• KANAL BERITA

Ormas Islam pada Era Masyarakat 5.0

Oleh Singgih Tri Sulistiyono

"Ormas Islam jangan selalu menjadi pengekor perubahan yang diciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mekanis dan kapitalistik."

DI tengah optimisme dan kelatahan terkait kemajuan teknologi informasi, muncul kekhawatiran sebagian masyarakat khususnya orang tua. Kemajuan teknologi informasi yang berbasis internet dinilai memiliki efek negatif.

Perkembangan ini mengakibatkan disrupsi, yaitu semacam penjungkirbalikan tatanan yang sudah mapan. Bukan hanya menyangkut bidang ekonomi, tetapi yang lebih dahsyat adalah penjungkirbalikan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.

Tenggelamnya generasi muda dalam dunia maya, dikhawatirkan melahirkan kepribadian soliter yang asyik dengan dunianya sendiri. Akibatnya kompetensi sosial generasi muda menjadi rendah, miskin etika, dan sebagainya. Sebaliknya, para orang tua mengalami gagap teknologi dan sibuk dengan urusannya sendiri.

Kemajuan teknologi informasi juga menimbulkan disrupsi, terkait bagaimana orang memandang tentang kebenaran. Kemajuan ini telah memungkinkan kekuatan pemodal untuk memaksakan “kebenaran” melalui media massa dan media sosial yang telah dikuasainya.

Dalam konteks inilah maka era pascakebenaran mendapatkan momentum yang tepat. Era ini, kebenaran dibangun bukan atas fakta, objektivitas dan kerasionalan, tetapi lebih didasarkan atas opini yang dibangun lewat media massa dan media sosial, berupa pencitraan yang bersifat emosional.

Perubahan yang sangat mendasar dan maraknya penjungkirbalikan nilai-nilai pada era disrupsi inilah, yang mestinya harus mendorong ormas Islam untuk memosisikan dirinya secara tepat di tengah situasi yang sedang berubah. Ormas Islam harus mulai menggagas untuk mengonstruksi masyarakat ideal yang melampauan masyarakat pada era disrupsi.

Ormas Islam jangan selalu menjadi pengekor perubahan yang diciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mekanis dan kapitalistik. Tetapi seharusnya menjadi pembuat tren bagi perubahan ke arah masyarakat sipil yang berperadaban dengan mengunggulkan nilai-nilai kemanusiaannya.

Banyak negara maju mencanangkan visi mereka pada masa depan dengan Revolusi Industri 4.0, yang merupakan pengonsepan negara-negara Eropa Barat. Amerika Utara mencanangkan konsep Industrial Internet, Tiongkok mencanangkan visi Made in China 2025, sedangkan Jepang mencanangkan visi Society 5.0 (Masyarakat 5.0).

Dari semua visi tersebut tampaknya konsep Masyarakat 5.0, lebih komprehensif terkait dengan bagaimana masyarakat manusia yang berperadaban tinggi pada masa depan seharusnya dibangun. Barangkali konsep itu sangat perlu untuk kita kaji dalam rangka untuk penerapannya di Indonesia. Masyarakat 5.0 ini pertama kali digagas oleh pemerintah Jepang awal 2019. Yaitu gambaran ideal teknologi digital diaplikasikan dan berpusat pada manusia.

Segala Aspek Melalui kemajuan yang telah dicapai oleh teknologi informasi, kesejahteraan Masyarakat 5.0 tidak lagi ditentukan modal. Akan tetapi oleh data dari dunia maya yang mampu menghubungkan dan menggerakkan segala aspek kehidupan masyarakat. Berbeda dengan era Industri 4.0 di mana masyarakat mengalami disrupsi karena tak mampu mengendalikan ciptaannya sendiri.

Pada era Masyarakat 5.0, manusia idealnya tidak lagi dikuasai teknologi, tetapi sebaliknya manusia menguasai teknologi dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan manusia. Manusia harus hidup sebagai manusia, bukan sebagai mesin. Selama era pasar bebas sekarang ini konstelasi masyarakat dunia secara garis besar didominasi oleh tiga kekuatan utama, yaitu negara, ekonomi dan keuangan, serta masyarakat sipil.

Kemajuan teknologi informasi membuat pergeseran dalam konstelasi masyarakat terutama terkait kekuatan ekonomi kapitalisme. Dalam hal ini kapitalisme sedang mengalami metamorfosis. Menurut studi yang dilakukan oleh Shoshana Zuboff (2019) dan Daniel Markovits (2019), bisa diketahui tentang munculnya apa yang disebut sebagai Surveillance Capitalism (Kapitalisme Mata-mata).

Di mana kemajuan teknologi informasi dan internet telah memungkinkan penguasa teknologi mampu mendeteksi dan mengolah pengalaman manusia sebagaimana yang terekam dalam bigdata, sebagai bahan mentah yang secara bebas bisa diubah menjadi data perilaku.

Mereka dapat mengolah dan memetakan pasar secara tepat sehingga produk barang dan jasa oleh kaum kapitalis bisa terserap baik. Namun demikian pada saat ini kapitalisme barang dan jasa belum sepenuhnya menyatu dengan kekuatan surveillance capitalism.

Kapitalisme mata-mata ini mengetahui segala sesuatu tentang kita, tetapi kita tidak tahu kalau diketahui oleh mereka. Mereka banyak tahu hampir semua sisi kehidupan kita. Kemampuan mata-matanya, bahkan melebihi kekuatan negara, dan ditangani orang dengan keahlian super.

Mereka mampu memprediksi masa depan kita, tetapi bukan untuk kepentingan kita, melainkan untuk keuntungan mereka. Dalam konteks inilah, semua rahasia masyarakat kita berada di tangan kapitalis surveillance sehingga memungkinkan mereka untuk mendesain kita sebagaimana yang mereka inginkan.

Di sinilah ormas Islam mendapat tantangan berat yang luar biasa untuk mendesain masyarakat sesuai dengan visi yang diembannya. Jika tidak disadari, maka ormas Islam pun akan didesain oleh kapitalisme mata-mata ini. Kita akan menjadi objek permainan, apalagi jika ormas-ormas Islam masih berkutat dengan masalah-masalah furuhiyah (perbedaan) yang remeh-temeh.

Posisi Ormas Islam

Indonesia saat ini merupakan sebuah negara yang secara evolusiner semakin dikendalikan kekuatan pasar atau tepatnya oleh kekuatan neoliberalisme. Kekuatan pasar di samping dapat dilihat dengan mata telanjang, adanya berbagai institusi bisnis kelas kakap di hadapan kita, juga dapat dilihat dari proses-proses politik pemerintahan.

Kekuatan uang menjadi penentu dalam negosiasi politik dan pemenangan kekuasaan. Dalam konfigurasi sosial seperti itu, maka nilai-nilai moralitas yang terbangun dalam masyarakat adalah nilai-nilai yang akhirnya menghegemoni cara berpikir masyarakat yaitu nilai-nilai yang bersifat materialistik.

Harta kekayaan dan kebendaan yang tersimbolkan dalam wujud uang menjadi dituhankan. Tidak mengherankan jika korupsi dan segala macam penyalahgunaan kekuasaan merebak dalam masyarakat kita. Umat Islam, bahkan tokoh ormas Islam tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi bulan-bulanan bagi bagi kapitalisme mata-mata untuk menghasilkan keuntungan finansial mereka.

Dalam konstelasi masyarakat seperti itu, bagaimanakah seharusnya ormas Islam memosisikan dan memerankan dirinya untuk mengantisipasi gejolak disrupsi dari era Revolusi Industri 4.0 menuju Masyarakat 5.0 yang ideal? Pertama yang harus dilakukan adalah melakukan penyadaran diri sehingga mengetahui dan bisa memposisikan dengan tepat dalam konstelasi masyarakat kita yang sedang berubah.

Ormas Islam merupakan bagian dari kekuatan sipil yang memperjuangkan nilai-nilai Islam agar menjadi dasar moralitas masyarakat. Dalam konteks ini, tampaknya perjuangan ormas Islam sangat dilematis karena berhadaphadapan dengan hegemoni nilainilai materialisik yang semakin lama kian dominan.

Pada satu sisi, jika ormas Islam mengambil posisi biner dengan kekuatan pasar, maka ormas Islam akan terjebak dalam kekolotan Islam. Sisi lainnya, jika hanyut dalam pusaran badai pasar bebas, ormas Islam pun akan tenggelam dalam nilai-nilai materialistik. Jika salah memosisikan diri, ormas Islam akan berubah menjadi agen kekuatan pasar bebas atau neoliberalisme.

Jika itu terjadi maka akan menambah agenda elemen civil society yang terkooptasi oleh kekuatan neoliberalisme. Atau bahkan akan terjadi komersialisasi agama Islam. Kedua, dalam perubahan zaman yang cenderung memperkuat dominasi kekuasan pasar bebas yang materialistik, posisi ideal bagi ormas Islam seyogianya meniru semangat Islam zaman Nabi Muhammad.

Yaitu sebagai gerakan pembebasan yang memberikan pencerahan spiritual melalui dakwah yang mampu membebaskan masyarakat dari permasalahan, sebagai dampak globalisasi dan ekspansi neoliberalisme. Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Islam saat ini antara lain adalah kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dekadensi moral, dan lain-lain.

Ketiga, dalam konteks perkembangan kapitalisme matamata ini, ormas Islam harus mampu mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian super. Ormas Islam harus menjadi pelopor pengembangan pendidikan yang mampu mencetak insan religius sekaligus berjiwa kreatif, inovatif dan inventif. (54)

Profesor Singgih Tri Sulistiyono, Ketua DPW LDII Jawa Tengah 2014-2019, Guru Besar Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro Semarang.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar