Anak Sukar Membaca Awas Gejala Disleksia

Oleh : Sofie Dwi Rifayani

Wahai para orang tua, janganlah buru-buru marah jika anak Anda kesulitan membaca. Sebaliknya, Anda justru perlu menelusuri alasan di balik kesulitan membaca si kecil. Jika terlihat beberapa gejala, bisa-bisa ia mengalami disleksia.

Secara harfiah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yaitu "dys" yang berarti "sulit" dan "lexia" yang artinya "bahasa". Dalam hal ini bisa dikatakan disleksia sebagai kondisi kesulitan berbahasa. Demikian dipaparkan dr Vira Ari Nindia Dewi SpA.Dokter spesialis anak yang praktik setiap hari di SMC RS Telogorejo Semarang tersebut menerangkan lebih jauh istilah disleksia bisa merujuk pada gangguan belajar membaca pada proses fonologi. "Hal tersebut menyebabkan anak menghindari kegiatan membaca atau menulis. Bagi mereka yang mengalami disleksia, kegiatan membaca itu lama, melelahkan, dan bikin frustasi," jelas Vira. Disleksia biasa terjadi karena faktor genetik. Berdasarkan penelitian, orang tua yang mengidap disleksia akan menurunkan kondisi tersebut ke anak-anaknya.

Persentasenya hingga 50%. Pada kasus anakanak yang mengalami disleksia, sebesar 50% kemungkinannya saudara kandungnya juga menyandang disleksia. "Disleksia juga bisa terjadi jika selama hamil sang ibu terkena paparan nikotin, obat, alkohol atau infeksi yang menyebabkan perubahan perkembangan otak terganggu pada saat janin. Kecuali itu, riwayat prematur atau berat lahir rendah juga dapat memicu terjadinya disleksia," Vira mengungkap. Alih-alih memarahi anak saat kesulitan membaca, orang tua seharusnya lebih peka terhadap tumbuh kembang anak. Tak terkecuali dalam mendeteksi gejala disleksia. Apa saja itu? Vira mengatakan, tanda-tanda disleksia bisa mulai terdeteksi sejak balita. Di masa itu, balita yang mengalami disleksia biasanya terlambat bicara, lambat saat belajar kata baru, kosa kata lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak seusianya, juga sulit merangkai cerita. "Mereka cenderung sulit untuk menirukan kata yang hampir mirip. Misal ngomong taksi menjadi tasik. Lalu sering pula salah dalam merangkai kata atau istilah, suara atau kalimat. Contohnya bilang 'Buku itu tinggi', padahal seharusnya kan 'Buku itu tebal'," tutur Vira.

Pada anak usia sekolah, disleksia terlihat dari gejala kesulitan mengeja, sulit dalam memproses atau memahami apa yang dia dengar, serta biasanya anak menghindari kegiatan membaca. Beranjak remaja dan dewasa, indikasi disleksia tampak saat ia sulit belajar bahasa asing, sulit meringkas cerita, memakan cukup lama dalam membaca dan menulis, juga sulit mememorikan kata ke dalam otak. Dari gejala-gejala tersebut, secara umum anak dengan disleksia biasanya sulit untuk mengikuti perintah, beraktivitas berlebihan, sering terdistraksi, bahkan sering menghindar pergaulan teman sebayanya. Lalu, bahayakah gangguan kesehatan ini? Menurut dr Vira, disleksia jika tidak terdeteksi dini bisa-bisa dapat membahayakan diri sendiri. "Artinya, anak disleksia itu kan kesulitan membaca dan menulis. Akibat kesulitan itu tentu mereka akan merasa minder. Karena minder mereka lalu menarik diri dari lingkungan sekitar dan memilih menyendiri. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan timbul depresi, kemudian melalukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya bunuh diri," Vira menjelaskan.

Seumur Hidup

Mengingat dampak disleksia bisa memakan korban, Vira mengingatkan para orang tua untuk waspada terhadap perkembangan anak. Terlebih lagi, konon disleksia tidak bisa sembuh, namun hanya bisa diminimalisir. Benarkah demikian? "Disleksia itu disandang seumur hidup. Dengan adanya deteksi dini disleksia, kita dapat mengintervensi dini dan dapat mencari strategi belajar yang tepat untuk si anak," ucap Vira. Selain terlihat dari tahap tumbuh kembang anak, disleksia bisa dideteksi melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jika dilakukan fungsional MRI (fMRI),maka antara pasien dengan disleksia dengan pasien normal akan tampak penurunan aktivasitemporoparietalkortikal kiri selama diberikan latihan fonologi dan penurunan aktivasi occipito parieta lexstratriate selama latihan ortografi.

"Contoh ortografi adalah B, U, K, U. Fonologi misalnya Be U- bu- U-ka- U, sedangkan contoh leksikon atau kata ialah 'buku'," papar Vira. Pada anak yang terdeteksi disleksia, penanganan komprehensif tidak hanya dilakukan untuk anak itu sendiri, namun harus dari lingkungan keluarga, tetangga, dan guru. Yang utama, orang tua harus sabar dan meluangkan banyak waktu setiap hari untuk membimbing si anak. Dari sisi guru, dibutuhkan bimbingan yang berulang- ulang, materi pembelajaran diberikan sedikit demi sedikit, dan untuk buku bacaan juga diperbesar huruf dan angka angkanya. Jika orang tua sanggup, alangkah baiknya si anak belajar dengan bimbingan langsung oleh guru, dengan murid tidak terlalu banyak dalam satu kelas. Ini memudahkan anak yang disleksia untuk mendapat penanganan khusus agar disleksianya tidak makin menjadi. "Peran orang tua sangat penting dalam menemukan masalah disleksia ini, harapan kami sebagai spesialis anak, orang tua bisa lebih concern lagi terhadap tumbuh kembang anak, terutama masalah disleksia ini," Vira mengakhiri.(49)


Berita Terkait
Komentar