ULAMA PANUTAN

Kiai Miftah Talang, Komandan Laskar Santri

TAK lama setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus1945, tepatnya 20 Oktober 1945, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan sebuah rapat di Surabaya. Dalam rapat itu dirilis statemen PBNU, atau lebih dikenal dengan ”Resolusi Jihad”.

Dua dari empat isi resolusi tersebut menyatakan: (1) Kemerdekaan RI yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan; (2) Pemerintah RI adalah pemerintah yang sah dan wajib dibela sekalipun dengan pengorbanan jiwa dan harta. Dengan lahirnya Resolusi Jihad, spirit mempertahankan kemerdekaan segera berkobar di seluruh penjuru Tanah Air.

Dan, kalangan pesantren pun turut serta mengirim para santrinya pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Menjelang pertempuran itu, Pesantren Lirboyo mengirim pasukan (Laskar Santri) yang terbagi dalam dua gelombang, selanjutnya, mereka bergabung dengan kekuatan tentara rakyat.

Mengutip HM Hamam Miftah (dalam Fatah, 2012: 57), gelombang pertama di bawah pimpinan KH Machrus Ali; adapun gelombang kedua di bawah komando Kiai Miftah.

Lantas, siapakah sosok Kiai Miftah? Kiai Miftah (1920-1994), ulama asal Kajen Talang (Kabupaten Tegal), adalah putra pasangan KH Mahmud Ashro-Nyai Naimah Halimah. Bungsu dari delapan bersaudara ini ditinggal ayahnya saat berusia tiga tahun; dan, ibunya menyusul tiga tahun kemudian.

Artinya, saat berumur 6 tahun Miftah kecil sudah berstatus yatim-piatu. Memasuki usia 8 tahun, remaja Miftah membantu pekerjaan dan sekaligus mengaji kepada sang kakak, KH Mawardi, di sebuah pesantren di Pekalongan.

Di pesantren kakaknya ia mengaji Alquran dan nahwu-sharaf (gramatika Bahasa Arab). Kitab yang dipelajari Miftah muda meliputi Jurumiyah, Imriti, dan Alfiah. Saat berusia 11 tahun, santri Miftah sudah hafal kitab Alfiah Ibnu Malik di luar kepala.

Selepas nyantri di Pekalongan, sosok kelahiran 1920 ini meneruskan belajar di Pesantren Kempek (Cirebon), Watucongol (Magelang), dan Lirboyo (Kediri). Almarhum Kiai Miftah nyantri di Lirboyo tidak kurang dari 21 tahun.

Sehingga tak mengherankan jika ia dipercaya oleh KH Manaf Abdul Karim (Pengasuh Lirboyo) untuk membantu beliau mengajar para santri. Adalah para tokoh masyarakat Kajen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Mereka menghendaki Kiai Miftah untuk pulang kampung halaman dan membina masyarakat setempat. Tersebutlah H Zuhdi, seorang tokoh masyarakat Kajen yang berinisiatif untuk menjodohkan putrinya Malikha dengan pemuda Miftah.

Singkat kisah, pernikahan pasangan Miftah-Malikha berlangsung di Masjid Kajen; namun, pernikahan mereka hanya berumur tujuh hari. Pasalnya, pengantin putri (Malikha ) berpulang ke haribaan Allah untuk selama-lamanya.

Suasana duka sempat mewarnai kehidupan Miftah. Setahun lebih lamanya ia menjalani kehidupan sebagai duda. Kiai Miftah kembali menikah dengan Umi Kulsum, atas dorongan kakaknya Nyai Halimah. Pernikahan tersebut dihadiri oleh KH Machrus Ali, sahabat Kiai Miftah semasa di Lirboyo.

Setelah menikah dengan Umi Kulsum tahun 1950, KH Miftah mulai mengajar kitab Tafsir Jalalain di Kajen Tegal. Atas saran H Zuhdi, pengajian itu diboyong ke Masjid Al Raudhoh dan dilaksanakan setiap bakda subuh.

Adapun bakda zuhur, asar, dan bakda isya adalah kajian kitab kecil seperti Safinah, Sullam Taufik, dan Tafsir Yasin hingga kitab besar seperti Fathul Wahab, Ihya Ulumudin, Muhadzab, Bughyatul Mustarsyidin, I’anah, dan lain-lain.

Santri yang mengaji kepada Kiai Miftah bukan saja dari Tegal namun juga dari Nganjuk, Tulungagung, Kediri dan beberapa kabupaten lain di Jawa Timur. Selain itu mengajar para santri, beliau mendirikan Yayasan Taman Penawaja yang mengelola pendidikan formal mulai SD hingga SMU.

Beliau juga turut mendirikan Institut Bakti Negara (IBN), sekarang berubah nama STAIBN (Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara) Tegal. Almarhum Kiai Miftah berpulang ke hadirat Allah pada tanggal 7 November 1994, meninggalkan seorang istri dan 11 orang anak. (Akhmad Saefudin SS ME, penulis buku17 Ulama Banyumas.)


Berita Terkait
Komentar