• KANAL BERITA

TAJUK RENCANA

Kontradiksi Program Denuklirisasi Global

Para pemimpin dunia sudah lama mencemaskan perlombaan senjata nuklir. Mereka menyadari, energi nuklir akan membawa neraka ke bumi apabila energi itu digunakan untuk persenjataan. Kekuatan dan daya ledak senjata nuklir jauh lebih dahsyat dibandingkan senjata atom. Kesadaran itu memunculkan kesepakatan dan tekad bersama untuk mengurangi senjata nuklir. Sayang sekali, program itu menemui kontradiksi.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang bermarkas di Gedung Pentagon, mengajukan rencana anggaran sebesar 705,4 miliar untuk meningkatkan pendanaan sistem senjata nuklir, termasuk rudal balistik antarbenua, kapal selam, jet F-35 serta penelitian di bidang teknologi persenjataan. Sebagai salah satu negara pemilik senjata nuklir terbanyak, sungguh kontradiktif ketika AS ingin menambah senjata nuklir.

Tercatat, hulu ledak nuklir yang dimiliki Amerika Serikat berjumlah tidak kurang dari 6.000 buah. Di sisi lain, Washington sangat keras berteriak kepada negara-negara lain, salah satunya adalah Korea Utara, agar mengurangi atau menghapus senjata nuklir. Dibandingkan dengan negara-negara lain, proporsi kepemilikan senjata nuklir Amerika Serikat nyaris 600 kali lipat. Kontradiksi itu sangat jelas terlihat.

Inkonsistensi Amerika Serikat bukan sebuah premis yang baik untuk menyukseskan program denuklirisasi. Presiden Donald Trump sebelumnya telah berulang kali menggembar-gemborkan peningkatan dana militer sebagai salah satu keberhasilan kunci menuju pemilihan 2020. Dalam pidato kenegaraan State of the Union, dia menyatakan telah meningkatkan pengeluaran militer sebesar USD2,2 triliun sejak menjabat.

Hasrat persenjataan Amerika Serikat juga sejalan dengan data anggaran militer global. Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute, anggaran militer dunia saat ini berada pada jumlah tertinggi dalam sejarah. Pentagon, sebagaimana disebutkan, mencatat rekor baru peningkatan anggaran militer. Implikasi dari hal itu sangat nyata. Upaya perdamaian menjumpai jalan sangat terjal.

Kesiapan perang pada skala global sudah jauh melampaui keinginan untuk perdamaian permanen. Program denuklirisasi hanya menjadi dokumen-dokumen dan catatan diplomatik, sementara itu fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, negaranegara yang tidak memiliki atau tidak berhasrat memiliki senjata nuklir bisa menggalang blok denuklirisasi, agar perdaiaman tidak terancam.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar