• KANAL BERITA

Kuliner Depok Kelas Premium

Pedagang Wajib Jalani Uji Rasa

SM/ Maulana M Fahmi  -  SENTRA KULINER : Sejumlah warga menikmati sajian kuliner di rumah makan kawasan Jl Depok semarang, kemarin. (48)
SM/ Maulana M Fahmi - SENTRA KULINER : Sejumlah warga menikmati sajian kuliner di rumah makan kawasan Jl Depok semarang, kemarin. (48)

SEMARANG - Menu makanan yang dijajakan di Festival Kuliner Depok didominasi makanan khas Semarang. Yang lebih penting lagi, menu makanan itu telah lolos dalam uji rasa dan berstandar kelas premium.

Terjaring sebanyak 75 tenan yang siap memanjakan lidah penggemar kuliner di kegiatan tersebut.

Lurah Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Enyarti mengatakan, bahwa ide untuk membangkitkan kuliner di Depok berangkat dari keprihatinan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi terhadap kawasan Depok yang makin sepi.

”Muncullah ide untuk mengembangkan Jalan Depok, di antaranya dengan menghadirkan kembali kuliner di Depok. Awalnya ada 15 PKL dan 9 food truck, kemudian berkembnag menjadi 50 PKL, sekarang ada 75 tenan. Tapi kami meminta agar PKL yang telah ada di sini tetap diizinkan berjualan,” tutur Enni.

Ia menambahkan, sebelum menjadi pengisi stan kuliner, mereka telah menjalani uji rasa dulu.

”Harapannya, nanti jika orang datang ke Kota Semarang, kalau cari makanan yang paling enak ke Depok. Jadi di sini menjual makanan khas Semarang kelas premium, tidak asal-asalan,” tambah Lurah Kembangsari yang membawahi wilayah Jalan Depok itu.

Pada tahap awal, Kuliner Jalan Depok, buka setiap Sabtu-Minggu.

”Jalan Depok itu kan ada lima lajur. Nanti tiga lajur khusus untuk pedagang, satu lajur dibuka untuk lalu lintas kendaraan, dan satu lajur untuk parkir,” jelas Enny.

Namun dia mengingatkan, tidak ada yang boleh berjualan di atas trotoar. ”Trotoar tetap sebagai jalur pedestrian,” tandas dia.

Kiai Terkenal

Ruas jalan Depok, menurut Jongkie Tio, sejak Inggris menduduki Kota Semarang pada 1811 sudah terkenal sebagai pusat perdagangan.

Cikal bakal nama ”depok” adalah, karena pada zaman dahulu ada seorang kiai terkenal yang memimpin sebuah pesantren dan memiliki banyak pengikut.

”Di sana mereka berdiam pada suatu kompleks bangunan yang biasa disebut Padepokan. Dari cerita itu kemudian daerah tersebut diberi nama Depok,” tutur Jongkie Tio.

Sementara itu, Asisten II Bidang Administrasi Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Semarang, Widoyono mengatakan, ke depan kegiatan tersebut akan rutin diselenggarakan.

Masyarakat tidak perlu khawatir lokasi paskir. Panitia, menurut Widoyono, menyediakan dua tempat, yaitu sisi timur Jalan Depok untuk parkir roda empat, dan sisi barat khusus untuk roda dua.

Festival Kuliner Depok ini, menurut dia, menjadi uji coba. Jika berhasil menarik wisatawan dan meningkatkan kesejahteraan serta perekonomian masyarakat, maka terbuka kemungkinan digelar di lokasi lain.

”Jadi, badan jalan tidak digunakan seluruhnya. Namun, ada jarak sekitar 50 meter di sisi barat dan sisi timur Jalan Depok, diberi ruang kosong untuk parkir pengunjung. Demi ketertiban kegiatan, mereka tidak diperkenankan mengendarai kendaraannya dan berhenti di depan tenan-tenan tersebut,” jelas Widoyono. (ekd, K18-48)