• KANAL BERITA

Letusan Merapi Diperkirakan Berlanjut

Aktivitas Penerbangan Tetap Normal

SM/Dananjoyo, dok - KONDISI MERAPI : Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menunjukkan gambar kondisi Gunung Merapi sesaat pascaerupsi dari kamera pengawas yang di pasang di puncak Merapi di DI Yogyakarta, Kamis (13/2). Kolom erupsi gunung Merapi diambil oleh Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Jainu. (55)
SM/Dananjoyo, dok - KONDISI MERAPI : Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menunjukkan gambar kondisi Gunung Merapi sesaat pascaerupsi dari kamera pengawas yang di pasang di puncak Merapi di DI Yogyakarta, Kamis (13/2). Kolom erupsi gunung Merapi diambil oleh Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Jainu. (55)

SLEMAN -Gunung Merapi meletus pada Kamis (13/2) pukul 05.16 WIB. Kolom letusan terpantau setinggi dua kilometer. Letusan eksplosif ini terekam di seismogram berdurasi 150 detik dengan amplitudo 75 mm.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengingatkan, letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi adanya suplai magma.

”Ancaman bahayanya berupa lontaran material vulkanik, dan awan panas dengan jangkauan kurang dari tiga kilometer,” kata Hanik. Letusan eksplosif yang diiringi aktivitas kegempaan vulkanik ini adalah kejadian kali ke lima setelah periode September-November 2019. Pada pertengahan Desember 2019 sampai dengan pertengahan Januari 2020 kembali terjadi peningkatan kegempaan vulkanik dalam, diikuti peningkatan aktivitas di permukaan seperti gempa guguran, hembusan, multifase, dan vulkano tektonik dangkal.

Merujuk data observasi tersebut, dikatakan Hanik menunjukkan kelanjutan aktivitas intrusi magma menuju permukaan. Ini adalah fase ketujuh dari kronologi aktivitas erupsi Merapi sepanjang 2012-2019.

”Fase ketujuh ini berlangsung sejak 22 September 2019 sampai dengan sekarang berupa suplai magma baru dari dapur magma,” jelasnya. Indikasi fase ini antara lain penurunan kejadian guguran, peningkatan gempa VTA, empat kali letusan abu, dan sumber tekanan di kedalaman delapan kilometer yang dihasilkan dari pemodelan deformasi.

Adapun runutan kronologinya, fase pertama ditandai intrusi di dapur magma. Dilanjutkan fase berikutnya berupa intrusi di konduit dalam, intrusi di kantong magma, dan intrusi di konduit dangkal. Fase kelima adalah ektrusi dan pertumbuhan kubah lava, berlanjut ke pembentukan awan panas dan guguran lava. Kejadian letusan pada Kamis (13/2) mengakibatkan hujan abu di lereng Merapi radius 10 km terutama di sektor selatan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, hujan abu tipis terpantau di Dusun Kaliadem Lama, Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Turgo. Meski dilanda hujan abu, masyarakat di zona KRB 3 masih beraktivitas normal. ”Wisatawan juga masih berkunjung seperti biasa. Justru mendapat pengalaman baru,” katanya.

Beberapa jam setelah letusan, guyuran abu tipis menerpa sejumlah wilayah yang berdekatan dengan gunung paling aktif di muka bumi tersebut. Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Jainu mengatakan, warga sempat mendengar suara gemuruh. ”Tapi tidak begitu keras dan hanya samarsamar,” ungkap Jainu, Kamis (13/2).

Beraktivitas Biasa

Jainu menjelaskan setelah terdengar, beberapa warga sempat keluar rumah, termasuk dirinya dan melihat cuaca cerah. Namun setelah melihat erupsi hanya kecil warga berkegiatan normal kembali.

Ada yang ke pasar, sekolah, ladang dan bekerja lainya. Namun menurutnya beberapa jam setelah erupsi atau sekitar pukul 10.00, sempat ada tiupan abu tipis ke desanya. Karena tipis, tidak sempat membuat warga panik atau memakai masker. Erupsi itu hanya kecil dibandingkan yang sebelumnya sehingga warga sudah menanggapi biasa meskipun tetap waspada.

Untuk persediaan masker, di dusunya sudah cukup sebab masih ada satu bok masker yang isinya diperkirakan 1.000 masker. Siangnya sekitar pukul 12.00 hujan deras turun di kawasan puncak. Koordinator Paguyuban Sabuk Gunung (Pasag) Merapi Kecamatan Kemalang, Jenarto, mengatakan sejak pagi di Desa Sidorejo tidak terpantau ada abu.

Dari laporan warga juga tidak ada turun abu di dusun-dusun lain. Warga menanggapi biasa saja kejadian tersebut sebab sudah bukan kali pertama. Abu tidak mampir di desanya disebabkan arah angin tidak ke selatan. Informasi yang didapatnya abu turun di Srumbung, Magelang dan Kaliurang, Sleman. ”Jadi bisa saya katakan Desa Sidorejo aman dan warga tidak terdampak,” katanya.

Di wilayah Boyolali, meskipun letusan Gunung Merapi tak berdampak terhadap kegiatan warga di wilayah Kecamatan Selo, namun masyarakat diminta tetap waspada. Warga juga diingatkan untuk tidak beraktivitas di kawasan 3 km dari puncak Merapi. ”Kami juga senantiasa koordinasi dengan jajaran terkait,” ujar Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Bambang Sinungharjo. Pihaknya juga memastikan bahwa jalur evakuasi dalam kondisi layak.

Dimana jalur evakuasi di setiap desa sudah beraspal. Bahkan, pemerintah juga mulai membangun jalur evakuasi di Dukuh Bangunsari, Desa Jrakah. Untuk lokasi evakuasi, Pemkab Boyolali menerapkan sistem sister village. Dimana untuk Desa Klakah, Kecamatan Selo menuju Desa Gantang, Magelang dan Desa Tlogolele menuju Mertoyudan, Magelang. ”Untuk 17 desa lainnya, evakuasi ke arah Boyolali,” jelasnya.

Penerbangan Normal

Terkait peningkatan aktivitas Gunung Merepi, Kemeterian Perhubungan Udara cq Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan penerbangan dari dan ke Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah lainnya tetap beroperasi normal.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto R mengatakan, aktivitas penerbangan masih berjalan normal dan pihaknya akan terus melakukan pemantauan guna keselamatan dan keamanan penerbangan bekerja sama dengan seluruh stakeholder penerbangan termasuk dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofosika (BMKG).

”Kami telah memiliki sistem Pemantauan yaitu Integrated Webbased Aeronautical Information System Handling( I-Wish) adalah suatu media koordinasi dengan stakeholder terkait, dalam mendeteksi secara dini dampak erupsi terhadap operasional penerbangan guna mengantisipasi perkembangan pengaruh sebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi, sistem ini juga merupakan sarana koordinasi bersama dalam pengambilan keputusan terkait dengan operasional penerbangan, sebagai contoh adanya penutupan (tidak beroperasinya) suatu bandara karena sebaran abu vulkanik,” ujar Novie.

Terpisah, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya, Nafhan Syahroni mengatakan, bencana erupsi Gunung Merapi dan gempa bumi tidak berdampak terhadap penerbangan di Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Yogyakara dan Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA).

”Kami terus melakukan koordinasi intensif paska erupsi gunung merapi, selain itu juga memberikan himbauan kepada penyelenggara bandar udara untuk menyampaikan situasi terkini bandar udaranya masing-masing. Sejauh ini, penerbangan berjalan normal,” ucapnya. (J1,H34,G10,bn-64)


Berita Terkait
Komentar