Menjaga Eksistensi Kampung Kuno

Lurah Sekayu

SM/dok  -  KERJA BAKTI : Lurah Sekayu, Budi Raharjo, bersama warga rutin kerja bakti, seperti membersihkan saluran atau taman. (48)
SM/dok - KERJA BAKTI : Lurah Sekayu, Budi Raharjo, bersama warga rutin kerja bakti, seperti membersihkan saluran atau taman. (48)

BERADA di pusat Kota Semarang, posisi Kelurahan Sekayu, Kecamatan Tengah, sangat strategis. Wilayah kelurahan dengan luas 56,882 hektare itu membentang dari Tugumuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Piere Tendean, Jalan Tanjung, Jalan Thamrin, Jalan Inspeksi , hingga kawasan Lawang Sewu.

''Posisinya sangat strategis, segi tiga emas. Kawasan ring satu Semarang, sehingga wajar jika menjadi pusat perdagangan dan jasa. Di sini komplet, ada Balai Kota, gedung Lawang Sewu, mal, kantor, dan hotel,'' papar Lurah Sekayu, Budi Raharjo.

Posisi itu membuat kawasan yang terdiri atas 3 RWdan 20 RTitu, menjadi incaran investor.

Banyak perkampungan yang kemudian berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hotel.

''Contohnya di RT 1 RW I sudah tidak ada lagi. Jadi langsung RT 2,'' ungkap mantan pegawai Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) pada 1993- 2005 itu.

Lurah yang pada rentang 2005-2015 bertugas di Satpol PP Kota Semarang itu menyadari bahwa kecenderungan itu lambat laun bisa membuat Kampung Sekayu tinggal nama. Saat ini, kantor kelurahan diapit lahan yang dikuasai investor.

''Tapi sekarang sudah muncul kesadaran warga untuk nguri-uri peninggalan orang tua. Kami pertahankan eksistensi Kampung Sekayu, jangan sampai seperti Kampung Jayenggaten yang tinggal nama,'' lanjut mantan kepala Seksi Trantib Kecamatan Semarang Tengah itu.

Sebagai Lurah Sekayu sejak Januari 2017, Budi semakin menyadari bahwa wilayahnya merupakan kawasan bersejarah.

''Sekayu ini kampung kuno. Banyak rumah khas Semarang tempo dulu. Kami juga punya masjid kuno, Masjid Taqwa yang dibangun tahun 1413,'' terang lelaki kelahiran Boyolali, 28 Juni 1968 itu.

Sejarahnya, menurut dia, wilayah berpenduduk 3.6000-an jiwa itu, merupakan tempat persinggahan orang zaman dulu ketika membangun Masjid Demak.

''Kayunya kan cari dari Gunungpati, Goa Kreo, diikat-ikat, dihanyutkan. Lewat Kali Semarang, dikumpulkan di sini. Karena itulah dinamakan Sekayu. Mereka beristirahat di sini, dan membangun masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Taqwa,'' sambungnya.

Suami dari Eni Lestari itu mengatakan, salah satu kepedulian terhadap kelestarian Kampung Sekayu, warga membuat Kampung Tematik Wisata Religi Masjid Taqwa Sekayu 1423.

Mereka berharap, masjid bersejarah itu menjadi daya tarik kunjungan wisata. Untuk mewujudkannya, infrastruktur pun diperbaiki.

''Kami sedang menyiapkan warga untuk melengkapi dengan toko-toko suvenir yang jual tasbih, alat sholat, dan lain-lain. Harapannya nanti ekonomi masyarakat meningkat,'' lanjut pria yang tinggal di Ungaran itu.

Ia mengatakan, upayanya untuk mengenalkan heritage sejarah di Sekayu masih dalam tahap rintisan.

''Masih jauh, mungkin kepada lurah-lurah selanjutnya ini baru terwujud. Sekarang kami terus mengenalkan heritage Sekayu. Saya juga minta anak-anak muda lewat Karang Taruna untuk mengenalkan heritage di Sekayu lewat media sosial,'' katanya.

Di Sekayu juga terdapat rumah peninggalan penulis terkenal NH Dini. (Eko Edi Nuryanto-22)