Berawal dari Deretan Warung Kopi

Tempat Lahir Kuliner Semarangan

JALAN Depok Semarang pernah dikenal sebagai pusat kuliner pada sore hingga malam. Itu terjadi dalam kurun waktu 1960-1980-an.

Pada masa itu, Tahu Pong asli Perempatan Depok, Nasi Goreng Babad Pak Sabar, Gudeg Bu Ani, Warung Makan Prembaen, Sate Ponorogo Pak Mo, Bakso Baterman, menjadi klangenan warga kota, bahkan luar kota.

Kini keramaian itu akan dihidupkan kembali dalam Festival Kuliner Depok, dan akan diresmikan Pemkot, Jumat (24/1) malam.

Dalam ingatan pemerhati perkembangan Kota Semarang, Jonkie Tio, pertumbuhan lapak-lapak kuliner di sepenggal jalan sepanjang 500-an meter itu, terjadi sesudah zaman kemerdekaan.

”Menjelang tahun 1960-an itu mulai bertumbuhan. Awalnya warung kopi saja, terus kosong. Setelah itu mulai ramai bertumbuhan lapak lainnya, ada warung bakmi, soto, dan lainlain,” papar dia kepada Suara Merdeka.

Jadi sejak zaman dulu Depok memang sudah menjadi pusat kuliner.

”Hanya saja tidak resmi, karena tidak tertata, banyak yang di trotoar. Warung kecil-kecil, lapak-lapak begitu. Apalagi kalau mulai sore, semakin banyak lapak. Depok lebih terkenal daripada Kranggan,” tambah Jongkie Tio.

Ahmad Fuad Yusuf (67), sesepuh warga yang tinggal di Jalan Baterman Besar, masih mengenang masa kejayaan itu.

”Kalau ada teman dari luar kota, pasti saya ajak makan tahu pong, yang di perempatan itu yang paling enak,” ujar dia.

Tetapi menurut Jongkie Tio, keadaan Depok makin ruwet setelah 1965.

”Mulai banyak pedagang dari luar kota,” ungkap dia.

Sementara itu pada pagi hari, Pasar Prembaen, salah satu gang di ujung barat Jalan Depok, menjadi pusat belanja kebutuhan dapur yang menyenangkan.

Dagangannya berkualitas, dengan harga yang tidak terlampau mahal. Pasar tersebut masih eksis hingga saat ini.

Sayang, pusat kuliner berupa warung tenda itu digusur atas nama keindahan kota pada pertengahan dekade 1980-an. Mereka direlokasi ke tanah lapang di dekat Jalan Telagamas, Perumahan Tanah Mas.

”Sebagian penjual tahu pong ada yang pindah ke Jalan Gajah Mada, sampai sekarang menetap di sana. Sedangkan yang di perempatan itu kembali di Depok, sampai sekarang masih buka,” ucap Ahmad Fuad Yusuf.

Menurut dia, kuliner Depok makin berkembang karena ada toko Mickey Mouse.

Suasana jadi ramai, banyak orang berdatangan, pedagang-pedagang pun memanfaatkan keramaian itu. Pusatnya dulu di kawasan yang sekarang jadi D'Cost.

”Teman-teman, pulang Semarang, kangen ya ke Depok,” tambah Ketua RWII itu.

Setelah lebih dari 20 tahun vakum, kuliner Jalan Depok bangkit lagi dengan kemunculan rumah makan-rumah makan permanen seperti Padang Plus dan D' Cost, serta kafe kopi modern. Belakangan Padang Plus tak lagi buka.

”Sampai sekarang Nasi Goreng Babad Pak Sabar masih buka, Tahu Pong Asli Perempatan, juga masih eksis hingga sekarang,” kata Ahmad Fuad Yusuf.

Sejarah Jalan Depok

Sejarah emas kuliner di Jalan Depok juga membekas di ingatan M Farchan. Pemerhati Perkembangan Kota Semarang, itu bercerita bahwa Jalan Depok menjadi pusat kuliner sebelum ada Simpanglima.

Kawasan Depok saat itu sangat strategis karena dekat dengan jalur perlintasan antara Kawasan Pecinan dan Alun-alun Semarang.

Di sekitar alun-alun, ada Pasar Johar, Pasar Yaik dengan Jalan Bojong (Jalan Pemuda). Karena jalan raya Depok sepi pada waktu malam, maka dimanfaatkan warga untuk pusat kuliner.

Pada saat itu keramaian ditandai dengan adanya beberapa gedung bioskop di Kawasan Jalan Pemuda, seperti GRIS dan Semarang Theater. Kemudian ada Gedung Bioskop Murni Theater dan Sri Indah Theater (SIT) di Jalan Gajahmada.

”Dulu pusat kuliner Depok secara spesifik untuk masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas. Habis nonton bioskop, terus makan di Jalan Depok. Kalau masyarakat ekonomi menengah ke bawah, seperti saya makan di Alun-Alun Semarang,” ujar pensiunan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang itu.

Jalan Depok telah melegendakan beragam makanan khas Semarang, seperti Tahu pong, Nasi Goreng Babat, Soto Semarangan, Ayam Goreng Semarangan. Tetapi, Depok tidak saja sebagai pusat kuliner. Menurut Farchan, Depok juga menjadi pusat interaksi kultural di Kota Semarang.

Ini yang menarik bahwa budaya pluralisme di Kota Semarang, sudah terbangun sejak dulu. Dalam catatan sejarahnya, jalan protokol pertama di Kota Semarang bukanlah Jalan Bojong.

Jalan yang kini bernama Jalan Pemuda tersebut merupakan bagian dari Jalan Raya Pos (de grote postweg). Saat itu dibangun Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1.800.

Jalan protokol pertama di Kota Lunpia adalah Koridor Gang Warung - Kranggan (KH Wahid Hasyim) - Depok. Koridor itu menghubungkan Kawasan Pecinan dengan Kampung Sekayu yang menandai perkembangan kota ke arah barat.

Sejak zaman Belanda, koridor Gang Warung - Kranggan - Depok dikenal sebagai pusat perdagangan. Mulai dari perhiasan emas, kain, sepeda, hingga perabot rumah tangga dijual di sana. Namun hal itu tak membuat kuliner jalan Depok lantas mati.

Warung makan dan rumah makan yang menempati bangunan permanen justru bermunculan. Menunya pun multi kultural, dari tahu pong, nasi kebuli, nasi rames, sate ayam hingga masakan Padang. (Hendra Setiawan, Eko Edi, M Arif Prayoga-48)