• KANAL BERITA

65 Ribu Warga Kota Semarang Masuk Kategori Miskin

SM/M Arif Prayoga  -  SIMULASI BELANJA : Wali Kota, Hendrar Prihadi bersama Menteri Sosial, Juliari P Batubara, melakukan simulasi belanja E-Warung Mandiri Jaya, di Pusponjolo Selatan Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat, kemarin. (42)
SM/M Arif Prayoga - SIMULASI BELANJA : Wali Kota, Hendrar Prihadi bersama Menteri Sosial, Juliari P Batubara, melakukan simulasi belanja E-Warung Mandiri Jaya, di Pusponjolo Selatan Kelurahan Bojongsalaman, Semarang Barat, kemarin. (42)

SEMARANG BARAT - Sebanyak 65 ribu warga Kota Semarang masih berada dalam kategori miskin. Pemkot Semarang terus bersinergi dengan Kemensos untuk mengurangi angka tersebut.

Wali Kota Hendrar Prihadi pun menyebut, ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan. Salah satunya bersinergi dengan Pemerintah Pusat.

Penjelasan ini disampaikannya, saat mendampingi Menteri Sosial RI, Juliari Batubara, dalam kunjungan kerjanya di Kota Semarang, Jumat (14/2).

Dalam kunjungan kerjanya tersebut, Juliari menyalurkan Bantuan Pangan Nontunai kepada 41.328 keluarga di Kota Semarang.

Lebih lanjut Wali Kota menyebutkan, angka kemiskinan di Kota Semarang sudah menurun dari 4,15% menjadi 3,98% dari total penduduk. Walau demikian jumlahnya masih sekitar 65.000.

Untuk itulah bantuan sosial sembako yang semula sebesar Rp 110.000, kini ditingkatkan menjadi Rp. 150.000 atau jumlahnya sebesar Rp 74,4 miliar dalam setahun.

‘’Ini merupakan PR bersama. Untuk itu, kami berterima kasih karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial memberikan bantuan kepada 41.328 keluarga dalam bentuk BPNT, Kelompok Keluarga Bersama (Kube), E-Warong yang harapannya dapat semakin mengurangi angka kemiskinan, ujar wali kota yang akrab disapa Hendi ini. Dijelaskannya, Konsepnya BPNT diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) secara langsung.

Para Keluarga Penerima Manfaat dapat menggunakan KKS untuk membeli sejumlah bahan pangan, seperti beras, minyak, sayur, telur, dan ayam di Ewarong atau elektronik warung gotong royong.

Menurutnya yang dimaksud miskin adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sehari-hari dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap.

Untuk itu, pihaknya mengupayakan warga usia produktif dan masuk ke dalam kategori pra sejahtera didorong untuk mandiri melalui kegiatan kewirausahaan.

Sedangkan masyarakat Lansia didorong untuk melakukan kegiatan amal, seperti renovasi rumah, PKH, baksos dan lain-lain.

Dalam pengentasan kemiskinan, selama ini Pemkot juga telah melakukan berbagai upaya kongkrit. Salah satunya menjamin kehidupan sosial warga mulai dari lahir sampai meninggal.

Pemkot berkomitmen melepaskan kota dari kemiskinan. Mulai dari bayi di dalam kandungan melalui Posyandu, mendapat kemudahan Ambulance dan persalinan gratis melalui UHC.

Pendidikan berjenjang juga gratis mulai dari TK, SD, SMP dan tahun 2020 ini sejumlah sekolah swasta juga secara bertahap digratiskan. Bagi masyarakat yang tergolong angkatan kerja, Pemkot memfasilitasi melalui Kredit Wibawa (Kredit Wirausaha Bangkit Jadi Jawara).

Pendampingan, hingga pemasaran melalui Semarang Creative Gallery. Sedangkan di usia lansia tercover lewat UHC, ada bedah rumah, ambulance jenazah gratis hingga santunan kematian.

Sementara itu, Menteri Sosial, Juliari Batubara berharap program Bantuan Pangan Nontunai ini dapat semakin mengurangi angka kemiskinan di Kota Semarang. Ini juga akan berkontribusi juga terhadap jumlah kemiskinan nasional.

Dikatakannya, tahun ini, jumlah bantuan yang diterima meningkat. Dari 110 ribu menjadi 150 ribu agar dapat menambah bahan makanan seperti sayur dan lauk seperti ayam.

‘’Harapannya peningkatan program bantuan sosial Sembako ini juga dapat membantu pemerintah dalam penurunan angka stunting. Khususnya bagi ibu hamil dan anak usia dini melalui cakupan gizi yang lebih baik,’’ ujar Juliari. (K18,ary-42)