Tak Ingin Kecewakan Warga

Lurah Bulustalan

SM/Eko Edi  -  Sri Daryani
SM/Eko Edi - Sri Daryani

Saat menjabat Lurah Bulustalan, Kecamatan Semarang Selatan, pada 13 September 2019, Sri Daryani masih dalam masa pemulihan cedera kaki. Kedua kakinya patah akibat terpeleset. ''Pada 3 September saya jatuh, pada 5 September mantu. Saya ndak bisa ndampingi di pelaminan,'' ungkap perempuan yang 24 tahun bertugas di Kelurahan Mugassari.

Sepulang dari rumah sakit pada 10 September, keesokan harinya ia dapat telepon akan dilantik sebagai Lurah Bulustalan. ''Sakit membawa berkah, mau naik pangkat diuji dulu dengan sakit'' ujar perempuan yang empat tahun menjadi sekretaris lurah Mugassari itu. Praktis perempuan asli Semarang, kelahiran 27 Mei 1968 itu belum bisa bekerja maksimal.

''Tapi saya didukung staf, kasi, dan sekretaris lurah yang bisa bekerja sama. Tanpa kerja sama dan dukungan mereka, tidak jalan. Jadi meskipun saya sakit pelayanan tetap jalan,'' tandas ibu tiga anak itu. Kadang, kalau ada surat yang harus ditandatangani, dibawa sekretaris lurah.

''Anak saya tinggal ambil di rumahnya. Kebetulan rumahnya di Klipang, dekat dengan rumah saya,'' kata perempuan dan keluarganya yang tinggal di Pucang Gading itu. Itulah yang kini diterapkan di Bulustalan, agar tidak mengecewakan warga.

''Saya bilang kepada staf kalau saya tidak ada di tempat, jangan langsung bilang lurahnya tidak ada, tanya dulu keperluannya apa, minta nomor teleponnya, biar bisa dihubungi kembali,'' kata ibu dari Fitri, Riris, dan Yuyun itu. Wilayah Kelurahan Bulustalan, kecil. Hanya 30-an hektare, terdiri atas 4 RW dan 31 RT dengan penduduk 4.000-an orang.

Rata-rata penduduknya dari kelas menengah ke bawah. Kawasan perniagaan berada di sepanjang Jalan Soegijapranata. Adapun di Jalan Basudewa banyak usaha mebel dan kayu. Lewat kampung tematik ''Upakarya'' warga mengembangkan aneka usaha, dari kuliner hingga mebel.

''Banyak warga yang berjualan, apalagi hampir di tiap gang ada warung. Banyak tempat indekos, jadi lumayan hidup ekonominya, baik dari sewa kamar hingga jualan makanan,'' ucap perempuan yang di masa kecilnya tinggal di kawasan Kabluk itu.

Lubang Biopori

Istri Margana itu, berusaha menyambangi warga. Namun belum semua RW dia sambangi. Fisiknya belum fit seratus persen. ''Kita kumpul dengan mengundang rapat RT, RW, karang taruna. Atau kalau diundang saya usahakan datang.

Dulu ketika ada isu bakar-bakaran, sampai dini hari lihat wilayah,'' imbuh Sri yang juga menyempatkan hadir mengikuti pemilihan ketua RW yang bertepatan dengan malam tahun baru. Rumahnya yang jauh dari kantor, membuat dia sering membawa baju ganti lebih dari satu.

''Kalau ada acara, atau tugas malam, lebih baik bawa baju ganti. Hemat tenaga, daripada harus pulang ke Pucanggading. Dulu saya kadang diantar anak atau pakai taksi online.

Sekarang sudah bisa naik motor sendiri, tapi motor matic,'' ujar perempuan yang lebih suka jika warga atau stafnya bicara langsung padanya daripada ngomong di belakang. Bulustalan, sekalipun wilayahnya kecil, terlihat lapang. Penataan gang-gang yang rapi, membuat wilayah tampak gilar-gilar, tidak kumuh.

''Di sini juga tidak banjir, kalau pun ada genangan, sedikit dan cepat hilang. Kemarin sempat ketar-ketir ketika air di Banjir Kanal Barat hampir menyentuh bibir tanggul,'' kata nenek dua cucu itu. (Eko Edi Nuryanto-48)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar