Komunitas Kresek Kudus

Bagikan Beasiswa dari Hasil Mengelola Sampah

SM/Saiful Annas  -  SUSUN PROGRAM : Anggota Komunitas Kresek Indonesia menyusun program di Rumah Gunadi Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (55)
SM/Saiful Annas - SUSUN PROGRAM : Anggota Komunitas Kresek Indonesia menyusun program di Rumah Gunadi Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (55)

Sampah hingga jelantah (minyak goreng sisa-Red) di tangan anak-anak muda anggota Komunitas Kresek Indonesia tak hanya menghasilkan uang. Dari barang sisa itu, mereka menggulirkan beasiswa lingkungan. Seperti apa?

DUDUK melingkar di ruang tamu Rumah Gunadi, Faesal Adam (26) dan Amalia Zulfiana Rochman (24), saling bertukar gagasan dengan belasan anak muda yang hadir, Minggu (12/1) siang.

Selingan guyonan khas anak muda membuat diskusi siang itu, semakin gayeng. Di saat anak seusia mereka asyik berlibur, siang itu mereka justru sibuk berdiskusi.

Rumah Gunadi yang berada di Gang Jambu No 85 RT 5 RW 1 Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu memang menjadi markas bagi berbagai komunitas anak muda di Kabupaten Kudus.

Termasuk Kresek (Kreasi Sampah Ekonomi Kota) Indonesia. Adam dan Lia, begitu pasangan muda suami istri itu biasa disapa, dan seluruh anggota Komunitas Kresek rutin berkumpul di Rumah Gunadi.

Belakangan ini, mereka tengah disibukkan menyusun berbagai program kegiatan. Rencananya, mereka akan menggelar kegiatan Hari Peduli Sampah, Februari mendatang. A-Z detail acara pun dibahas.

Di sela menyiapkan acara itu, anggota Kresek juga menggulirkan program beasiswa peduli lingkungan. Beasiswa itu diberikan kepada pelajar setingkat SMA sederajat, yang terpilih melalui serangkaian seleksi.

Mereka yang lolos seleksi bakal menerima beasiswa dengan nilai total Rp 2 juta selama dua semester. Tak hanya memberikan uang, para penerima beasiswa juga akan mendapat pelatihan (soft skill) untuk membentuk karakter peduli lingkungan.

”Kami ingin beasiswa ini tidak sekedar diberikan, tetapi juga bisa memantik kepedulian anak-anak muda terhadap lingkungan,” kata Adam, pendiri Kresek Indonesia.

Ditambahkannya, akan ada lima anak SMA sederajat yang akan menerima beasiswa ini. Yang menarik, uang beasiswa ini berasal dari hasil pengelolaan bank sampah milik Kresek.

”Sebagian juga berasal dari para donatur yang sifatnya tidak mengikat dan sedekah sampah dari masyarakat umum,” jelasnya.

Sedekah sampah yakni program Kresek yang melibatkan warga. Mereka mengajak warga menyedekahkan sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomi.

Adam mencontohkan, sampah seperti botol, kardus, hingga jelantah. Minyak goreng sisa itu saat ini memiliki nilai jual cukup tinggi.

”Kami telah meneken MoU dengan salah satu rumah sakit. Minyak jelantah mereka kami tampung melalui program sedekah sampah ini. Hasilnya digulirkan untuk beasiswa,” ucapnya.

Sebelumnya, Adam dan Lia mendirikan Bank Sampah di kampungnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seiring bergulirnya program beasiswa itu, Kresek berencana membangun bank sampah di Rumah Gunadi.

”Bank sampah yang di rumah saat ini sudah dikelola mandiri oleh warga. Harapan awal kami memang begitu, warga yang mengelolanya. Hasilnya mereka sendiri yang mengaturnya,” katanya.

Permasalahan Lingkungan

Kresek Indonesia merupakan komunitas sosial yang fokus pada permasalahan lingkungam terutama persoalan pengelolaan sampah.

Selain di Kudus, Kresek juga aktif berkegiatan di Surakarta. Kresek Solo senditi dibentuk Lia saat masih kuliah di UNS. Kresek terbentuk pada 27 September 2015 di Kudus.

Mereka rutin menggelar edukasi dan aksi lingkungan, sedekah sampah, bank sampah, hingga program pemberdayaan. Output hasil pengelolaan sampah oleh Kresek salah satunya diwujudkan dalam bentuk beasiswa lingkungan.

”Tak perlu menjadi organisasi besar untuk bisa menyalurkan beasiswa. Dari pengelolaan sampah pun kami bisa menyalurkan beasiswa, sekaligus mengajak penerima peduli lingungan,” pungkasnya.

Koordinator Program Beasiswa Juli Utami menuturkan, program beasiswa tahun sebelumnya disalurkan untuk anak usia sekolah dasar (SD).

Namun dari evaluasi internal, program itu kemudian dialihkan untuk anak SMA sederajat. Beasiswa itu pun tidak secara khusus diberikan hanya untuk siswa miskin saja.

”Mau miskin atau mampu, jika memiliki empati dan kepedulian terhadap lingkungan, bisa bergabung di program beasiswa ini,” katanya.

Juli menambahkan, selain beasiswa dalam bentuk uang yang diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan, penerima juga mendapat program soft skill. Mereka diajak belajar menulis, edukasi lingkungan, hingga praktik dari teori yang didapat selama program.

”Setelah nanti program selesai, mereka pun bisa mendaftar program beasiswa lagi. Jika pun ada syarat khusus, mungkin calon peserta wajib memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” ucapnya.

Dengan program ini, Juli berharap semakin banyak anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan, sekaligus bisa merampungkan sekolahnya.

”Meski pun nanti tidak bergabung di Kresek, minimal dengan pengalaman dan pengetahuan yang didapat selama program, mereka bisa aktif di kelompok lingkungan lainnya,” katanya. (Saiful Annas-64)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar