• KANAL BERITA

TAJUK RENCANA

Antisipasi Efek Ekonomi akibat Virus Korona

Seiring kemajuan perekonomian Tiongkok, negeri itu tidak hanya menjadi salah satu produsen utama, tetapi juga konsumen berpengaruh dalam mata rantai ekonomi global. Buktinya terlihat dari efek yang ditimbulkan dalam perang dagang Tiongkok melawan Amerika Serikat. Perseteruan ekonomi tersebut mendistorsi pertumbuhan ekonomi dunia. Gangguan itu membuat banyak perusahaan dan negara yang pendapatannya berkurang, sehingga rencana-rencananya harus direvisi.

Kini ketika dunia diwarnai dengan agenda perundingan-perundingan untuk meredakan perang dagang, muncul serangan virus korona. Serangan berawal dari Tiongkok, sehingga negara itu menjadi pihak yang pertama terkena dampaknya. Efek yang ditimbulkan tentu akan merembet ke dinamika ekonomi. Padahal, Tiongkok telah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di bumi. Tak mengherankan bila ‘’batuk’’ yang terjadi di negeri tersebut bisa memunculkan ‘’demam’’ di kawasan-kawasan lain.

Tiongkok memengaruhi perekonomian negara lain lewat banyak aktivitas, misalnya saja sebagai importir barang dan kehadiran banyak warganya untuk menjadi turis. Pengurangan wisatawan dari Tiongkok telah dikeluhkan Thailand, sebagai negara yang sangat mengandalkan pariwisata sebagai penghasil devisa. Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia. Gambaran gangguan pada pertumbuhan ekonomi kita pun terbayang.

Hubungan dagang internasional meliputi aktivitas ekspor dan impor. Bila banyak impor bahan baku dari Tiongkok, maka pabrik-pabrik yang membutuhkan perlu secepatnya untuk mencari alternatif dari negara lain. Mungkin saja akan ada peningkatan biaya, bisa dari harga yang makin mahal atau biaya transportasi yang lebih tinggi. Bisa pula keduanya, yang tentu memberi pengaruh berarti dalam perhitungan harga pokok penjualan. Namun, produksi tentu harus terus dijaga untuk mempertahankan eksistensi bisnis.

Pada periode Januari-Juni 2019, ekspor kita ke Tiongkok tercatat 11,40 miliar dolar. Secara relatif, porsinya adalah 15,36 persen dari seluruh ekspor negeri ini. Urutan kedua adalah Amerika Serikat dengan pangsa 11,23 persen, disusul Jepang 9,02 persen. Meskipun ekspor ke Tiongkok terbesar, tetapi secara proporsional sebenarnya negara tujuan ekspor kita relatif beragam. Hal itu terlihat dari besarnya ekspor ke AS dan Jepang. Selain itu, lebih dari 60 persennya tersebar di luar tiga negara tersebut.

Serangan virus korona menyadarkan pentingnya menjaga diversifikasi tujuan ekspor dan keragaman sumbersumber pendapatan devisa dan penerimaan negara. Selain itu juga kecepatan dalam penyediaan produk-produk yang tiba-tiba dibutuhkan masyarakat seiring kekhawatiran akan gangguan kesehatan. Misalnya saja kenaikan harga masker, karena persediaan cepat menipis akibat permintaan yang tinggi. Persoalan virus berbahaya memang akhirnya merembet ke banyak aspek, dari ekonomi sampai sosial.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar