Sentuhan Emas Michael Edwards

SUKSES Liverpool saat ini tak lepas dari kerja tim. Manajer Juergen Klopp bersama stafnya telah bekerja keras sejak Oktober 2015 untuk menjadikan The Reds dari tim biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Dalam hal perekrutan pemain, Si Merah juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Dulu Liverpool banyak membeli pemain mahal, tapi gagal di lapangan. Pada era Klopp, kelemahan itu mulai diperbaiki. Pria asal Jerman ini benarbenar bekerja brilian untuk menjadikan skuadnya sehebat sekarang. Salah satu terobosan Klopp adalah menghidupkan jabatan direktur olahraga. Tepat pada November 2016, manajemen menunjuk Michael Edwards sebagai direktur olahraga. Edwards kali pertama tiba di Liverpool pada November 2011 dari Tottenham Hotspur. Lulusan manajemen bisnis dan teknik informatika dari University of Sheffield itu kini bertanggung jawab dalam hal negosiasi transfer. Dalam menjalankan perannya, Edwards dibantu dua pemandu bakat, Barry Hunter dan Dave Fallows. Edwards (40) dikenal low profile dan memilih untuk tak banyak keluar di media. Namun, kepiawaiannya bisa dilihat dari susunan skuad inti Liverpool saat ini. Tim diisi pemain-pemain yang didatangkan Edwards dengan harga relatif murah. Berdasarkan data dari Give Me Sport, total pengeluaran Si Merah sejak Edwards jadi direktur olahraga hanya sebesar Rp 7,4 triliun.

Sejumlah pemain bintang berhasil didaratkan ke Anfield seperti Sadio Mane, Alisson Becker, Mohamed Salah, Virgil van Dijk hingga Fabinho. Bahkan pemain teranyar, Takumi Minamino, juga didatangkan dengan harga murah. Minamino mengikuti jejak bek kiri Andrew Robertson. Di sisi lain, Edwards sanggup menjual Philippe Coutinho dengan harga selangit. Dari hasil pelepasan Coutinho, didatangkanlah Van Dijk dan Alisson. Total penjualan pemain yang dilakukannya mencapai Rp 5,9 triliun. Proses jual beli pemain yang berpengaruh besar kepada tim dilakukan secara cerdas oleh Edwards. Sentuhan emasnya sungguh memuaskan Klopp. Sang manajer menyebutnya sebagai ‘’jagoan transfer yang keren’’. Media Spanyol, Mundo Deportivo, melabeli Edwards sebagai Monchi-nya Liverpool. Monchi adalah Direktur Olahraga Sevilla yang fenomenal. Monchi (51), yang sekarang balik ke Sevilla selepas meninggalkan AS Roma, pernah melambungkan Diego Capel, Alberto Moreno, Jesus Navas, Antonio Puerta, Sergio Ramos, Jose Antonio Reyes, Adriano, Dani Alves, Julio Baptista, Federico Fazio, Seydou Keita, dan Ivan Rakitic.

* * *

MENYEBUT direktur olahraga hebat tak lengkap tanpa mengupas Luis Campos. Pria Portugal berusia 55 ini sudah terlibat di level tertinggi sepak bola Eropa sejak 2001. Dia memiliki variasi keahlian dalam resumenya. Campos mengawali karier sebagai pelatih Leiria (1992-1993), Esposende (1995-1996), Aves (1996-1998), Esposende (1998-1999), Leca (1999), Penafiel (1999-2001), Gil Vicente (2001- 2002), Setubal (2002-2003), Varzim (2003), Gil Vicente (2003-2004), dan Beira Mar (2004-2005). Dia ditarik Jose Mourinho sebagai pencari bakat untuk Real Madrid pada 2012-2013. Cuma satu musim di Madrid, Campos pindah ke Monaco. Bersama Les Monegasques, dia benar-benar memperlihatkan kemampuannya. Ditunjuk sebagai direktur teknik setelah satu musim mengisi pos koordinator,dia merupakan sosok di balik keberhasilan Kylian Mbappe, Bernardo Silva, Fabinho, dan Thomas Lemar. Campos ingat ketika membawa Mbappe untuk berlatih dengan tim senior Monaco. Pelatih Monaco (saat itu) Leonardo Jardim menghampirinya dan berkata, ‘’Anak ini tak perlu ada di tim muda lagi, dia akan berlatih bersama kita di sini’’. Jardim benar.

Campos sudah melihat talenta Mbappe sejak di akademi. Dia tahu bakat Kylian sangat istimewa. Prediksinya memang tepat. Pada usia baru 21 tahun, Mbappe kini menjadi pemain paling bernilai melebihi Lionel Messi. Tiga tahun bersama Monaco, sejak 2017 Campos dipercaya sebagai Direktur Olahraga Lille. Berbeda dari masa-masanya ketika di Monaco, direktur olahraga merupakan perantara manajer atau pelatih kepala dengan pemain dan pemilik klub. Dia membantu nakhoda tim untuk mencari pemain, melaporkannya pada pemilik, dan menjaga komunikasi dengan incaran mereka. Sementara direktur teknik mempunyai kewajiban untuk memantau semua sudut klub, dari tim senior hingga akademi termuda mereka. Dia memastikan pemain-pemain itu menerapkan dan belajar filosofi yang diinginkan oleh klub. Campos menjadi sosok di balik kesuksesan Les Dogues mendapatkan Nicolas Pepe dari Angers dengan harga cuma 10 juta euro. Kini, Pepe tercatat sebagai pemain termahal Arsenal selepas meninggalkan Lille pada musim panas 2019 dengan banderol 72 juta pound. Sepak terjang Campos pun sudah membahana di Liga Primer Inggris. Saat Mourinho menggantikan Mauricio Pochettino di Tottenham, dia diminta ke London untuk membantu The Special One. Namun, manajemen Lille menolaknya. Tawaran kemudian datang dari Manchester United, Campos kali ini menampiknya. (17)