Menggairahkan Studi Keislaman

HARUS diakui, Islam sering didakwahkan dan dibincangkan oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai ustadz di sejumlah medsos, belakangan ini. Dengan pendekatan yang sangat tektualis, normatif dan filologis gramatikal; justru mengubah wajah Islam yang lembut dan penuh cinta serta mereduksi totalitas Islam yang genuin.

Model dakwah yang dipakai pun lebih mengesankan narasi pertentangan antarkelompok daripada persaudaraan kemanusiaan.

Islam di dunia maya, lebih banyak memperbincangkan aspek formalitas fiqih yang kaku dan terseret pada aroma politik praktis, dukung-mendukung, dan kental saling menyalahkan.

Makna Islam yang kaffah pun, seolah- olah dikerangkeng pada pusaran-pusaran keilmuan yang dikotomik. Melupakan dimensidimensi lain yang sangat luas.

Padahal sejatinya, Islam di samping berisi aturan yang ketat (syari’ah), Islam juga menjadi pijakan spritualitas para salik dalam bercengkerama secara intens dengan Sang Pencipta, melalaui jalannya masing-masing.

Selain juga mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, psikologi dan kesehatan. Andai materi yang disampaikan para ustadz itu tidak melulu, untuk tidak mengatakan overdosis pada wilayah khilafiyah fiqih.

Namun menggunakan penafsiran teologis, filosofis dan sufistis serta menyentuh perspektif keilmuan dan pendekatan penelitian yang lebih luas. Semisal menggunakan kacamata psikologi dan kesehatan tentu akan memberikan edukasi dan sangat bermanfaat serta menggairahkan kembali bagi masyarakat.

Karena sudah maklum, semua umat Islam menyakini bahwa Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada Tuhan selain allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari).

Agama Kemanusiaan

Lantas pertanyaannya, apakah hanya berhenti pada keyakinan itu dan terkesan hanya berhenti pada tataran ritual belaka? Padahal jika dikaji melalui keilmuan psikologi dan kesehatan secara mendalam, misalnya.

Islam ternyata mampu memberi kontribusi positif bagi dunia kesehatan dan menjadi bukti bahwa Islam hakikatnya adalah agama kemanusian dan peradaban.

Semisal perintah shalat yang dimulai dengan kumandang azan, seharusnya dapat dinikmati kaum muslim penuh cinta dan meninggalkan egoisme kelompok, meninggalkan baju-baju kebesaran, kesombongan, dan melepaskan sikap kebencian kepada sesama.

Karena azan sejatinya menarik seorang hamba pasrah total menghadap pada San Khaliq. Sehingga dalam hatinya penuh kegembiraan, tidak ada permusuhan, melawan segala bentuk kenaifan menuju kesuksesan (hayya ala al-falah).

Jawaban azan juga bisa menjadi sarana berzikir dan jika mengulangi kalimat-kalimat seperti Allahu Allahu Akbar, efeknya secara langsung otak terlibat menjadi aktif. Sehingga ditinjau dari ilmu kesehatan menyebabkan satu aliran biolistik di wilayah saraf otak.

Seandainya seseorang mempunyai penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat atau sering disebut demensia. Maka, menjawab azan dapat sebagai obat untuk mengurangi atau mencegah demensia.

Mengucapkan kalimat seperti asyhadu an la ilaha illallah, serta melakukan dzikir dengan cara mengeraskan (bi al-jahr) menurut Muhammad Asin Mahmod Khan mendasarkan riset dari Norma F Capra dari Departement of Oral and Craniofacial Biological Science, University of Maryland, USA—adalah sangat positif dan baik bagi kesehatan.

Pasalnya pada dinding langit-langit mulut terdapat sekian banyak ujung syaraf sendiri berupa ”mekanoreseptor”. Ketika kalimatkalimat syakral tersebut diucapkan, maka ada stimulasi mekanoreseptor oleh ketukan ujung lidah secara lembut pada magic spot 10-12 kali per 3 detiknya secara ritmik.

Setelah mengucapkan kalimah-kalimah thayyibahitu, seseorang yang akan shalat harus berwudhu dulu, ternyata melalui penyelidikan para ahli; perintah berwudhu, baik secara psikis (spiritual) maupun secara fisik (medis), sangat bermanfaat bagi kesehatan. Ketika berwudu sambil memijat perlahan-lahan semua anggota yang harus dibasahi air, berbagai jenis penyakit akan mudah disembuhkan.

Perintah membasuh wajah, dalam wudhu menurut Mohhtar Salem dalam bukunya ”Prayer a Sport for the Body and Soul”; dapat mencegah kanker kulit. Membasuh wajah berarti meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Sementara membasuh wajah disertai pijetan lembut akan memberi efek positif pada usus, ginjal, dan sistem syaraf maupun reproduksi.

Begitu pula, perintah puasa bagi seorang muslim dapat digunakan untuk memaksimalkan fungsi software-nya, menjinakkan ego besar dan keangkuhan nafsu, serta mengenal kembali Sang Pencipta. Puasa bagi kesehatan mempunyai banyak manfaat, di antaranya mampu mengurangi penderita magh atau sering disebut Gastritis.

Menurut Price dan Wilson (2005), gratitis adalah suatu keadaaan peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronis, difus, dam lokal. Saat berpuasa usus dan lambung yang biasa bergerak aktif perlahan menurunkan kualitas geraknya, karena perut kosong.

Semakin sedikit pergerakan usus dan lambung, maka lambung juga akan terhindar dari gesekan yang menyebabkan luka. Pendek kata, Islam ternyata di samping memerintahkan seorang mukmin untuk menjalankan ibadah sekaligus men-suport tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan.

Terutama melalui perintah Iqra’, setidaknya Islam memberikan informasi yang sangat complicated, termasuk informasi Iptek dalam ajaran Islam yang memungkinkan bisa digali dan dikembangkan. Di antaranya berhubungan dengan filsafat, biologi, psikologi dan kesehatan. (Prof Dr H Syamsul Ma’arif MAg, Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang)


Berita Terkait
Komentar