KPK Panggil Komisioner dan Staf KPU

Harun Masiku Dipastikan di Indonesia

JAKARTA -Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil komisioner dan staf Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR.

Kemarin, KPK mendalami pengetahuan saksi Kasubag Persidangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riyani terkait tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) para Komisioner KPU. ”Hari ini, kami memanggil saksi salah satu kasubag di KPU. Materi pemeriksaannya masih seputar tentang tugas-tugas di KPU, secara normatif tugas-tugas komisionernya seperti apa kemudian tugas-tugas di KPU seperti apa,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (22/1).

KPK memeriksa Riyani dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap terkait penetapan anggota DPR RI terpilih Tahun 2019-2024 untuk tersangka Saeful (SAE) dari unsur swasta. Lebih lanjut, Ali menyatakan lembaganya memastikan akan kembali memanggil saksi-saksi lainnya untuk dibutuhkan keterangannya dalam penyidikan kasus tersebut.

”Untuk saksi-saksi berikutnya tentu kami akan memeriksa sejumlah saksi ke depan, siapa orangnya belum bisa kami informasikan. Yang jelas siapa pun yang mengetahui, melihat, dan merasakan langsung terkait dengan perbuatan para tersangka ini dipastikan kami akan memanggil, siapa pun,” ucap Ali.

Telah Menerima

Komisioner KPU Hasyim Asy’ari menyatakan telah menerima surat panggilan KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi pada Jumat (24/1). Ali kemarin juga mengungkapkan, pihaknya berharap agar politisi PDI Perjuangan Harun Masiku segera tertangkap. Tersangka kasus suap pergantian antar waktu (PAW) itu disebut Ditjen Imigrasi telah berada di Jakarta, sejak 7 Januari 2020. ”Kami berharap tersangka HAR dapat segera ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada yang bersangkutan untuk bersikap kooperatif kepada penyidik KPK saat nanti menjalani segala proses hukum. ”Tidak hanya membantu penegak hukum tetapi nantinya pada tingkat persidangan juga akan dapat dipertimbangkan sebagai alasan meringankan hukuman yang bersangkutan,” ujarnya. Sebelumnya,

Ditjen Imigrasi Kemenkumham memastikan bahwa tersangka penyuap mantan Komisione KPU, Wahyu Setiawan itu sudah berada di Indonesia. Harun Masiku berangkat ke Singapura pada 6 Januari 2020 dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia, dan kembali lagi ke Indonesia pada 7 Januari 2020. Lebih lanjut Ali mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk mencari dan menangkap Harun.

”Intinya, KPK telah mendalami semua informasi yang kami terima sehingga selama ini informasi dari imigrasi hanyalah salah satu sumber informasi KPK, ini karena terkait dengan hubungan antar institusi yang selama ini berjalan dengan baik,” tuturnya.

Sejak Senin (13/1), kata dia, pihaknya pun telah mengirimkan surat permintaan pencegahan ke luar negeri untuk tersangka Harun kepada imigrasi dan sudah ditindaklanjuti.”Disamping itu juga dilanjutkan pula dengan permintaan bantuan penangkapan kepada Polri dan ditindaklanjuti dengan Daftar Pencarian Orang,” ujar Ali. Dalam kasus itu, KPK menetapkan empat orang tersangka.

Selain Harun dan Wahyu, dua tersangka lainnya adalah mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina (ATF), dan staf Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto, Saeful Bahri.(K32-56)