PENYANDERAAN

Bocah 11 Tahun Turut Disandera

KENDARI - Kelompok bersenjata Abu Sayyaf dikabarkan menyandera lima warga negara Indonesia (WNI), Kamis (16/1).

Satu dari sandera itu bernama Moh Khairuddin (11), warga Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Paman Khairuddin, La Sambo, mengaku mendapat kabar penyanderaan keponakannya dari ayah korban, La Yai.

Menurut La Sambo, keluarga mengetahui Khairuddin disandera kelompok teroris yang berafiliasi dengan Islamic State (IS) itu saat La Yai menelepon dua hari lalu.

Informasi yang diperoleh, Khairuddin ikut pamannya, Arsyad Dahlan, pergi melaut. Arsyad, kata Sambo, merupakan nakhoda kapal tersebut.

“Adik saya ini (La Yai) sudah lama di Sandakan (Sabah, Malaysia). Mereka bekerja di perusahaan kapal ikan. Dua tahun lalu, Khairuddin ditinggalkan ibunya (cerai dengan suami). Sekarang keponakan saya itu tinggal bersama pamannya,” bebernya. Ia menyebut di perusahaan itu banyak orang Wakatobi yang dipekerjakan.

“Jadi, adik saya La Yai dan iparnya itu satu perusahaan. Namun, pada saat melaut, mereka beda kapal. Jadi, saat bapaknya pulang ke dermaga, dia menanyakan anaknya, ternyata ikut pamannya dan mereka sama-sama disandera,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah membebaskan para sandera dari sekapan kelompok bersenjata yang kerap menebar teror di perairan Malaysia dan Filipina itu.

Berdasarkan informasi, ada sembilan orang dalam kapal yang dibajak Abu Sayyaf. Tiga orang dibebaskan, enam lainnya disandera.

Mereka adalah Moh Khairuddin (11) asal Wakatobi, Arsyad Dahlan (41) asal Kabupaten Buton, La Baa (32) dari Baubau, Riswanto Hayano (27) dari Palopo, Sulawesi Selatan, Edi Lawalopo (53) dari Buton, dan Syarizal Kastamiran (29) asal Wakatobi.

Sementara tiga orang yang dilepas adalah Abdul Latif dari Wakatobi, Pian dari Buton dan Daeng Abal dari Baubau.

Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan, pihaknya tengah berupaya membebaskan sandera dan mencari solusi atas permasalahan ini bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. (cnn-19)