• KANAL BERITA

BBKB Yogyakarta Ciptakan Batik Antibakteri

Aplikasikan Nanopartikel, Awetkan Koleksi

SM/Gading Persada  -  MELIHAT BATIK : Pengunjung melihat batik antibakteri hasil penelitian Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta di kantor BBKB, Jumat (17/1). (55)
SM/Gading Persada - MELIHAT BATIK : Pengunjung melihat batik antibakteri hasil penelitian Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta di kantor BBKB, Jumat (17/1). (55)

Sejumlah inovasi terus dikembangkan para peneliti di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta. Salah satunya, lembaga di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) itu menciptakan batik antibakteri.

BATIK merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang telah diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity dari Indonesia.

Batik telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu.

Masyarakat menggunakan batik untuk berbagai keperluan, mulai dari proses kelahiran bayi sampai upacara kematian.

Batik juga digunakan dalam berbagai hal, antara lain seprei, sarung bantal, taplak meja, dan pakaian resmi di instansi maupun sekolah.

"Dengan intensitas pemakaian yang tinggi, diperlukan batik yang bersifat antibakteri. Batik antibakteri juga diperlukan untuk koleksi agar awet dalam penyimpanannya,'' ungkap Kepala BBKB Titik Purwati Widowati setelah membuka perkenalan batik antibakteri di kompleks perkantoran BBKB, Jumat (17/1).

"Penelitian kami lakukan sejak 2019 dan baru bisa diperkenalkan awal tahun ini, yaitu batik antibakteri,'' tutur Titiek.

Lantas, bagaimana proses batik antibakteri dibuat? Titik mengungkapkan, batik antibakteri dibuat dengan mengaplikasikan oksida logam nanopartikel seng oksida (ZnO) pada kain sebelum atau setelah proses pembatikan.

Prosesnya, kain dicelupkan di larutan ZnO kemudian diperas dengan alat padder. Kain kemudian dikeringkan dengan pemanas suhu 80 derajat Celcius selama 5 menit.

Proses dilanjutkan dengan pemanasan di suhu 140 derajat Celcius selama 3 menit dengan alat stenter.

"Setelah itu, kain baru dibatik hingga rampung,'' ungkap Titiek.

Aplikasi nanopartikel ZnO juga dapat dilakukan setelah proses pembatikan keseluruhan atau untuk batik yang sudah jadi.

Aplikasi nanopartikel ZnO sebelum proses pembatikan dapat meningkatkan serapan warna dengan zat warna alam.

Dengan kata lain, nanopartikel ZnO selain memberikan sifat antibakteri juga dapat digunakan sebagai pengikat warna.

''Produk batik yang telah diaplikasi nanopartikel ZnO diuji dengan metode plate test . Terbukti batik mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus," tandasnya. (Gading Persada-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar