kontur tanah yang miring ke barat, Karsten membuat beberapa tipe rumah dimana tipe rumah yang dibangun ini memiliki kelebihan yaitu mempunyai sudut pandang yang tepat untuk menikmati pemandangan Gunung Sumbing dan perbukitan Giyanti di barat Kota Magelang. Diperkirakan ada sekitar 30- an yang dibangun di saat itu.

Pada bagian rawa yang dikeringkan tersebut, dibuatlah jalan penghubung antara Kampung Jambon dengan Perumahan Gladiool yang disebut dengan ”sportlaan” atau jalan olahraga, menuju lapangan yang di pergunakan untuk Kepanduan serta olahraga.

Pada kawasan perumahan Gladiool ini ada dua jalan utama yaitu ”Gladioolweg” yang kini menjadi Jalan Sugiyono dan ”Nesselweg” yang kini menjadi Jalan MT Haryono.

Menurut Bagus Priyana, nama ”Nesselweg” untuk mengabadikan nama Burgemeester saat itu Nessel Van Lisa. Sedangkan untuk menghubungkan kedua ruas jalan dibuatlah jalan ”Julianalaan” yang kini menjadi Jalan Embong Mawar juga ada ”Wilhelminalaan” yang kini jadi Jalan Embong Kenanga.

Setelah dibangun Kawasan Perumahan Gladiool, dilakukan penataan lingkungan, dengan membuat jalan-jalan kampung sekitar Bayeman, seperti Gang Cokro, Gang Gereja, Gang Kamulyan dan Gang Raharjo.

Ia mengatakan, hingga sekarang Kawasan Perumahan Gladiool belum menjadi cagar budaya, meski telah menjadi bagian penting sejarah tata kota di Kota Magelang. Sehingga hal ini menyebabkan kawasan ini terancam kelestariannya. (Tuhu Prihantoro-26)


  • Tags
Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar