• KANAL BERITA

Peneliti UGM Temukan Spesies Baru Bakteri

Mampu Hasilkan Antibiotik Terbanyak

SM/dok  -  TUNJUKKAN PENELITIAN : Ambarwati menunjukkan penelitiannya. (55)
SM/dok - TUNJUKKAN PENELITIAN : Ambarwati menunjukkan penelitiannya. (55)

Obat antibiotik sangat familiar dan banyak digunakan untuk mengobati penyakit akibat infeksi oleh bakteri. Namun saat ini banyak terjadi resistensi bakteri patogen terhadap berbagai macam antibiotik akibat pemakaian yang tidak benar.

KONDISI tersebut mendorong mahasiswa program doktoral Fakultas Biologi UGM Ambarwati untuk mengeksplorasi bakteri penghasil antibiotik, yakni Streptomyces. Bakteri jenis ini dipilih karena mampu menghasilkan antibiotik terbanyak.

Dengan metode sekuensing genom utuh (whole genome sequencing atau WGS), ia berhasil menemukan satu spesies bakteri Streptomyces baru penghasil antibiotik.

Sampel bakteri yang digunakan berasal dari dataran tinggi Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur.

Ia menuturkan, sekuen hasil WGS dari spesies baru tersebut kini dalam proses untuk didaftarkan ke National Center for Biotechnology Information (NCBI) dan diajukan namanya sebagai Streptomyces cemorosewuensis sp. Nov.

''Ada yang menarik dari spesies baru karena memiliki potensi penghasil senyawa bioaktif atau antibiotik yang berspektrum luas. Artinya, spesies ini tidak hanya mampu menghambat bakteri gram positif, tetapi juga bakteri gram negatif, bahkan anticandida (antijamur candida),'' papar Ambarwati yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dijelaskannya, temuan lain menunjukkan spesies bakteri baru ini memiliki 53 kelompok gen penghasil senyawa bioaktif.

Streptomyces baru menghasilkan delapan senyawa yang telah ditemukan sebelumnya pada Streptomyces lain dengan kemiripan 100 persen dengan enam senyawa yang telah diketahui strukturnya. Selain itu spesies baru juga berpotensi menghasilkan sembilan golongan senyawa baru.

Yang lebih menarik dari penelitian Ambarwati, spesies baru tersebut juga berpotensi menghasilkan senyawa malasidin yang memiliki kemampuan menghambat bakteri gram positif patogen yang telah resisten terhadap antibiotik.

Bahkan, juga bisa menyembuhkan infeksi kulit akibat Staphylococcus aureus yang resisten terhadap metilisin. Penelitian tentang bakteri juga dilakukan oleh Didik Wahyudi yang mengkaji Pseudomonas aeruginosa, bakteri patogen oportunistik penyebab utama infeksi nosokomial seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, serta infeksi pada berbagai organ tubuh.

''Bakteri ini memiliki sifat yang sangat unik, yakni mampu membentuk biofilm pada jaringan tubuh yang menyebabkan perubahan karakter seperti resisten terhadap berbagai antibiotik. Namun, penambahan tryptophan dalam media biakan bakteri mampu menghambat pembentukan biofilm bakteri. Sebaliknya, penambahan glukosa dan manosa justru meningkatkan pembentukan biofilm bakteri dan penambahan sumber nitrogen tidak berpengaruh terhadap pembentukan biofilm bakteri,'' jelas Didik. (Agung PW-19)


Berita Terkait
Komentar