Anak Muda Harus Ubah Sudut Pandang soalWirausaha

SM.doc
SM.doc

Genap berusia 26 tahun, UKM Koperasi Mahasiswa Bahtera Manunggal Politeknik Negeri Semarang (Polines) menggelar Dies Natalis dengan tema "Solidarity in Diversity". Acara yang berlangsung pada Sabtu (11/1) sejak pukul 08.00-15.00 WIB itu terdiri dari serangkaian acara, yakni seminar dan lomba esai nasional.

Dalam seminar yang berlangsung di Auditorium Polines itu, UKM Kopma BM menggandeng Nourrobby Aulada sebagai pemateri pertama. Dengan topik "Improve Your Mind and Creativity to be Competitive Entrepreneurs in Digital Era", Robby buka-bukaan bercerita soal rahasia bisnisnya. Sedari awal, pemilik Bebek Betutu dan Garasi Mobil Semarang itu tidak ingin mencitrakan bahwa berwirausaha itu mudah. "Berbisnis itu justru sulit dan penuh tantangan, apalagi jika dilakukan di usia muda seperti saya," kata Robby. Robby mendirikan Bebek Betutu tujuh tahun lalu saat ia berumur 17 tahun. Di usia sebelia itu, demi mengembangkan bisnisnya, banyak hal yang ia korbankan.

Yang paling terasa ialah ketiadaan waktu untuk nongkrong bersama teman dan kuliah jadi keteteran. Meski begitu Robby tak menyesal. Ia justru bangga karena di usia muda bisa bertahan jadi pengusaha. "Setidaknya di usia 30 atau 35 tahun, saya ingin bisa bersantai dan menikmati waktu dengan keluarga. Itu sebabnya saat ini saya sekuat tenaga mengelola bisnis yang ada," tuturnya. Atas banyaknya pengangguran saat ini, Robby meminta untuk tidak mengkambinghitamkan pendidikan dan pemerintah. Pasalnya, masalah pengangguran bisa diberantas jika seseorang mengubah pola pikir. Misalnya dengan tidak melulu bercita-cita jadi karyawan, melainkan berani mendirikan usaha dan bertindak sebagai bos.Menyoal era digital, Robby mengaku mendapat banyak kemudahan untuk melakukan inovasi dan promosi melalui media sosial. Di luar itu, ia tidak lupa melakukan strategi lama, yakni terus mengembangkan relasi. Dan yang terpenting, ia tetap menomorsatukan prinsip berdagangnya sejak dulu: amanah dan bisa menjaga kepercayaan orang lain.

Cara Pandang

Narasumber lain dalam seminar kemarin ialah dr Tirta Mandira Hudhi. Senada Robby, Tirta juga sepakat bahwa anak muda harus mengubah cara pandang tentang kesuksesan. Sudah tidak masanya hanya bergantung pada apa yang didapat di kampus. Lebih dari itu, tiap individu bertanggungjawab atas kesuksesan masing-masing. "Mahasiswa harus pintar memanfaatkan waktu. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia untuk hal tidak berguna," pesan Tirta.Dokter yang juga pengusaha Shoes and Care itu mengisi seminar dengan bahasa gado-gado antara Indonesia dan Jawa. Gayanya yang santai dan penjelasannya yang kerap disisipi humor membuat 170-an peserta seminar sering tergelakgelak.

Selain Tirta dan Robby, UKM Kopma BM juga mengundang pendiri dan CEO Innocircle Anis Sa'adah. Anis banyak membahas soal perusahaan startup. Lantaran tengah naik daun, bisnis rintisan bisa jadi peluang menjanjikan jika digarap secara profesional.Di waktu yang sama, seminar tersebut dibarengi dengan lomba esai nasional. Dengan tema "Optimalisasi Peran Milenial dalam Menghadapi Tantangan Global Menuju Indonesia Emas 2045", peserta yang berasal dari pelbagai universitas di Indonesia itu bisa memilih tiga subtema, yaitu teknologi, ekonomi, dan sosial budaya. Pengumpulan esai telah ditutup sejak awal Desember 2019. Adapun 10 peserta terbaik diumumkan pada akhir Desember lalu. Ke-10 finalis tersebut lantas mempresentasikan hasil esainya pada Sabtu (11/1). Dari hasil presentasi tersebut keluar kelompok Faizal Muhammad Zubair dari Universitas Brawijaya sebagai juara I, kelompok Aqil Alifian dari Polines sebagai juara II, dan juara III diraih oleh kelompok Aris Ariyanto dari Polines. Di penghujung Dies Natalis tersebut UKM Kopma BM mewadahi sesi Temu Keluarga Kopma. Harapannya, acara itu bisa menjadi ajang silaturahmi bagi para pegiat koperasi mahasiswa. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Komentar