• KANAL BERITA

Sekolah Harus Punya Sistem Pencegahan Perundungan

SM/dok  -  Agus Bastian
SM/dok - Agus Bastian

JAKARTA - Sekolah atau sistem pendidikan harus memiliki mekanisme pencegahan dan penanggulangan kekerasan di sekolah. Hal tersebut dikatakan Pelaksana Tugas Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana, menanggapi kemerebakan sejumlah kasus perundungan di ligkungan sekolah akhir-akhir ini. Kasus terkini terjadi di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo.

”Kalau sama sekali tidak terjadi kekerasan sepertinya tidak mungkin, karena setiap sistem sosial pasti ada sisi penyimpangan. Namun yang perlu diperhatikan, harus dapat dipastikan bahwa sekolah atau satuan pendidikan memiliki mekanisme pencegahan dan penanggulangan kekerasan dengan membuat suatu tim atau gugus tugas sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan,” ujar Ade, Jumat (14/2).

Mekanisme tersebut harus dibangun dengan sistem pembelajaran yang interaktif, dengan melibatkan guru dan murid, murid dan murid, serta guru dan orang tua.

”Sistem interaksi yang terbuka dan hubungan hati harus dibangun. Anak yang terbuka dengan orang tua dan murid yang terbuka dengan guru dalam mengungkapkan hal-hal yang sekecil apa pun harus direspons secara empati, agar kepuasan interaksi ini bisa mendeteksi karakter dan penyimpangan yang akan atau telah terjadi,” terang Ade.

Ke depan, pemerintah akan melakukan survei karakter untuk mendeteksi secara dini anak-anak yang memiliki karakter-karakter khas dengan kecenderungan agresif.

Seperti diberitakan, kasus perundungan baru-baru ini terjadi sebuah SMP di Malang, Jawa Timur dan di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo.

Aksi kekerasan di Purworejo diketahui dari video yang viral di media sosial pada Rabu (12/2) malam, memperlihatkan tiga siswa laki-laki melakukan kekerasan terhadap seorang siswi perempuan.

Korban, CA(16), yang belakangan diketahui sebagai anak berkebutuhan khusus tampak tidak berdaya dan hanya menundukkan kepala di meja sambil menangis.

SR (49) ibu CAmenuturkan bahwa putrinya sempat mengalami trauma selama beberapa hari setelah dirundung oleh tiga temannya.

SR tak menyangka anak bungsunya (dari dua bersaudara) itu mendapat siksaan di sekolah. ”Kemarin nangis-nangis terus, teriak- teriak gitu, kayaknya trauma,” tuturnya.

SR menyebutkan saat ini kondisi putrinya itu berangsur membaik. ”Sekarang sudah agak tenang, bisa main sama saudara yang lain, jadi bisa keslimur (melupakan peristiwa yang dialami),” ungkapnya.

Meski demikian, CA belum masuk sekolah. Menurut dia, kemungkinan putrinya akan kembali masuk sekolah pada Senin (17/2).

Hasmeli Fitri, pekerja sosial yang mendampingi korban mengungkapkan, CA ternyata sudah lama di-bully. Korban sering mengeluhkan kenakalan teman- teman di sekolahnya.

Hal itu menyebabkan dia sering enggan masuk sekolah. ”Saat saya mendampingi korban, dia sering mengeluh tak mau masuk sekolah, karena takut pada teman-temannya yang sering memukuli dia,” ujar Fitri.

Menurutnya, korban mengaku sering diperlakukan semena-mena oleh ketiga pelaku selama empat bulan. Berdasarkan keterangan ibu korban, tiap kali pulang sekolah, buku dan pensil CA kerap hilang.

Bahkan kantong roknya sering robek karena temannya sering memaksa mengambil uang dari saku rok. ”Korban trauma. Dia harus sering mendapat pendampingan. Kebetulan ibu korban mau mendampinginya setiap waktu,” ujar Fitri.

Efek Jera

Sementara itu, Bupati Purworejo Agus Bastian meminta agar kasus itu ditangani secara sungguh-sungguh oleh pihak berwajib, sehingga memberikan efek jera kepada para pelaku, yaitu TP (16), DF (15), dan UHA(15).

”Ini keterlaluan sekali. Walaupun usia pelaku masih muda, tetapi menimbulkan bibit-bibit yang kurang baik pada waktu yang akan datang,” kata Bupati seusai menjenguk korban di rumahnya.

Bupati pada kesempatan itu memberikan dukungan secara moral agar korban kembali pulih dan bersekolah lagi. Ke depan, lanjut Agus, diperlukan pencegahan dini oleh pihak-pihak terkait.

Salah satunya oleh sekolah dengan memberikan pembinaan intensif kepada para siswa. Pemkab melalui instansi terkait akan berupaya memberikan pendampingan khusus kepada korban. Pemkab juga akan memastikan korban memperoleh pendidikan yang baik sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Purworejo Sukmo Widi Harwanto, korban sebaiknya dipindah dari sekolah tersebut agar tidak terus trauma.

Namun, kedua orang tuanya bersikukuh untuk tidak memindahkan anaknya. ”Orang tua korban juga bersikeras agar pelaku diadili melalui jalur hukum,” jelasnya.

Menurut Sukmo, sebenarnya ada jalan lain yang bisa ditempuh demi kebaikan bersama, mengingat pelaku dan korban sama-sama masih duduk di bangku sekolah.

Pihaknya akan mengupayakan jalur mediasi dan diversi, meski Polres Purworejo telah menetapkan ketiga pelaku sebagai tersangka.

”Kita tahu perasaan orang tua korban, yang masih belum menerima anaknya diperlakukan seperti itu. Tapi nanti seiring berjalannya waktu, kita upayakan untuk mediasi atau melalui diversi, sehingga bisa menghasilkan keputusan yang terbaik untuk anak-anak,” ujarnya.

Agar aksi tidak terpuji ini tidak terulang di sekolah lain, pihaknya mengintruksikan semua sekolah di Purworejo agar memaksimalkan peran guru Bimbingan Konseling (BK), agar siswa mempunyai akhlak yang arif dan bijak. (shp,H87,ant,viva-19)


Berita Terkait
Komentar